I Hate you

I Hate you
Dia



"Aldi?" Daniella terpaku bagai patung.


"Oh, God. Dani?" Aldi tidak percaya.


"Lo... Ngapain... Di sini...?" tanya Daniella gugup.


Daniella masih shock karena bertemu dengan orang yang pernah membuat air matanya jatuh.


"Gue? Harusnya mah gue yang nanya lo ngapain di sini? Bukannya lo stay di Jakarta? Dan katanya juga lo nggak mau balik kemari. Nah kalau gue mah jelas, di sini gue lanjut studi," Aldi pun juga bingung.


"Oh. Gue emang balik ke sini baru aja. Ini lagi sama 'IPC in UK', di sini lagi pada cari bahan studi katanya. Awalnya juga gue nggak pengen balik kemari. Tapi apa boleh buat? Di Jakarta gue udah nggak ada siapa pun," jelas Daniella.


"Hmm, gitu..," Aldi merasa canggung dengan Daniella, ia belum siap buat ketemu Daniella. Dan tidak mengira akan bertemu seperti ini.


"Btw lo pergi waktu itu langsung ke sini?" tanya Daniella.


"Iya, gue langsung ke sini. Lo lupa kalau gue kuliah sastra Inggris di Indonesia dulu? Itu karena kedua orang tua gue menetap dimari," jawab Aldi.


"Astaga, gue nggak kepikiran," Daniella menepuk jidatnya.


"Haha... Kenapa? Kangen ya pengen ketemu gue?" celetuk Aldi, ia bahkan tidak menyadari perkataannya.


"Eh?" Daniella pun kaget.


Aldi hanya terdiam menyadari apa yang baru saja diucapkannya.


"Btw lo sama siapa dimari?" Daniella melihat ada sosok lain di tengah lapangan yang menunggu Aldi mengambil bola.


"Oh iya, lupa. Beb, sini deh!!" panggil Aldi kepada orang itu.


"Ya, kenapa, Al?" jawab orang itu sembari menghampiri Aldi dan Daniella.


"Dan, kenalin ini Cyintia," kata Aldi sambil merangkul pundak gadis itu.


"Cyintia," kata gadis itu menyodorkan tangan.


"Dani," ucap Daniella menjabat tangan Cyintia.


Daniella melihat betapa mesranya Aldi bersama Cyintia.


"Yuk main! Lo pasti ke sini mau main. Udah lama juga gue nggak duel sama lo," ajak Aldi.


"Iya yuk main!" ajak Cyintia juga.


"Dih, lo ngapain ngajak main? Kayak lo bisa main aja, Beb," ejek Aldi kepada Cyintia.


"Eh, gitu ya. Ntar kalau kalau kalah lo nangis pula," ucap Cyintia.


"Ya kali gue nangis cuma karena kalah main basket, nggak lucu ah, Beb," sanggah Aldi.


"Buktikan!" tantang Cyintia.


"Iya, sayang... Bawel nih," kata Aldi sembari mengacak rambut Cyintia.


"Woii, kusut nih. Salon mahal," Cyintia menyisir rambutnya.


"Dan, kok diem? Ayo main!" ajak Aldi lagi.


Daniella masih terdiam melihat Aldi dan Cyintia.


"Eh, iya, gimana?" Daniella gugup.


"Ayo, main. Kangen gw sama permainan lo," ajak Aldi.


"Hah?" Daniella malah kebingungan sendiri.


"Kenapa lagi, Dan?" Aldi pun bingung menanggapi sikap Daniella.


"Eh, ini, anu, apa ya?" jawab Daniella.


'Ini gue kenapa deh? Perasaan gue kok nggak nyaman gini? Kayaknya ada yang salah sama gue saat ini,' batin Daniella.


"Daniella Stefanie," panggil Aldi.


"Eh, iya, Al," Daniella menanggapi.


"Lo kenapa, Dan? Dari tadi kayak nggak fokus gitu. Badan lo di sini tapi otak lo ke mana mana," celetuk Aldi.


'Gue ngomong apa, astaga!' batin Aldi.


"Eh, maaf," ucap Daniella tiba-tiba.


"Kenapa malah minta maaf? Ya udah, ayo main aja dah," Aldi memegang tangan Daniella untuk menariknya ke tengah lapangan.


Daniella terpaku. Aldi menyadari perbuatannya, kemudian ia melepaskan tangan Daniella.


Mereka sejenak terdiam. Cyintia yang dari tadi melihatnya pun bingung dengan sikap mereka berdua.


"Ayolah main sini," ajak Cyintia sambil berjalan ke tengah lapangan membawa bola.


"Eh, sorry, gue harus pergi," kata Daniella lantas membalikkan badannya dan berlalu.


"Lho? Kenapa?" kata Aldi melihat Daniella berjalan pergi.


Daniella tidak menjawab pertanyaan Aldi, ia melanjutkan langkahnya meninggalkan Aldi dengan pasti.


Cyintia yang dari kejauhan melihat mereka pun semakin bingung, ia berjalan menuju Aldi.


"Kenapa sih?" tanya Cyintia.


"Entah," jawab Aldi singkat.


Aldi menatap punggung Daniella yang semakin jauh.


"Dan!!" panggil Aldi, tetapi Daniella tidak menghiraukannya.


"Dani!!" panggil Aldi lagi, tetapi Daniella semakin jauh berjalan.


"Daniella!!" Aldi berteriak, tapi tidak ada respon.


"Daniella Stefanie!!" Aldi benar-benar berteriak sekeras mungkin.


Daniella berhenti. Namun, ia kembali melangkah.


* * *