I Hate you

I Hate you
Sajak di Pagi Hari



"Andrean Rivaldi."


Daniella terkejut mendengar ucapan Radit.


"Shit!! Tapi nggak mungkin dia. Gue sama dia aja kalau ketemu kayak anjing sama kucing gitu. Lagi pula sekarang dia juga jarang kelihatan," Daniella mengelak.


"Iya, dia sibuk. Dan satu lagi, setahu gue dia nggak bisa buat puisi dan kata romantis kayak gitu," lanjut Radit.


"Jadi jelas bukan dia," Daniella meyakinkan.


"Lalu siapa?" Radit penasaran.


"Entahlah," Daniella pasrah.


***


Keesokkan harinya Daniella kembali menemukan kertas itu. Namun, ia sedikit lega setelah membaca isinya.


Satu kata maaf mungkin tidak cukup untuk aku ucapkan padamu.


Satu kalimat maafkan aku mungkin tidak akan menghapus semua salahku.


Mungkin kau sudah lelah mendengar semua kata tidak bermakna dariku.


Namun aku tidak akan lelah mengucapkan hal terindah tentangmu.


Maafkan aku yang tidak pernah lelah memandang wajahmu dari kejauhan.


Maafkan aku yang selalu mengganggumu di pagi hari.


Namun, ini adalah kali terakhir.


Esok kau tidak akan menemukanku dalam tulisan.


Kau akan mengetahui siapa diriku ini.


Akan aku tunjukkan diriku ketika pengumuman kelulusan.


Aku tidak berani berjanji, tetapi


Akan aku pastikan kau menemukan namaku di daftar nilai nomor satu.


Akan aku pastikan kau membaca namaku di atas sana.


Daniella Stefanie...


Maafkan aku yang tidak pernah berani bertatap denganmu.


Satu kalimat terakhir,


Aku mencintaimu.


-- AR --


Daniella shock seketika, tetapi akhirnya lega karena ia akan tahu siapa orangnya tidak lama lagi.


"Hei, lo ngapain bengong?" Radit mengagetkan.


"Baca nih!!" Daniella memberikan kertas itu kepada Radit.


"Widih lagi?" Radit menerimanya.


"Ya," Daniella mengangguk.


"Pasti. Gue udah nggak sabar pengen tahu siapa orangnya," ucap Daniella.


"Hmm, btw lo kayaknya mulai suka sama pengagum rahasia lo itu," goda Radit.


"Apaan? Ngaco! Gue aja nggak tahu siapa dia," elak Daniella.


"Tapi lo seneng kan ada yang bilang suka?" lanjut Radit.


"Dikit, haha...," jawab Daniella kemudian.


"Nah lho!!" mereka pun tertawa.


***


Tiba waktu yang ditunggu, hari pengumuman kelulusan. Para mahasiswa dan mahasiswi pun sudah berkerumun di depan papan pengumuman Fakultas Bahasa dan Sastra. Daniella dan Radit tiba dan lekas mencari nomor satunya, mereka justru tidak mencari nama mereka sendiri. Mereka fokus untuk mencari sosok misterius yang menjanjikan nomor satu itu.


"What?!!" Daniella sangat terkejut setelah membaca nama di urutan nomor satu itu.


Radit terdiam.


"Gue nggak tahu kalau akhirnya begini, Beb," ucap Radit.


"Lo yakin?," Daniella tersenyum sinis.


"Gue serius!!" Radit meyakinkan.


"Oke," Daniella berjalan menjauh dari kerumunan itu. Diikutin Radit di belakangnya.


*


Daniella terkejut setelah mengetahui siapa penghuni nomor satu itu.


"Beb," tegur Radit.


Daniella tidak menjawab. Entah ia masih terkejut, atau ia sekarang menahan amarah.


"Dani...," tegur Radit kembali.


"Eh, iya," balas Daniella.


"Kenapa bengong?" tanya Radit.


"Nggak papa kok," Daniella menyanggah. Namun Radit tahu bahwa Daniella memikirkan sesuatu.


"Jujur, Beb," bujuk Radit.


Radit mengetahui bahwa Daniella memikirkan sosok "AR" itu. Radit seolah merasa bersalah. Ia tidak menyangka bahwa akhirnya ternyata seperti ini.


"Ikut gue," ajak Daniella tiba-tiba.


*


"Yeah!! Bagus!! 'AR'...," celetuk Daniella sembari bertepuk tangan sinis.


Sebelumnya Daniella mengajak Radit ke lapangan basket indoor. Karena ia ingin kejelasan tentang sosok "AR" itu.


"Akhirnya gue tahu siapa orangnya!!" ucap Daniella kemudian.


* * *