I Hated My Boss

I Hated My Boss
S E B E L A S



Nikita benar-benar merasa begitu pesimis mengenai mimpinya sendiri. Bukan tanpa sebab hanya saja, seseorang yang begitu ia harapkan bisa memberikan persetujuan pun lebih memilih untuk diam tanpa adanya sebuah keputusan apapun.


Merasa sudah tak memiliki hasil apapun dari pembicaraan ini, Nikita pun memutuskan untuk meninggalkan toko gelato. Akan percuma bagi dirinya untuk terap setia berada di sini. Lagipula selain membicarakan tentang itu, tak ada hal lain lagi yang ingin NIkita ungkapkan.


Masih dengan sikap galak yang menonjol, Nikita pun bergegas berajak dari tempatnya sambil tangannya tak lupa untuk membawa cup gelato yang masih tersisa setengah.


Enggan untuk berpamitan dengan baik, Nikita langsung begitu saja melangkahkan kakinya pergi menuju ke arah pintu keluar. Satya yang tahu itu pun bergegas untuk menghentikan Nikita. Bukan tanpa sebab, hanya saja Satya akan merasa bersalah jika tak mengantarkan gadis itu pulang dengan selamat.


"Nikita? Mau kemana?" Tanya Satya yang sudah berhasil menggenggam pergelangan tangan milik gadis itu dengan begitu erat.


"Mau pulang lah. Menurut lo? Ya kali mau dugem, bisa-bisa gue dapet omel lagi dari ayah," ujar Nikita sama sekali tidak membuat heran.


Perasaan tadi, ketika gadis itu memiliki sebuah keinginan, ia kelihatan begitu baik. Cara bicaranya juga terkesan santun, bahkan saat memohon ia sama sekali tak bersikap kasar, tapi kenapa setelah tidak mendapatkan hasil apapun, Nikita kembali bersikap bringas?


"Saya antar kamu pulang ya?" Kata Satya memberikan penawaran yang tentu saja akan ditolak oleh Nikita.


"Gak perlu. Gue udah gede bisa pulang sendiri," ucap Nikita sambil berusaha untuk menepiskan genggaman tangan yang dibuat oleh laki-laki bernama Satya itu.Tanpa mempedulikan apapun lagi, setelah memberikan penolakan tegas, Nikita pun berjalan begitu saja menuju pintu keluar.


Satya yang memang merasa memiliki tanggung jawab atas keselamatan dari gadis itu pun tak ingin terlalu mempedulikan soal penolakan yang diberikan. Sebelum pergi terlalu jauh, Satya pun kembali menjangkau tubuh mungil gadis itu, lalu menggendongnya secara paksa dalam gaya fireman's carry. Satya sama sekali tak bermaksud untuk membuat gadis itu merasa kurang nyaman, tapi cara seperti ini harus ditempuh hanya agar Nikita bisa sekali saja menurut dan berhenti bersikap keras kepala.


Digendong dalam posisi ini, mampu membuat Nikita memberontak. Ia bahkan tak ragu untuk memberikan pukulan pada punggung atletis milik laki-laki bernama Satya itu, sengaja dilakukan hanya agar bisa diturunkan.


Satya merasakan semua pukulan yang dibuat oleh gadis itu, namun ia berusaha untuk menahannya. Harus tetap dalam posisi begini, supaya Nikita tak bisa kabur dari dirinya.


"Lo apa-apaan sih? Kok pakai acara memaksa segala? Kan gue udah ngomong gak mau!" Protes keras Nikita yang kini telah duduk pada kursi empuk dari mobil sedan berlogo empat cincin itu.


"Kalau terjadi apa-apa sama kamu, saya gak bisa mempertanggungjawabkan nya pada Tuan Ryan," ujar Satya sambil memasangkan sabuk pengaman di tubuh gadis itu.


Tubuh Nikita memang sudah dikunci dan terbilang akan sangat sulit kalau ia berusaha untuk keluar, namun namanya juga Nikita, meksipun tahu dia tetap mencoba melepaskan diri. Masih terus keras kepala dan minta buat pulang sendiri.


"Kalau lo gak lepasin, gue teriak nih ya!" Ancam Nikita dengan berani, tapi sangat amat disayangkan, Satya tak terlalu peduli akan hal itu.


"Coba kalau berani," tantang balik Satya yang kini masih ada pada jarak paling dekat dengan posisi Nikita.


"Tolo—" belum sempat untuk melakukan itu, tiba-tiba Satya menatapnya dalam sorot mata tajam, sambil membuat sebuah ancaman balik yang sanggup membuat seorang Nikita terbelalak kesal.


"Coba saja teriak, kalau kamu memang mau mendapatkan ciuman dari saya," ujar Satya.


"Dasar om-om mesum!!!" Decak kesal Nikita yang akhirnya memutuskan untuk diam tak berani memberontak lagi. Nikita sama sekali enggan memberikan ciuman pertamanya kepada sosok laki-laki seperti Satya.


Hanya tersenyum pada sudut bibirnya, Satya yang berhasil membuat gadis itu terdiam pun mulai ikut menempatkan dirinya pada kursi kemudi. Tak ada sopir atau lainnya, sore ini Satya akan mengemudi sendiri.


...•••...


Sampai pada akhirnya, seusai menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan sendiri oleh Satya sudah terlihat berhenti tepat di garasi dari rumah mewah milik keluarga Nikita.


Nikita yang sejak tadi dalam perjalanan terus saja diam tanpa ada suara, pun mulai berusaha untuk melepaskan sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuh mungilnya. Sebenarnya Nikita bukan termasuk seseorang yang pendiam, tapi saat mengingat perkataan dari Satya, ia merasa sedikit takut untuk berbicara.


Seperti seseorang yang masih takut dengan ancaman dari Satya, Nikita hanya bisa melemparkan sorot mata tajam untuk merespon perkataan dari laki-laki itu. Sudahlah, sekarang ini ia hanya ingin segera keluar dari mobil. Terlalu berlama-lama dengan Satya, malah semakin membuatnya merasa kurang aman dan nyaman. Takut kalau tiba-tiba lelaki itu serius pada ancamannya.


Nikita mencoba mempercepat jemari tangannya, agar bisa segera melepaskan kaitan pada sabuk pengamannya. Tidak seperti biasanya, Nikita terlihat begitu kesulitan untuk membuka sabuk pengaman itu. Satya yang melihatnya pun mulai memberikan bantuan.


Tanpa permisi dan keraguan, Satya mulai mendekatkan dirinya ke arah Nikita, kemudian membantu gadis itu untuk melepaskan kaitan pada sabuk pengaman. Ini benar-benar aneh, entah mengapa saat berdekatan dengan laki-laki bernama Satya itu, jantung milik Nikita berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah ini hanya menjadi bentuk waspada mengingat ancaman dari Satya yang katanya mau menciumnya?


"Ini hanya tersangkut," kata Satya yang berhasil melepaskan kaitan dari sabuk pengaman ini.


Enggan untuk terlalu lama berada pada posisi tanpa adanya jarak, Nikita pun secara sigap mendorong tubuh laki-laki itu menjauh. Sebuah dorongan yang sanggup membuat punggung Satya terbentur pada bagian dalam mobil.


"Takut banget, ada laki-laki mesum!" Tutur Nikita sambil membuka pintu mobil itu dan berlari terbirit-birit masuk ke dalam rumah itu.


Tanpa berpamitan dengan baik dan benar, Nikita meninggalkan Satya begitu saja. Ucapan terima kasih ataupun maaf juga tak terdengar keluar dari mulut gadis itu. Hanya ucapan 'laki-laki mesum' saja yang bisa ditangkap dengan jelas oleh telinga ini.


.


.


.


Meskipun sudah mengantarkan Nikita pulang dengan selamat, Satya yang merasa masih harus menemui Tuan Ryan untuk berpamitan pun mau tak mau harus turun sebentar dari mobilnya.


Dalam langkah lebarnya, Satya mulai melangkah mendekat ke arah pintu utama dari rumah mewah ini. Tak mengikuti jejak Nikita yang tadi langsung asal masuk, Satya pun membunyikan bel, bermaksud memberitahu kalau ada orang lain yang datang berkunjung.


Tak perlu dibuat menunggu terlalu lama, seorang pria yang sudah berusia di atas lima puluh tahun, tapi tetap kelihatan tampan pun datang untuk menyambut laki-laki bernama Satya itu. Seperti seseorang yang memang sudah mengenal lama, pria bernama Tuan Ryan tanpa ragu melemparkan sebuah pelukan hangat. Rasanya seperti sedang melihat seorang ayah dan anak laki-lakinya.


"Sangat senang karena bisa melihat kamu disini," ucap Tuan Ryan menyambut baik kedatangan dari laki-laki pemilik nama Satya itu.


"Saya datang hanya untuk mengantarkan Nikita pulang," kata Satya yang sanggup membuat Tuan Ryan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Sekarang saya tahu alasan kenapa anak itu datang dalam balutan wajah kesal," ujar Tuan Ryan.


"Saya minta maaf sebelumnya, hanya saja tadi saya sempat memaksanya agar bisa ikut ke mobil. Sedari tadi Nikita terus menolak ajakan pulang dari saya. Seperti biasa keras kepala dan minta pulang sendiri," kata Satya yang tak bermaksud untuk mengadukan kelakuan gadis itu.


Seperti tidak bermasalah sama sekali, Tuan Ryan pun tersenyum lebar sambil menepuk bahu kekar milik laki-laki itu. Kelihatan jelas kalau beliau begitu puas pada cara Satya yang berhasil menangani sifat keras kepala dari sang putri.


"Mau mampir dulu?" Kata Tuan Ryan menawarkan kepada laki-laki itu agar mau singgah sebentar.


"Tidak perlu. Kebetulan saya juga masih harus melakukan beberapa pekerjaan di kantor. Sekali lagi terima kasih atas penawarannya, mungkin lain kali saya akan mampir," ucap Satya sambil memasang senyuman bulan sabit.


Setelah berpamitan dengan benar, Satya pun mulai melangkahkan kakinya kembali menuju ke arah mobilnya yang masih terparkir di garasi.


Tak lama setelah masuk kembali dan menempati kursi kemudi, mobil dengan logo empat cincin itu pun melaju pergi meninggalkan rumah mewah, tempat dimana gadis cantik bernama Nikita tinggal.


Bersambung...