I Hated My Boss

I Hated My Boss
D U A P U L U H L I M A



Akhirnya hari yang paling dinantikan oleh Nikita selama 3 tahun terakhir berhasil terwujud. Iya, akhirnya setelah berjuang keras agar bisa lulus dari bangku sekolah menengah atas, Nikita bisa menemukan akhir sekaligus awal dari kakinya melangkah menuju ke jenjang yang lebih tinggi lagi.


Dalam balutan kebaya modern bewarna merah muda pastel, Nikita yang baru saja selesai dirias oleh salah seorang make up artis, kenalan dari sang ibunda pun kelihatan mulai tersenyum puas ke arah cermin. Tak disangka kalau wajahnya yang sudah kelihatan begitu cantik, malah makin cantik setelah dirias. Perpaduan warna yang digunakan oleh make up artis benar-benar sesuai dengan umur Nikita.


"Bagaimana? Kalau menurutmu ada yang kurang bisa beritahu aku. Dengan senang hati aku akan memperbaikinya," ujar MUA itu sambil pandangannya terus melihat ke arah cermin yang ada di depan sana.


Apa penata rias itu sedang bercanda? Kenapa harus repot-repot untuk mencari kekurangan dari riasan yang sudah kelihatan begitu sempurna ini? Karena sudah merasa puas, Nikita sama sekali tak berniat untuk membuat MUA itu mengganti apa yang sudah ada.


"Tidak ada yang kurang. Riasan ini kelihatan begitu cocok dan aku menyukainya," kata Nikita sambil terus tersenyum senang.


Setelah dirasa siap, mulai dari pakaian kebaya, riasan dan juga model rambut, Nikita pun bergegas untuk keluar dari kamarnya yang untuk sementara waktu digunakan sebagai tempat berdandan.


Karena merasa kalau dirinya terlalu sempurna di hari kelulusan ini, Nikita dengan kepercayaan diri yang sedang menggebu-gebu pun mulai datang menghampiri ayah dan ibunya. Tak kalah cantik dari Nikita, sang ibunda juga tampak sempurna dalam balutan kebaya modern bewarna merah maroon itu.


"Ya Tuhan, anak ibu cantik sekali. Sampai bisa dibuat pangling," ujar sang ibunda memuji penampilan dari putrinya yang memang tampak begitu luar biasa hari ini.


Mendapatkan pujian seperti itu, mampu membuat pipinya mulai memerah karena malu. Senang mengetahui kalau orang lain juga memiliki penilaian yang sama dengan dirinya.


"Ibu juga tak kalah cantik," Nikita mulai melemparkan kalimat pujian balik.


"Benarkah?"


"Iya. Mungkin lebih jauh cantikan ibu daripada aku," ucap Nikita mulai merendah.


Tak memberikan respon lewat ucapan, sang ibunda hanya mengeluarkan sebuah tawa kecil sambil sesekali mengusap lembut bahu milik putri semata wayangnya.


"Jadi gak sabar pengen melihat cantiknya kamu, saat nanti memakai gaun pengantin. Bunda yakin pasti akan jauh lebih cantik dari sekarang," ujar ibunda Nikita mulai membayangkan sang putri mengenakan gaun pengantin.


Saat sang ibunda mulai membahas soal gaun pengantin, secara tiba-tiba ekspresi yang tadi kelihatan senang mulai luntur dari wajah cantik gadis pemilik nama Nikita itu. Dalam hitungan hari lagi, status nya akan berganti menjadi seorang istri.


Jujur saja, sedikit sedih karena diusia yang seharusnya masih bisa mencari pacar sendiri seperti remaja lain, Nikita malah sudah harus terlibat dalam sebuah perjodohan yang berujung pada pernikahan. Terpaksa melakukan itu hanya supaya bisa mendapatkan izin untuk pergi ke Paris, mewujudkan cita-cita yang begitu ingin menjadi seorang designer ternama.


"Kenapa sayang?" Tanya sang ayah yang rupanya menyadari tentang perubahan ekspresi wajah.


Karena enggan mendapatkan perdebatan atau hal lainnya, Nikita memutuskan untuk tidak memberitahu apapun kepada sang ayah. Saat ditanyai seperti itu, Nikita hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Menyembunyikan soal ketidaksetujuan akan pernikahan dalam perjodohan yang ternyata masih membelit dalam dirinya.


"Tidak ada."


"Yakin?" Ayahnya terkesan masih ingin tahu.


"Iya."


Daripada terus ditanyai, Nikita pun bergegas untuk mengajak kedua orang tuanya agar mau segera berangkat ke hotel Atmajaya. Untuk acara kelulusan ini, sekolahannya memang sengaja menyewa satu ballroom yang ada di hotel itu.


"Yuk berangkat sekarang! Empat puluh lima menit lagi, acaranya sudah akan dimulai," tutur Nikita sambil pandangannya terus tertuju ke arah jarum jam yang bergerak tanpa ingin berhenti.


Pada saat mereka bertiga berniat untuk menuju ke arah garasi mobil, secara tidak terduga Tuan Ryan mempertanyakan soal kehadiran dari Satya. Bukan tanpa sebab, hanya saja beliau sering mengingatkan putrinya itu agar tak lupa mengundang Satya ke acara kelulusan.


"Sudah aku undang, seperti apa yang ayah inginkan."


"Lalu? Dimana dia? Kenapa belum bergabung dengan kita?" Tuan Ryan benar-benar dibuat bertanya-tanya dengan keberadaan dari calon menantunya itu.


"Mana aku tahu," dengan mudahnya Nikita melemparkan jawaban seperti itu.


"Tidak kamu hubungi?"


Nikita menggeleng.


"Mungkin dia akan datang langsung ke hotel Atmajaya. Soalnya aku juga tak menyuruhnya untuk ke rumah," kata Nikita memberikan informasi yang mungkin bisa menjadi alasan kenapa laki-laki itu belum bergabung disini.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Tuan Ryan pun mulai masuk ke dalam mobil sedan hitam dan menempatkan dirinya duduk dengan nyaman pada kursi kemudi. Untuk hari ini beliau sendirilah yang akan menyetir, mengantarkan putrinya menuju ke tempat acara kelulusan.


"Pakai sabuk pengaman mu!" Perintah Tuan Ryan kepada Nikita yang memang kerap kali lupa. Meskipun ia duduk di kursi penumpang belakang, tetap saja harus mengenakan sabuk pengaman untuk alasan keselamatan.


Setelah semua dirasa siap, mobil sedan ini pun mulai melaju meninggalkan garasi rumah mewah. Tak butuh waktu lama, kini mobil itu sudah menembus jalanan kota yang terbilang cukup ramai dengan kendaraan lainnya.


...•••...


Harus diakui, kalau selama menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah atas, Nikita sudah memberikan segalanya yang terbaik. Bukankah ada pepatah yang mengatakan kalau usaha tak akan pernah mengkhianati hasilnya? Terbukti sekarang ini Nikita bisa dipanggil maju sebagai salah satu murid berprestasi yang berhasil mendapatkan nilai sempurna untuk ujiannya.


Meskipun Nikita kesannya seperti seorang anak yang susah diatur, galak dan lain sebagainya, ia tetap mengutamakan prestasi pendidikan. Dia menebus segala sikap buruknya lewat potensi akademik. Tak heran kalau dibalik rasa kesalnya para guru, masih menyimpan rasa sayang pada sosok Nikita. Terbukti, sampai hari kelulusannya tiba, semua guru masih begitu membanggakan dirinya.


"Selamat Nikita untuk pencapaian luar biasa ini. Saya sebagai kepala sekolah merasa bangga karena memiliki seorang murid berprestasi seperti kamu," kata kepala sekolah sembari menjabat tangan Nikita dengan senyuman yang penuh dengan rasa bangga.


"Sudah aku katakan bukan, Bu! Aku memang susah diatur, tapi masih tetap bisa berprestasi seperti ini," kata Nikita seakan sedang memberikan sindiran.


"Jangan membuat kesan seakan anak nakal itu tak memiliki potensi apapun!" Tambah Nikita dengan berani.


Belum sempat memberikan respon apapun, fotografer yang memang ditugaskan untuk mengabadikan setiap momen dalam acara ini pun mulai meminta agar mereka berdua mau tersenyum dan melihat ke arah kamera.


Aba-aba dibuat oleh fotografer itu. Tak butuh banyak waktu, sebuah foto sudah berhasil diabadikan oleh kamera itu. Setelah cukup untuk saling berbincang, Nikita yang sedang membawa surat kelulusannya pun mulai menuruni panggung itu, bermaksud untuk kembali ke tempat duduknya.


Kedua orang tuanya yang memang terus menemani pun langsung melemparkan pelukan erat, seakan begitu bangga kepada putrinya karena sudah berhasil menorehkan prestasi yang luar biasa.


Acara kelulusan ini pun terus dilakukan, sampai pada akhirnya saat yang paling dinantikan oleh semua murid tiba. Apa itu? Tentu saja soal mengisi perut.


Nikita yang memang telah kelaparan sejak beberapa menit lalu, kelihatan paling gesit untuk segera keluar. Dia harus mendapat barisan paling pertama untuk mengambil makanan.


Niatnya memang menempatkan dirinya pada posisi pertama dalam antrean ambil makan, namun sayangnya hanya karena ada satu sosok laki-laki, Nikita mau tak mau harus mengurusnya terlebih dahulu. Satya datang sangat terlambat dan itu tepat pada saat waktu break makan serta foto-foto.


Bersambung...