
"Gue masih menunggu," ucap Daniella sembari mengambil cangkir coklatnya yang baru saja tiba.
"Nungguin apa?" tanya Aldi.
"Penjelasan kalian bertiga," jawab Daniella.
Aldi dan Cyintia saling menatap penuh kode, sedangkan Radit memgerutkan dahi karena tidak mengerti maksud Daniella.
"Ada apa sih?" Radit bertanya penuh heran.
"Jadi gini, lo ingat kejadian yang gue ceritain tahun lalu kan?" Aldi memulai.
"Yang di Manchester?" Radit menyambung.
"Iya, yang itu. Lo tahu siapa yang gue ceritakan? Dia!!" jelas Aldi sembari menunjuk Daniella.
"Lah, gue kira cewek lain," Radit menghela napas.
"Kan gue udah bilang sama lo tadi, sebanyak apa pun dan secantik apa pun cewek di luar sana. Gue cuma mau sama dia!!" Aldi menegaskan kalimat itu, seketika Daniella memalingkan wajahnya.
"Ehem... Dan dia salah paham sama gue," sambung Cyintia menggoda.
"Lah itu gimana bisa?" Radit menyelidik.
"Hahaa... Gini, gini,....," Aldi pun menceritakan dengan rinci kejadian tahun lalu itu.
Daniella meminum coklatnya sembari membuang muka.
"Astaga!! Hahaa.....," Radit akhirnya memecah tawanya.
"Gimana bisa lo salah paham sama Cyintia? Lucu deh," Radit melanjutkan.
"Oh, gue paham sekarang. Lo bilang tadi udah kenal sama Cyintia kan? Tahun lalu gitu. Ternyata kejadian itu biangnya. Asli gue pengen ketawa dulu, lucu!!" Radit tidak bisa menghentikan tawanya.
"Pertanyaan gue belum terjawab!!" tukas Daniella.
"Oke gini, Beb. Aldi dan Cyintia itu sepupu, dari kecil mereka emang sedekat itu. Jadi kalau orang yang nggak kenal mereka, pasti mengira mereka pacaran. Nah, sedangkan Cyintia itu pacar gue. Kami pacaran sejak SMA, untuk masalah ini gue minta maaf sama lo karena dulu gue nggak pernah cerita ke lo. Lalu, keberadaan Aldi, itu juga gue akhirnya tahu setelah gue pergi ke Belanda saat itu, tapi gue sengaja nggak cerita ke lo, atas permintaan Aldi," Radit menjelaskan dengan rinci.
"Jahat lo!!" celetuk Daniella.
"Maaf," Radit akhirnya merasa bersalah, bagaimana pun ia tetap bertanggung jawab atas rusaknya hubungan Aldi dan Daniella, bahkan ia merasa sekarang semakin hancur.
"Oke, baiklah," akhirnya Daniella menerima.
"Terus, lo nggak mau minta maaf sama gue gitu? Kan lo udah salah paham sama gue," Aldi menggoda.
"Dihh, kan lo yang bikin gue salah paham," Daniella tidak terima.
"Oh, jadi di sini gue yang salah nih? Padahal saat itu lo yang tiba-tiba pergi tanpa mau dengar penjelasan dari gue," Aldi terus menggoda.
"Ya elah, iya deh iya, gue yang salah," kata Daniella kemudian.
"Terus? Udah?" tanya Aldi bernada menggoda.
"Astaga, iya deh, gue minta maaf," ucap Daniella bersungut.
"Dihh, masa minta maaf kayak gitu," Aldi memalingkan wajahnya.
"Terus mau lo gimana dah?" Daniella mulai naik darah.
"Yang bener lah," jawab Aldi.
"Huh," Daniella menghela napas panjang.
"Aldi sayang, gue minta maaf yaa," ucap Daniella kemudian.
Seketika Aldi merasa merinding mendengar Daniella memanggil sayang, walau ia tahu itu hanya gurauan.
"Ehem...," Radit dan Cyintia yang dari tadi melihat mereka pun tidak bisa menahan tawa lagi.
"Belum, gue nggak akan maafin lo sebelum lo nurutin satu permintaan dari gue," kata Aldi kemudian.
"Apa lagi? Lo mau ngerjain gue?" tanya Daniella.
"Jadi mau dimaafin atau kagak?" tantang Aldi.
"Nggak usah, gue nggak rugi ini," jawab Daniella sepele.
"Awas ntar dibawa mati, nggak sempat minta maaf lagi, nyesel lho," goda Radit.
"Ah, elah, iya deh iya. Apaan? Lo mau apa, Al?" Daniella pun mengalah.
"Hmm... Gini...," Aldi berhenti.
"Gini apa? Malah berhenti, ngomong yang benar bisa kali," Daniella tidak sabar.
"Minggu depan gue mau ke Spanyol. Lo harus temenin gue ke sana," kata Aldi.
"Berdua?" tanya Daniella.
"Iya lah berdua, masa satu komplek," jawab Aldi sinis.
"Dihh, ngapain deh ah? Ogah gue," Daniella menolak dengan ketus.
"Jadi benar nih, nggak mau dimaafin?" tanya Aldi lagi.
"Nggak ada yang lain apa? Permintaan lo aneh," Daniella menghabiskan sisa coklatnya.
"Nggak ada," jawa Aldi pasti.
"Ah, sial!! Curang nih tiga lawan satu," Daniella mengambil cangkirnya lagi, tapi ia baru ingat kalau baru saja ia menghabiskannya.
"Udah habis itu tuh, nih minum punya gue," Aldi menyodorkan cangkirnya.
Seketika Daniella mengambil cangkir itu dan meminumnya. Aldi tersenyum geli melihatnya. Sedangkan Radit dan Cyintia hanya bisa menahan tawa.
"Ya udah, gue ikutin mau lo," kata Daniella kemudian.
"Kayaknya itu cangkir manjur deh, Bro. Buat luluhin hati Dani," Radit pun tertawa.
"Tunggu!!" Daniella menyadari ada yang salah.
"Apa lagi?" Aldi tersenyum menggoda.
"Gue barusan minum bekas punya lo, Al?" Daniella menyadarinya.
"Menurut lo?" Aldi menggodanya.
"Lah, bangke!! Sengaja lo ya, ngasih bekas lo ke gue?" Daniella merasa tidak terima.
"Ya emang sengaja, lagian lo mau aja. Ya udah gue diemin lah," ucap Aldi.
"Lo!!" Daniella menahan amarahnya.
"Udah, udah. Cuma cangkir ini. Besok juga bakal ada yang lebih. Ribet amat," Radit memotong emosi Daniella.
"Yang lebih apa?" Daniella bertanya.
"Besok kalau emang udah waktunya lo akan tahu dengan sendirinya," jawab Radit santai.
"Ah, terserahlah," Daniella mengakhiri debatnya.
Setelah itu Daniella memesan satu cangkir expresso untuk Aldi, mengganti minuman Aldi yang tadi ia habiskan. Aldi tersenyum menggelitik. Radit dan Cyintia terus menggoda mereka. Kota Manchester kembali menjadi saksi cerita Daniella dan Aldi. Sampai akhirnya tiba waktu senja, dan Daniella kembali ke Kota London.
* * *