
Satu tahun sudah berlalu, Daniella dan Radit menjadi sering bertemu dan semakin lama semakin dekat.
"Pagi, Beb...," sapa Radit kepada Daniella.
"Pagi juga, Dit!" balas Daniella.
"Tumben nih parkiran sepi amat, nggak biasanya," ucap Radit.
"Mungkin karena udah mulai ujian kali. Jadi nggak bareng," kata Daniella menimpali.
"Iya juga sih," kata Radit kemudian.
"Eh, Beb, gue duluan ya. Ujian pagi nih," ucap Daniella.
"Oke, Beb, sukses ya!" sahut Radit.
"Thank you, honey," Daniella pun pergi meninggalkan Radit menuju ke kelasnya.
Radit menatapnya dari jauh. Tersenyum melihatnya.
*
Kini mereka sudah menjadi sepasang sahabat. Namun, keakraban mereka seperti sepasang kekasih. Sehingga orang yang belum tahu mereka pasti akan mengira bahwa mereka sepasang kekasih, padahal kenyataannya hanyalah sahabat.
Sampai pada suatu pagi Daniella menemukan secarik kertas dalam lokernya.
Waktu sudah berlalu.
Hari demi hari,
Minggu demi minggu,
Bulan demi bulan.
Bahkan tahun pun sudah berganti.
Namun, wajahmu tidak pernah berlalu dari ingatanku,
Tidak akan pernah terganti hingga ujung waktu.
Aku yang selalu mengagumimu,
Tidak mampu menghapus dirimu dari dalam jiwa.
Kau yang selalu ada.
-- AR --
Sejenak Daniella terpaku bagai patung di depan lokernya. Heran dengan semua itu, 'Siapa yang ngirim ini?' tanyanya dalam hati.
Hari itu Daniella jalani seperti biasa, menganggap kejadian itu tidak pernah ada, 'Ah mungkin cuma orang iseng,' pikirnya.
***
"Beb, ntar malam ada acara nggak? Jalan yuk!" ajak Radit setelah selesai ujian.
"Lah besok kan masih ada ujian. Ya kali mau jalan-jalan," ucap Daniella.
"Haha... Cuma ujian ini. Gue juga tahu kalau elo nggak akan belajar. Ngaku aja deh," kata Radit menyanggah.
"Idih sok tahu lo," sahut Daniella sambil memukul pelan lengan Radit.
"Bener kan? Kayak gue nggak tahu lo aja sih, Beb," Radit mengacak rambut Daniella.
"Eh, eh, iya, iya, tapi nggak usah ngacak-ngacak rambut gue!" Daniella menata kembali rambutnya.
"Jadi?" tanya Radit kembali.
"Iya, oke. Jemput gue!" jawab Daniella.
"Oke, siap sayang...," ucap Radit sembari hormat.
"Udah gue pulang dulu. Bye, Dit. See you," Daniella masuk ke mobilnya.
"See you, Beb. Hati-hati," sahut Radit.
Daniella menghidupkan mesin mobilnya lalu ia pergi meninggalkan Radit, yang masih tersenyum menatap kepergiannya.
***
"Yuk berangkat!" Daniella keluar dari rumahnya.
Mereka berjalan menyusuri kota. Menikmati jalanan kota di malam hari.
"Mau ke mana?" tanya Daniella.
"Nanti juga tahu," jawab Radit singkat.
Daniella terdiam. Kembali ia menikmati jalanan yang dilewatinya. Pancaran lampu-lampu jalan menemani sepanjang waktu. Sampai pada akhirnya mobil yang ditumpanginya keluar dari jalanan kota. Menyusuri jalanan yang sedikit lebih sempit dan gelap. Lampu jalan terlihat berjarak beberapa meter antara satu dengan lainnya.
Daniella mulai bertanya dalam hatinya, mau ke manakah mereka pergi? Rasanya ia belum pernah melewati jalanan ini.
*
Beberapa menit kemudian. Radit menghentikan mobilnya, di tengah-tengah tanah lapang yang kosong.
"Yuk turun!" ajak Radit kemudian.
Tanpa mengucapkan apa pun Daniella turun dari mobil. Mengikuti Radit yang sudah mendahuluinya.
Dari kejauhan tampak sebuah api unggun yang menyala.
'Siapa yang buat api unggun di sana?' tanya Daniella dalam hati.
Ia masih tidak mengerti maksud Radit membawanya ke tempat ini.
*
Ketika ia sampai pada tempat yang dituju Radit, tempat di mana api unggun itu berada. Ia mengerti.
"Hai, Bro. Thanks lo udah ke sini dan buatin ini semua. Sorry, gue bikin lo repot," ucap Radit kepada seseorang yang menunggunya di sana.
"Elo kayak sama siapa aja. Udah gue balik ya. Enjoy your night, Bro," kata orang itu kemudian berjalan pergi.
Daniella terpaku sejenak, melihat seseorang yang berjalan pergi itu. Aldi.
"Hai, jangan bengong!" Radit mengagetkannya.
"Eh, iya, Dit," Daniella menepis lamunannya.
Kini ia hanya perlu mengetahui maksud Radit atas semua ini. Membawanya ke tempat di mana sudah ia siapkan api unggun.
"Duduk sini!" ajak Radit.
Daniella pun duduk di dekat api uggun itu. Hangat rasanya. Ia lalu menengok ke atas. Melihat langit yang cerah dan bertaburan bintang. Tanpa sadar ia tersenyum melihat langit malam ini.
Radit pun terdiam. Menatap Daniella yang sepertinya menikmati malam ini. Ia bersyukur dapat membuat Daniella bisa tersenyum semanis itu.
Mereka sangat menikmati malam itu. Melewati malam bersama langit berbintang. Sepertinya Radit memang sengaja membawa Daniella ke tempat itu, untuk dapat menikmati langitnya. Karena hanya di tempat seperti itulah bintang dapat terlihat dengan jelas. Lain halnya jika di kota, akan terhalang dengan berbagai polusi.
***
Esok harinya, setelah sampai di kampus Daniella mampir ke lokernya. Ia kembali menemukan secarik kertas dari seorang berinisial "AR".
How about last night?
Aku harap kau menikmatinya.
Kau bahagia, bukan?
Aku akan berbahagia ketika aku melihatmu bahagia.
Karena bahagiamu adalah tujuanku.
--AR--
Daniella membaca ulang kalimat itu.
'Tadi malam? Bagaimana orang itu tahu tentang tadi malam? Apakah ia selalu mengikutiku?' Daniella bertanya-tanya dalam hati.
Daniella mulai kepikiran tentang semua ini. Walau ia selalu berusaha untuk menepis pikirannya. Namun, hatinya masih penasaran dengan sosok di balik tulisan itu, sosok yang berinisial "AR". Hingga dia teringat satu nama yang selama ini dekat dengannya, Anggara Raditya.
* * *