I Hated My Boss

I Hated My Boss
E M P A T B E L A S



Masih dalam euphoria kebahagiaan karena sudah dipastikan bahwa setelah pernikahannya nanti, dirinya akan pergi ke Paris, Nikita yang sekarang ini sedang berjalan melewati lorong sekolah pun tampak begitu bersemangat. Senyuman lebar juga terlihat enggan memudar dari wajahnya.


Sebagai seorang sahabat paling dekat, Febi yang merasa belakangan hari ini sangat jarang melihat senyuman seperti itu keluar dari wajah Nikita pun juga ikut merasakan hal sama. Senang karena bisa melihat sahabatnya mendapatkan izin untuk menggapai impiannya.


"Akhirnya ya, Nik... kita bisa kuliah bareng. Ya, meskipun bukan di universitas yang sama, tapi kan tetap aja kita bakal ada di satu kota yang sama," ujar Febi sambil tersenyum sumringah.


"Lo tahu gak sih, awalnya ayah sama ibu gak izinin gue buat pergi ke Paris. Mereka malah minta gue kuliah di Australia ambil jurusan bisnis..." dengan sengaja Nikita memberikan jeda pada ucapannya yang belum usai itu, hanya supaya bisa membuat temannya penasaran.


"Terus? Kenapa sekarang tiba-tiba mendapatkan izin? Bokap lo mengubah keputusannya gitu?" Tanya Febi penasaran dan langsung mendapatkan anggukkan kepala dari Nikita.


"Kok bisa?" Febi terheran. Karena sepengetahuannya, Tuan Ryan itu bukan termasuk seseorang yang bisa dengan mudah mengubah keputusan.


"Aneh kan? Tapi, aslinya buat itu gue harus banyak berkorban. Terutama soal pasangan," ungkap Nikita yang berhasil membuat tawa dari sahabatnya itu.


"Jangan bilang lo jadi setuju buat dijodohkan?" Tebakan Febi kali ini begitu tepat sasaran.


"Of course, gue harus terima perjodohan itu dan rencananya bakal nikah setelah gue wisuda buat kelulusan ini," kata Nikita terlihat seperti seseorang yang sama sekali tidak bermasalah.


"Lo yakin? Bakal nikah sama cowok siapa namanya itu? Yang sering banget lo keluhkan? Siapa sih namanya? Setya? Satyo? Huh? Kok gue tiba-tiba lupa?"


"Satya gebo. Jangan ganti-ganti nama orang tanpa melakukan tumpengan!" ujar Nikita dalam konteks bercanda.


"Ah iya, Satya. Lo bakal nikah sama dia? Gila sih temen gue habis lulus langsung buka hajatan sekampung," canda Febi yang sedikit menggoda sahabatnya itu.


"Yah mau gimana lagi? Kalau gak diterima gue gak bakal dapet izin buat pergi ke Paris. Bahkan sampai terancam kehilangan hak waris. Capek banget gak sih jadi gue?" ujar Nikita mengungkapkan segala keluh kesahnya.


"Lebih capek calon suami lo sih, karena harus punya istri—" sengaja tak dilanjutkan, Febi hanya tak ingin menyinggung perasaan dari sahabatnya itu.


"Nah kan! Satya tuh juga agak-agak. Di antara banyaknya cewek sempurna, bisa-bisanya dia mau nikah sama cewek spek gak jelas ke gue," ujar Nikita yang hanya mendapatkan sebuah tawa cukup kencang dari sahabatnya itu.


Tak ingin terus berbincang mengenai hal yang sama, Nikita dan juga Febi pun bersama-sama mulai melangkahkan kakinya menuju ke kelas. Proses sekolah mereka memang sudah selesai, tapi tetap harus datang kesini sampai nanti waktu wisuda tiba. Niatnya memang tak ingin datang dan tetap bermalas-malasan di rumah, tapi karena guru masih menghitung absen, Nikita yang masih belum lepas dari status pelajar pun harus datang ke sekolah seperti biasanya.


......................


Lagi dan lagi, sekolahan ini dibuat heboh hanya karena sebuah mobil sedang warna hitam yang memiliki simbol empat cincin itu terlihat datang kembali kesini. Semua pandangan murid maupun karyawan serta guru hanya tertuju pada mobil mewah yang kini telah berhenti dan terparkir rapi di parkiran sekolah. Mereka semua saling berbisik satu sama lain dan pastinya ada kepikiran untuk bisa ataupun memiliki mobil sebagus itu.


Nikita yang tahu bahkan mengenal pemilik mobil dengan logo empat cincin itu pun tak ragu untuk melangkahkan kakinya mendekat. Sedikit kurang nyaman, karena sekarang ia juga harus ikut-ikutan menjadi tontonan publik. Kenapa sih Satya harus memakai mobil sebagus ini? Apa dia tak memiliki mobil yang biasa saja?


Ketika Nikita sudah mulai melangkahkan kakinya, secara tak terduga Febi — sahabat dekatnya, yang ternyata terus mengekor pun tidak ragu untuk menggenggam erat pergelangan tangan dari Nikita. Sepertinya Febi tak tahu menahu kalau sang sahabat sudah mau pulang.


"Nik, lihat deh..." Febi menunjuk ke arah mobil empat cincin yang sekarang memang jadi pusat perhatian.


"...cakep banget gak sih mobilnya," kata Febi rupanya juga ikut terpikat pada daya tarik milik mobil itu.


"Jadi, penasaran banget deh! Kira-kira siapa ya pengemudi mobil itu? Apakah juga bakal secakep mobil yang dikendarainya?" Febi benar-benar dibuat bertanya serta penasaran.


Nikita yang memang malas menanggapi omong kosong pun langsung saja melepaskan genggaman tangan yang dibuat oleh sahabatnya itu. Sambil tersenyum tipis, ia tak ragu untuk memberitahu mengenai pengemudi mobil yang sudah berhasil menarik banyak perhatian itu.


"Calon suami gue yang mengemudikannya. Satya ada di dalam sana," kata Nikita dan langsung membuat Febi menutup mulutnya, terkejut pada pernyataan dari sang sahabat.


"Lo yakin?"


.


.


.


Sudah berada tepat di samping dari mobil itu, Nikita pun tak ragu untuk terlebih dahulu mengetuk kaca mobil, baru setelahnya ia membuka pintu dan masuk, menempatkan dirinya dengan nyaman pada kursi penumpang tepat di sebelah sang pengemudi.


Untuk alasan keselamatan dan juga peraturan saat di jalan raya, Nikita tak lupa memasang sabuk pengaman yang tersedia. Dalam balutan wajah tanpa ekspresi, Nikita pun mulai meminta kepada Satya supaya mau segera mengendarai mobil ini. Bukan tanpa sebab, hanya saja menjadi pusat perhatian sangat kurang nyaman.


"Bisa jalan sekarang gak?" Tanya Nikita sambil melirik ke arah laki-laki yang kini ada di sebelahnya.


Tanpa bersua, Satya pun menurut dengan begitu mudah. Mobil yang terus menjadi perhatian, mulai melaju meninggalkan parkiran dari sekolah ini. Mobil sedan yang dikendarai langsung oleh Satya pun sudah terlihat melintasi jalanan kota sore ini. Sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah butik. Karena ini termasuk pernikahan kilat, mereka mau tak mau juga harus bergerak cepat untuk mempersiapkannya. Tak punya banyak waktu lagi untuk menunda.


......................


Setelah menempuh perjalanan dengan waktu kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Satya pun bisa juga tiba di parkiran depan dari sebuah butik.


Nikita yang tahu kalau sekarang sudah sampai pun, malah terlihat enggan untuk turun. Bahkan gadis itu sama sekali tak melakukan pergerakan apapun. Satya yang tahu pun tanpa ragu mulai bertanya. Apakah ada masalah yang sanggup membuat gadis pemilik nama Nikita itu tetap diam dalam posisi sama?


"Nikita?" Satya memanggilnya terlebih dahulu hanya untuk memastikan kalau gadis itu masih memberikan respon.


"Ada apa?" Karena panggilan itu tidak mendapatkan respon apapun, Satya pun langsung melemparkan sebuah pertanyaan singkat.


"Kenapa diam saja? Apa kamu gak mau turun?" Tanya Satya menelisik ingin tahu.


Entah apa yang terjadi, Nikita pun mulai melemparkan sorot mata tajam yang dipenuhi dengan rasa kekesalan ke arah Satya. Kali ini, hal apalagi yang sanggup memancing rasa kesalnya itu? Apa Satya sudah melakukan kesalahan?


"Kenapa Nikita? Kami bisa mengajukan keluhan, kalau saya melakukan kesalahan," ujar Satya yang sudah siap untuk mendengarkan.


"Memangnya lo gak ada mobil lain yang bisa dikendarai ya?" Hanya tengah masalah sepele saja sudah bisa membuat Nikita merasa kesal.


"Apa ada masalah dengan mobil ini?" Tanya Satya yang benar-benar tak mengerti akan maksudnya.


"Lo gak lihat? Tadi waktu di sekolah hanya karena mobil ini terlalu mencolok, semua orang mulai menatap. Gue gak mau ya kalau harus jadi bahan pembicaraan di sekolah," kata Nikita dengan kebiasaannya yang suka memprotes.


"Saya minta maaf! Tapi memang untuk sehari-hari saya hanya menggunakan mobil ini," kata Satya tak ada habisnya mengucapkan permintaan maaf.


"Gak ada yang lain? Maksudnya mobil biasa gitu? Yang tak terlalu mencolok?" Tanya Nikita ingin tahu.


"Tidak ada. Hanya mobil ini yang paling bisa digunakan di jalan raya. Untuk yang lain, saya tidak yakin," jawab Satya dengan mudahnya.


Mendengar itu mampu membuat Nikita menghela napasnya. Walaupun tak memberitahu secara langsung, Nikita sudah bisa menangkap maksud dari perkataan yang diucapkan oleh laki-laki itu.


"Gue lupa kalau lo itu orang berada. Hanya ini satu-satunya mobil termurah yang lo punya. Lainnya pasti punya lambang kuda," kata Nikita menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan paham.


Bersambung...