I Hated My Boss

I Hated My Boss
D U A P U L U H E N A M



"Gue kira lo gak bakal datang," kata Nikita yang kini telah berdiri tepat berhadapan dengan laki-laki tampan pemilik nama Satya itu.


Hanya karena Nikita tak bisa melihat sosok Satya sepanjang acara kelulusan ini berlangsung, ia dan keluarganya mengira kalau laki-laki itu memang tidak akan datang ke acara kelulusan ini. Ternyata perkiraannya salah, Satya yang selalu menepati janjinya, tetap datang meskipun bisa dibilang cukup terlambat.


"Maaf karena baru bisa datang sekarang," ujar Satya sambil menyodorkan sebuket bunga yang tampak indah kepada Nikita.


Meskipun masih dalam balutan ekspresi datar, Nikita tetap saja menerima sebuket bunga pemberian dari laki-laki itu. Sebenarnya jauh dalam diri, Nikita merasa senang akan hadiah buket bunga ini, tapi harus mengontrol dirinya untuk bersikap biasa saja. Nikita tak berniat menunjukan hal yang bisa disalah pahami oleh laki-laki itu. Bukan karena bunga, Nikita langsung bisa melunak dan bersikap baik kepadanya.


"Saya tadi lihat kamu dipanggil sebagai salah satu murid berprestasi. Selamat atas hasil dari kerja kerasmu," ucap Satya sambil menunjukan sebuah senyuman bangga.


"Berarti lo memang sudah ada disini sedari tadi. Terus? Kenapa baru muncul sekarang?" Tanya Nikita hanya penasaran saja.


"Saya tidak ingin membuat acara itu jadi terganggu. Jadi, saya memilih untuk menunggu diluar sambil mengamatinya dari layar televisi yang ada," ungkap Satya memberitahu hal yang memang sejak tadi selalu dilakukannya.


"Terganggu? Maksudnya?" Tanya Nikita yang rupanya belum paham.


"Kamu tahu kan kalau belakangan ini, saya selalu menjadi pusat perhatian dari banyak orang? Kita bertemu diluar dari ruang acara saja sudah banyak orang yang memperhatikan. Apa kamu tidak menyadarinya?" Kata Satya yang mampu membuat gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rupanya Satya memang mengatakan sesuatu yang sebenarnya terjadi. Ini bukan hanya sebuah kebohongan semata.


Apakah Nikita lupa mengenai sosok calon suaminya itu? Satya adalah seorang CEO terkenal yang selalu berhasil menyita perhatian publik karena wajah tampan serta keahlian yang dimiliki dalam dunia bisnis. Kemanapun Satya pergi, pasti selalu ada orang yang mengenali. Dia hanya seorang pebisnis, tapi publik memperlakukannya bak sebagai seorang artis.


Nikita yang menyadari kalau sekarang kebersamaan ini sedang menjadi pusat perhatian pun langsung berhasil membuatnya salah tingkah. Pipinya juga memerah, kelihatan kalau Nikita sedang merasa malu.


"Kamu bisa bayangkan kalau seandainya saya masuk begitu saja ke ballroom itu? Mungkin semua perhatian mereka bisa teralihkan," kata Satya kedengaran begitu percaya diri.


Mendengar perkataan itu, berhasil membuat Nikita tertawa. Entah mengapa kepercayaan diri yang bisa dibilang terlalu berlebihan itu terkesan begitu lucu. Bagaimana bisa menemukan seseorang yang begitu percaya diri seperti Satya?


"Geli sendiri gue dengernya," kata Nikita sambil terus menggenggam buket bunga pemberian dari Satya.


Belum ada kesempatan bagi Satya untuk menanggapi, secara tak terduga seorang perempuan yang juga mengenakan kebaya, hampir terlihat serupa seperti Nikita hanya beda diwarna, datang menghampiri sambil tangannya memegang piring makanan.


"Nik, gak makan?" Febi hanya bermaksud untuk mengajak temannya itu, tapi ternyata waktunya sedang tidak tepat.


Bukan bermaksud sengaja, hanya saja Febi tidak tahu ataupun melihat kalau temannya masih berbincang dengan seorang laki-laki yang pastinya Febi tahu. Sekarang di negara ini, siapa yang tidak mengenal sosok Satya? Lelaki tampan yang selalu berhasil menjadi idaman para kaum hawa.


"Nanti dulu," kata Nikita menanggapi, namun perhatian Febi sudah berhasil teralihkan.


Sorot matanya kini sedang menatap dengan penuh rasa kagum ke arah laki-laki pemilik nama Satya itu. Rasanya seperti sebuah mimpi karena bisa melihat sosok laki-laki yang terlalu sulit untuk dilihat ataupun ditemui.


"Gue gak lagi mimpi kan ya sekarang ini?" Tanya Febi sambil menepuk cukup keras pipi sebelah kirinya dengan tujuan untuk memastikan kalau sekarang ini ia sedang tidak berada di alam mimpi.


"Kenalin, namanya Satya. Lo pasti udah kenal, karena katanya memang dia begitu terkenal seperti selebriti," ujar Nikita yang seharusnya tak perlu dilakukan.


"Kenapa cowok ganteng ini bisa ada disini?" Tanya Febi dengan pandangan mata masih belum bisa teralihkan dari sosok Satya.


Satya yang masih berdiri dalam posisi tegap, hanya bisa tersenyum tipis untuk menyambut kedatangan dari teman Nikita yang juga sempat ia temui di bar, sewaktu menjemput Nikita. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama, ingatan Satya masih begitu tajam.


"Dia cuma mau kasih bunga buat gue," ujar Nikita memberitahu hal yang mungkin bisa menjawab pertanyaan dari temannya itu.


"Memangnya siapa lo sampai bisa dapet bunga dari cowok ganteng, spek pangeran seperti Satya?" Tanya Febi rupanya lupa kalau beberapa waktu lalu temannya itu sempat bercerita tentang sebuah perjodohan.


"Calon suami gue yang kapan hari sempat gue keluhkan," tutur Nikita terkesan begitu terbuka pada BESTie nya itu.


Padahal Febi sudah tahu, tapi kenapa dia bisa terkejut, seolah-olah baru pertama kali diberitahu? Sungguh temannya itu memiliki jangka waktu ingatan yang pendek. Dengan mudahnya melupakan hal yang sudah diberitahukan.


"Ya Tuhan. Serius lo calon istrinya?" Kata Febi dengan heboh yang malah berhasil menarik perhatian dari orang.


Karena tak bermaksud untuk mengumbar rahasianya terlalu jauh, Nikita pun dengan sigap menutup mulut sang teman. Sebelum bisa mengontrol kehebohannya itu, Nikita akan terus menutup mulut Febi.


"Kalau ngomong bisa pelan aja gak?" Tanya Nikita dan langsung mendapatkan anggukan singkat dari Febi.


"Kenapa lo?" Nikita melemparkan pertanyaan karena heran dengan sorot mata temannya itu.


"Ini berarti cowok idaman spesiesnya sudah berkurang satu. Bukti nyata kalau dia mau menikah sama lo," kata Febi sambil memasang wajah muram.


Merasa kalau hal seperti ini tidak perlu untuk diketahui ataupun dilihat oleh laki-laki pemilik nama Satya itu, Nikita pun bergegas menarik temannya itu menuju ke arah antrean makanan. Namun, sebelum pergi Nikita juga masih sempat meminta kepada Satya agar menemui kedua orang tuanya yang memang sejak tadi pagi selalu saja menanyakan tentang dirinya.


"Temui ayah dan ibu gue dulu. Dari tadi mereka terus saja tanyain soal lo," ucap Nikita dengan jemari tangan yang sudah menggenggam dengan erat pergelangan tangan milik Febi.


"Dimana mereka?" Tanya Satya sembari pandangan mata sudah melihat ke arah dalam ballroom.


"Di dalam. Coba cari aja," tukas Nikita yang kemudian melenggang pergi bersama temannya untuk mengantre makanan.


.


.


.


Pada saat Nikita baru mau mengambil barisan dalam antrean itu, secara tidak terduga seorang perempuan pemilik nama Dian yang memang sudah jadi musuh bebuyutan sejak kelas satu SMA, datang dan membuat rusuh..


Tanpa adanya sebab yang jelas, Dian yang membawa segelas minuman manis pun tanpa ragu menyiramkan itu dan berhasil membuat kebaya yang sedang dikenakan oleh Nikita basah.


"Oops... Sorry! Gak sengaja ke siram," kata Dian tapi seperti tidak tulus, karena setelah mengucapkan kata itu, sebuah tawa kecil langsung dibuat olehnya.


"Sinting ya lo! Maksudnya apa huh? Gak ada angin gak ada hujan lo tiba-tiba aja nyiram gue pakai minuman?" Tanya Nikita dengan nada bicara yang mulai meninggi.


Sekarang siapa sih orang yang tidak marah ataupun merasa kesal, ketika langsung disiram dengan minuman manis tanpa adanya sebuah sebab ataupun masalah yang jelas?


"Kan gue udah bilang gak sengaja. Gue kesandung sama kaki sendiri," tutur Dian memberikan alasan yang tentu saja tak bisa diterima dengan mudah oleh Nikita.


"Semua orang yang ada disini juga lihat secara jelas kalau lo itu memang sengaja," tentu saja Nikita sama sekali tidak bisa menerima perlakuan yang seperti ini.


Tak ingin banyak berdebat ataupun beradu argumen, Nikita pun mulai ikut mengambil segelas minuman dari atas meja, lalu bersiap untuk membalas kelakuan dari Dian. Namun, saat mau melakukan itu, tanpa terduga ada yang memegangi tangannya dengan erat sampai terlalu sulit bergerak.


"Siapa sih yang menghalangi gue?" Tanya Nikita mendapati sosok Satya ternyata ada di belakang dirinya.


"Saya bukan menghalangi, hanya saja kamu sedang salah memilih target," kata Satya yang berhasil mengambil gelas berisi minuman dari tangan Nikita.


"Maksud lo apaan sih? Salah target gimana? Jelas-jelas targetnya ada di depan gue," ujar Nikita tak mengerti.


Bukan bermaksud untuk menghentikan, Satya kini sedang mencoba memposisikan diri Nikita agar bisa memberikan pembalasan yang setimpal.


"Jangan lempar ke bajunya, tapi..." Satya mengembalikan gelasnya pada genggaman Nikita, sambil terus berdiri dibelakang, Satya terus saja memberitahu cara memberikan balasan setimpal.


"...lemparkan itu tepat di wajahnya. Setelah melakukannya, jangan lupa bilang maaf dan beritahu kalau kamu tidak sengaja melakukannya," tambah Satya dan langsung diikuti oleh gadis itu.


Tanpa berpikir panjang, Nikita pun menyiramkan segelas minuman manis itu persis mengenai muka dan juga rambut dari perempuan bernama Dian. Ketika berhasil memberikan balasan, Nikita kelihatan tersenyum puas.


"Oops, sorry! Gak sengaja ke siram," ujar Nikita meniru apa yang tadi sempat keluar dari mulut perempuan itu.


Satya yang melihat semuanya pun merasa bangga dan puas kepada calon istrinya itu. Terkadang kita memang harus berlaku jahat hanya supaya tidak ditindas terus menerus. Seorang perundung seperti perempuan itu memang harus mendapatkan pelajaran, karena kalau dibiarkan tingkahnya malah makin menjadi.


"Kamu melakukan hal benar," ujar Satya sambil menepuk pelan pucuk kepala dari gadis itu.


Bersambung...