
Untung saja kondisi jalanan malam ini sangat berpihak pada Nikita. Tanpa membuang banyak waktu untuk diperjalanan, akhirnya hanya menempuh sekitar dua puluh menit, mobil SUV putih yang ditumpangi oleh Nikita tiba juga di depan pintu lobby dari sebuah perusahaan besar yang belakangan ini masih menghadapi masalah hanya karena skandal dari salah satu manajer nya.
Nikita yang kelihatan tidak sabar hanya untuk bertemu dengan Satya, pun bergegas turun dari mobil ini. Kehadiran yang sangat tiba-tiba ini mampu membuat semua wartawan tertuju pada dirinya. Semua kamera, mau itu yang ada di ponsel menyorot ke arah Nikita tanpa ragu. Rasanya sekarang ini ia sudah menjadi seseorang yang terkenal.
Dengan langkah yang penuh kepercayaan diri, Nikita pun mulai berjalan masuk ke gedung perusahaan Damara, namun sayangnya ketika baru mau melangkah menaiki tangga yang ada di depan pintu lobby, seluruh wartawan itu mulai datang dan mengerumuni Nikita.
Entah apa maksudnya, tapi yang jelas Nikita sudah bisa mendengar begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan itu. Semua pertanyaan yang sama sekali tidak sanggup untuk dijawab karena memang Nikita tak ada sangkut pautnya dengan permasalahan yang saat ini sedang menimpa Damara Group.
Perasaan nyaman yang tadi sempat hadir dalam diri Nikita hanya karena merasa diperlakukan seperti artis, kini telah berganti menjadi sebuah perasaan kurang nyaman. Nikita sangat ingin cepat-cepat bisa menghindari para wartawan yang begitu haus dengan berita itu.
"Maaf, tapi aku tidak tahu mengenai masalah yang dialami oleh Damara Group," ujar Nikita masih berusaha untuk bisa keluar dari hadangan mereka semua.
Awalnya memang cukup kesulitan, tapi Nikita beruntung karena para pengawal pribadi yang biasanya mendampingi Satya datang untuk memberikan bantuan. Karena pengawal itu, Nikita jadi memiliki jalan keluar dari serbuan para wartawan itu.
Setelah berhasil melewati para wartawan, Nikita yang saat ini sudah berhadapan dengan Thania pun langsung meminta supaya bisa dipertemukan dengan calon suaminya.
"Dimana Satya?" Tanya Nikita langsung tanpa adanya sebuah basa-basi yang berarti.
"Apa yang membawa Nona Nikita datang kemari?" Bukannya memberitahu, Thania malah melemparkan sebuah pertanyaan yang sanggup membuat Nikita langsung memasang ekspresi wajar datar.
"Untuk bertemu Satya. Dimana dia sekarang?" Nikita kembali mengulang pertanyaannya.
"Tuan sedang sibuk di ruangannya dan belum bisa diganggu karena masih banyak hal yang perlu dikerjakan," kata Thania memberitahu sambil membuat sebuah senyuman bulan sabit pada bibirnya.
"Bisa katakan dimana ruangannya? Gue mau bertemu sama dia," pinta Nikita yang begitu sulit dituruti oleh Thania.
"Maaf, tapi ada baiknya kalau nona Nikita pulang saja. Tuan Satya sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun," Thania menolak siapapun orang yang ingin menemui tuannya.
Karena Nikita bukan tipe orang yang terlalu suka dengan penolakan, maka dari itu ia pun secara nekat mulai berlari menuju ke arah lift khusus yang ada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sikap Nikita yang seperti ini mampu membuat dirinya dikejar oleh Thania dan juga beberapa pengawal pribadi dari Satya. Bukankah tidak seharusnya bagi seorang Nikita mendapatkan perlakuan buruk seperti ini?
Dikarenakan posisinya sedang terburu-buru, Nikita pun memutuskan untuk menekan tombol angka delapan yang ada pada lift ini. Entah apa alasannya, hanya saja Nikita merasa kalau Satya pasti sedang berada di lantai delapan dari gedung perusahaan ini.
Seperti apa yang firasatnya katakan, setelah lift ini mengantarkannya ke lantai delapan dari gedung perusahaan Damara, Nikita langsung bisa menemukan ruang kerja Satya. Ternyata benar kalau angka paling tinggi yang ada di lift itu memang mengarahkannya langsung ke ruangan pribadi milik Satya.
Dengan langkahnya yang terburu-buru, masih takut tertangkap oleh mereka yang memang sedang mengejar, Nikita tanpa mengetuk pintu pun mulai masuk ke dalam ruang kerja pribadi milik Satya. Untung saja pintu ruangannya tidak terkunci jadi, Nikita bisa masuk begitu saja di sana.
Ketika Nikita sudah berada di dalam ruangan ini, hal pertama yang dilihatnya adalah kondisi meja kerja yang sudah begitu berantakan. Belum lagi ada banyak sekali lembaran kertas yang berjatuhan di lantainya.
Dengan ekspresi wajahnya yang tampak aneh, Nikita pun perlahan-lahan mulai melangkah lebih dalam lagi masuk ke ruangan ini. Namun, pada saat dirinya berniat untuk menjangkau meja ruang kerja, kedua matanya sudah terlebih dahulu mendapati sosok Satya yang kini sedang tertidur dengan pulas di sofa panjang yang ada pada ruang kerja pribadinya itu. Kalau boleh memberitahu, laki-laki itu kelihatan seperti seseorang yang kelelahan.
"Kalau dia tertidur, bagaimana cara gue melakukan protes?" Gumam Nikita seorang diri.
Sewaktu Nikita ingin memastikan, hal tidak terduga terjadi. Laki-laki yang dikira sedang tertidur itu pun mulai membuka matanya. Mungkin karena terkejut, Satya dengan erat mulai menggenggam pergelangan tangan milik Nikita dan sampai akhirnya membuat gadis itu terjatuh di sofa persis dibawah oleh Satya. Posisi yang sedang dilakukan oleh mereka berdua memang sangat terasa kurang nyaman. Nikita harus terjepit dan tertindih oleh tubuh kekar Satya yang saat ini ada di atasnya. Pergerakan Nikita juga tak bisa terlalu leluasa karena tangannya sedang digenggam oleh laki-laki itu.
"Satya ini gue!" Kata Nikita dengan tatapan yang langsung menuju ke arah mata cantik milik laki-laki bernama Satya itu.
Masih dalam keadaan setengah tersadar, bukannya langsung menjauh dan menindih tubuh mungkin Nikita, lelaki itu malah melemparkan sebuah pertanyaan yang mampu membuat pupil mata Nikita membesar.
"Siapa?" Tanya Satya singkat.
"Gue! Nikita. Lo bisa minggir gak dari badan gue?" Pinta Nikita sambil berusaha menyingkirkan tubuh kekar milik Satya.
Ketika mendengar ucapan itu, kesadaran Satya pun kembali. Tahu ada Nikita yang sedang tertindih dibawahnya, langsung membuat Satya bergegas untuk menjauh. Akhirnya Nikita bisa terbebas dari kekang erat yang dilakukan oleh laki-laki itu.
"Maaf!" Kata pertama yang keluar dari mulut Satya ketika menyadari kesalahannya yang tadi sempat menindih tubuh gadis itu.
"Gila ya lo! Kalau gue mati karena kehabisan napas gimana? Mau tanggung jawab?" Kata Nikita lagi-lagi dengan ketus.
"Maaf saya tidak tahu kalau kamu ada disini. Saya melakukan itu hanya untuk perlindungan diri," ucap Satya merasa tidak enak karena sudah berhasil menyakiti gadis itu.
"Maksudnya? Lo anggap gue sebagai orang jahat gitu?" Namanya juga Nikita, tak heran kalau semua perkataan yang keluar dari mulut Satya mampu untuk menyinggung dirinya.
"Bukan gitu, tapi—" belum sempat bagi Satya mengatakan kalimatnya, sebuah ketukan pintu pun mulai terdengar. Nikita yang sudah tahu siapa gerangan itu pun langsung menyuruh Satya untuk membuka pintu.
"Yang datang sekertaris lo sama anak buah lo. Bukain gih pintunya buat mereka," kata Nikita yang kini sudah terduduk dengan nyaman di atas sofa panjang nan empuk ini.
"Masuk!" Perintah Satya jelas.
Setelah mendapatkan izin, Thania yang memang mengetuk pintu pun mulai masuk ke ruangan kerja ini, bersama dengan beberapa pengawal yang tadi sempat main kejar-kejaran sama Nikita.
"Ada apa Thania?" Tanya Satya sambil memberi tatapan ingin tahu ke arah mereka.
Thania belum mengatakan apapun. Sekarang ini pandangannya hanya bisa tertuju pada seorang Nikita yang tengah terlihat asyik membaca majalah. Sebenarnya kedatangan Thania bersama dengan beberapa anak buah hanya untuk menemukan gadis pemilik nama Nikita itu.
"Maaf, tuan! Tidak jadi," kata Thania yang kemudian menarik dirinya keluar dari ruangan ini.
Sebagai seorang sekertaris yang sangat mempedulikan soal keadaan dari atasannya, Thania memiliki alasan kuat kenapa harus melakukan pengejaran kepada Nikita. Itu semua terjadi hanya karena Thania tak ingin ada seorang pun yang mengganggu waktu Satya untuk beristirahat. Akhirnya setelah menjalani waktu yang sulit, atasannya itu bisa mengunjungi alam mimpi.
Disini Thania begitu amat peduli kepada keadaan serta kondisi Satya. Dia melarang Nikita, hanya supaya atasannya itu dapat beristirahat tanpa adanya gangguan yang berarti. Tapi sayangnya, Nikita malah tanpa ada rasa bersalah datang ke ruangannya dan langsung mengganggu waktu istirahat. Memang terkesan kurang perhatian, tapi begitulah seorang Nikita.
Bersambung...