I Hated My Boss

I Hated My Boss
L I M A



Karena merasa kalau obrolan mereka berdua tak akan jauh-jauh dan tetap berhubungan pada perusahaan, Nikita yang memang tidak ada sangkut-pautnya akan hal itu pun memutuskan untuk segera menuju kamarnya yang ada di lantai dua dari rumah mewah ini. Namun sayangnya, ketika hendak kedua kaki melangkahkan naik ke anak tangga, sang ayah memanggil namanya dengan begitu lantang. Rasanya seakan Tuan Ryan sangat ingin kalau putri semata wayangnya itu bergabung dalam obrolan.


Perlu diketahui kalau Nikita sama sekali tidak tertarik pada urusan bisnis. Iya, gadis itu memiliki hal lain yang sudah menjadi daya tariknya. Modeling dan fashion, Nikita begitu tertarik akan dunia itu dan nantinya sangat ingin menjadi seorang designer terkenal yang bisa seperti Coco Chanel.


"Kenapa ayah?" Nikita tetap menyahuti panggilan dari sang ayah. Ini hanya sebagai bentuk kalau ia memang masih menghormati ayahnya, terlepas dari semua tindakan nakalnya.


"Jangan ke kamar dulu! Gabung sini dulu. Ayah perlu kamu untuk melakukan satu hal," kata sang ayah dan dengan mudahnya langsung di turuti oleh gadis itu.


Ya, walaupun Nikita tak sepenuhnya ingin bergabung dalam obrolan membosankan itu, ia tetap saja datang dan ikut megambil tempat duduk persis di samping sang ayah. Entah mengapa sekarang ini, firasat Nikita tiba-tiba menjadi kurang enak.


"Sayang, kamu tadi sudah sempat berkenalan dengan Satya?" Tanya sang ayah yang berubah menjadi baik, setelah tadi sempat membuat telingaku memerah.


"Iya, sudah," jawabku singkat.


"Bagaimana menurutmu? Apakah Satya orang yang baik?" Tanya sang ayah yang berhasil membuat Nikita tersenyum karena mengingat uang lima puluh juta yang sekarang ini sudah masuk di rekeningnya.


Bagi Nikita sekarang, Satya adalah seseorang yang baik. Kenapa? Karena hanya dia saja satu-satunya orang yang bisa memberikan uang sebegitu banyak tanpa adanya syarat apapun. Terlepas dari semua tindakan Satya yang tadi juga sempat membuat Nikita merasa kesal.


"Iya dia baik," jawab Nikita sambil terus memikirkan uang lima puluh juta itu.


"Apa kamu menyukainya?" Tanya sang ayah seketika membuat Nikita melupakan tentang uang kiriman itu.


"Maksud ayah?" Sangat wajar kalau Nikita terkejut dengan pertanyaan yang barusan keluar dari mulut sang ayah.


"Apa kamu menyukainya?" Sang ayah mengulang pertanyaannya.


"Kenapa ayah tiba-tiba bertanya soal itu?" Nikita bertanya curiga.


"Jadi begini sayang, ayah sudah membicarakan semuanya dengan keluarga dari Satya tentang niat—" belum usai dengan kalimatnya, Nikita secara tak terduga langsung saja memotong pembicaraan itu.


"Ayah berniat apa? Jangan bilang?!" Nikita sudah punya perkiraan, tapi ia mencoba untuk berpikir positif kalau sang ayah tak mungkin akan menjodohkannya dengan Satya.


"Ayah berniat untuk menjodohkan mu dengan Satya," kata Tuan Ryan melanjutkan perkataannya yang tadi sempat terpotong.


"Apa ibu tahu soal hal ini?" Tanya Nikita mencoba mencari tahu kalau perjodohan itu tak dibuat secara sepihak saja.


"Ayah sudah memberitahu. Sebenarnya pembahasan ini sudah begitu lama dilakukan, hanya saja baru sempat untuk memberitahu kamu sekarang," kata sang ayah terlihat bersungguh-sungguh.


Firasat dan perkiraan Nikita kali ini benar dan sesuai. Tahu kalau dirinya mau dijodohkan dengan laki-laki bernama Satya, yang saat ini hanya bisa duduk dalam diam, sanggup memancing rasa amarah dalam diri Nikita. Bukan tanpa sebab, hanya saja Nikita merasa masih sanggup untuk mencari laki-laki. Tak perlu sampai dijodohkan seperti ini, kalau waktunya sudah tepat Nikita juga akan menikah.


"Melihat cara kamu bergaul dengan orang, ayah hanya khawatir kalau kamu memilih seorang pria yang salah," jawab sang ayah dan anehnya itu membuat Nikita tertawa lebar.


"Apa sekarang ayah sedang mencoba untuk menghakimi cara bergaul ku?" Nikita sedikit tersinggung karena dinilai tak akan mendapatkan laki-laki yang tepat hanya karena selama ini Nikita lebih senang bergaul dengan siapa saja, tanpa memikirkan status ataupun hal lainnya.


"Kamu itu anak perempuan satu-satunya dan kesayangan ayah. Sangat wajar kalau ayah begitu mengkhawatirkan soal pasangan. Selama ini ayah selalu memberikan yang terbaik untuk kamu," kata sang ayah menyampaikan segala perasaan yang selama ini selalu ditakutkan nya. Memiliki seorang anak perempuan yang baru beranjak pubertas itu benar-benar sulit. Rasanya seperti sedang berjalan di atas ladang ranjau yang kapan saja bisa meledak.


"Ya, tapi gak harus dijodohkan juga," Nikita memang sudah begitu menolak tentang perjodohan ini.


"Sekarang Nikita tanya, darimana ayah bisa tahu kalau laki-laki itu baik? Bagaimana cara ayah menilai kalau dia adalah seorang yang tepat buat aku?" Nikita benar-benar memberikan protes keras.


Di zaman yang sudah begitu modern ini, bagaimana bisa masih ada sebuah perjodohan? Pada saat banyak sekali aplikasi untuk dating, kenapa ayahnya selalu berpikiran kuno seperti ini? Mau dipaksa bagaimanapun, Nikita akan tetap menolak perjodohan ini. Benarkah?


"Ayah sudah mengenal Satya selama sepuluh tahun. Jadi, ayah tahu dan yakin kalau dia adalah seseorang yang baik," kata sang ayah memberitahu kenyataan.


Merasa kalau sudah tidak berguna untuk berbicara kepada sang ayah, Nikita kini beralih. Bukan bermaksud menganggu, hanya saja Nikita tengah berusaha membuat laki-laki itu agar mau mengabaikan soal perjodohan ini.


"Sekarang gue tanya sama lo. Memangnya lo mau nikah atau punya istri seperti gue? Cewek nakal yang selalu sulit untuk diatur?" Tanya Nikita terdengar sedikit kurang sopan.


"Saya bisa memaklumi sikap kamu. Di usia yang masih 18 tahun, remaja seperti kamu memang sedang berada di masa mencari jati diri," ucap Satya yang terdengar tak terlalu mempermasalahkan tentang kekurangan yang dimiliki oleh Nikita.


"Gue gak bisa masak. Gue juga gak bisa mengurus rumah dengan baik. Gue gak bersih-bersih apapun dan gue selalu ketergantungan sama ibu. Apa lo masih mau nikahin cewek yang gak pandai dalam hal apapun?" kata Nikita tak ragu untuk mengumbar semua kekurangan yang dia miliki.


"Buat saya itu tidak masalah. Lagipula saya juga tak berniat untuk membuatmu melakukan semua itu," selalu ada jawaban yang bisa diberikan oleh laki-laki itu.


Tuan Ryan yang mendengar semuanya dan merasa sudah menang pun mulai berucap kembali. Kali ini beliau hanya berniat untuk mempertanyakan keputusan dari putrinya.


"Jadi, gimana sayang? Apa kamu mau menerima perjodohan ini dan menikah dengan Satya? Kapan lagi kamu bisa mendapatkan suami terbaik seperti dia," ucap sang ayah yang anehnya terdengar seperti sebua paksaan agar Nikita mau setuju dengan perjodohannya.


Masih dalam balutan perasaan kesal, Nikita tak ragu untuk melemparkan tatapan tajam penuh amarah ke arah laki-laki bernama Satya itu.


"Di saat banyak cowok yang selalu ingin menikah dengan cewek spek bidadari, kenapa lo malah lebih mau menikah sama gue? Dasar cowok aneh! Lo itu masih waras atau udah gila?" decak kesal Nikita yang kemudian melangkah kakinya dengan terburu-buru meninggalkan mereka berdua.


Terserah mereka mau berbincang tentang apa, yang penting sekarang ini Nikita mau sendiri. Pikirannya sekarang sedang benar-benar kacau. Dia pikir setelah kelulusan, keadaan bisa jadi sedikit agak tenang, tapi nyatanya malah semakin gak karuan dengan adanya perjodohan. Kenapa sih, ayahnya pakai acara aneh-aneh segala? Tidak bisakah ia melihat Nikita sedikit bebas dengan dunianya?


Bersambung...