
Sepanjang hari Daniella kepikiran tentang seorang berinisial "AR" itu.
'Apakah Radit? Mungkinkah? Rasanya tidak,' tanyanya dalam hati.
Entah ia pun berpikir bahwa itu mungkin saja Radit. Namun, ketika ia kembali berpikir dengan lebih jernih, rasanya tidak mungkin bahwa "AR" itu adalah Radit. Ia tidak yakin bahwa Radit lah yang melakukannya. Karena jika memang itu adalah Radit, kenapa tidak bicara langsung? Lagi pula selama ini mereka selalu bersama dan terbiasa terbuka. Bahkan hubungan mereka pun lebih dekat.
Otaknya mulai tidak terarah memikirkannya, hingga ia memutuskan untuk tidak menghiraukan semua itu. Seperti yang selama ini dijalaninya, tidak peduli dengan apapun. Ia mencoba untuk kembali menjadi dirinya yang dulu.
***
Keesokkan harinya Daniella kembali dikejutkan oleh secarik kertas dalam lokernya.
Daniella Stefanie...
Mengapa kau selalu hadir dalam benakku?
Mengapa setiap nafas dalam hidupku selalu ada kamu?
Mengapa setiap aku melangkah selalu teringat akan dirimu?
Kau adalah sosok terindah yang pernah aku temui.
Kau adalah jiwa yang selama ini aku rindukan.
Daniella Stefanie...
Kuingin kau selalu ada untukku.
Aku yang selalu mengagumimu.
-- AR --
Kembali Daniella terpaku sejenak, memikirkan kembali sosok "AR" yang beberapa waktu ini mengganggu pikirannya. Setiap ia bertemu dengan Radit, ia selalu berpikir bahwa apakah mungkin Radit lah orangnya? Namun hati kecilnya berkata tidak. Lalu siapa? Aldi? Sangat tidak mungkin. Karena ia tidak ada hentinya bertengkar dengan Aldi ketika mereka bertemu. Juga beberapa waktu terakhir ini ia jarang bertemu dan melihat Aldi. Dan lagi pula ia sendiri tidak yakin bahwa nama Aldi berinisial AR.
***
Satu bulan sudah berlalu, Daniella selalu menemukan secarik kertas bermisteri dalam lokernya. Sebulan pula Daniella mencoba untuk mencari tahu sosok di balik tulisan itu, tetapi hasilnya nihil.
Akhirnya Radit menemukan kejanggalan dalam diri Daniella sebulan ini.
"Gimana ya? Sebenernya gue juga bingung sama diri gue sendiri. Gue nggak pernah kayak gini sebelumnya, biasanya gue cuek sama yang nggak penting. Tapi ini? Gue malah kepikiran terus," jawab Daniella.
"Ada apa sih? Biasanya lo cerita sama gue, kenapa sekarang kagak? Cerita dah!" bujuk Radit.
"Gue bingung, dalam sebulan ini gue selalu nemu surat dan puisi dalam loker gue. Dan gue nggak tahu dari siapa," jelas Daniella.
"Emang nggak ada nama pengirimnya?" Radit menanggapi.
"Nggak ada, cuma ada inisial 'AR'. Gue nggak tahu itu siapa," jawab Daniella.
"Hah? AR? Mana coba gue lihat?" Radit pun kaget.
"Nih, lo baca dah satu-satu," kata Daniella sembari menyodorkan setumpuk kertas yang dia ambil dari dalam tasnya.
"Sebanyak ini? Gokil juga yang ngirim," Radit mengambil setumpuk kertas itu dari tangan Daniella.
"Lo pikir? Gue sampe pusing, ujian pun nggak konsen," Daniella bersungut.
"Tunggu, inisialnya beneran AR!!" Radit heran membacanya.
"Emang iya, lo pikir gue ngada-ada? Awalnya malah gue pikir itu elo, karena inisial nama lo juga AR," kata Daniella.
"Ya kali!! Kurang kerjaan amat gue nulis beginian. Kalau gue punya perasaan ke elo, gue udah ngomong langsung kali. Ngapain pake beginian? Kurang kerjaan, tiap hari ketemu juga," jelas Radit.
"Itu juga yang gue pikirin," sambung Daniella.
"Btw, masalah inisial AR, emang cuma Anggara Raditya doang? Kagak kali. Asal lo tahu aja, Aldi juga punya inisial nama AR," lanjut Radit.
"What?! Aldi?!" seketika Daniella terkejut.
"Iya. Namanya...," Radit berhenti.
"Siapa?" Daniella menunggu.
"Andrean Rivaldi"
* * *