
"Hei!!" seseorang datang mengagetkan.
"Oi, Bro," sapa Aldi.
"Hai, Sayang," sapa Cyintia membuat Daniella bingung.
"Halo, Beb," seseorang itu menyapa balik, sembari mencium kening Cyintia.
"Lho? Radit!!" Daniella kaget setelah menyadari bahwa orang itu ternyata adalah Radit.
"Eh, Dani?!" Radit pun tidak menyadari keberadaan Daniella.
Daniella dan Radit bertemu kangen, entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu.
"Woi, udah kali kangen-kangenannya. Lupa kalo ada yang punya?" Aldi menyadarkan.
"Ya ampun," Radit tersadar.
"Yang punya?" Daniella bertanya.
"Oh, iya, gue lupa. Dan, kenalin ini Cyintia," jelas Radit.
"Ya, udah kenal," jawab Daniella.
"Lah? Kapan? Barusan?" Radit merasa belum mengenalkannya.
"Tahun lalu," Daniella menjawab.
"Di mana? Gue rasa gue baru kali ini ketemu lo," ucap Radit.
"Di suatu tempat. Kita emang baru kali ini ketemu, tapi tidak dengan cewek ini. Gue pernah ketemu sebelumnya," jawab Daniella.
"Lah kok bisa?" tanya Radit penuh heran.
"Entah. Takdir kali," jawab Daniella dengan malas, karena secara tidak langsung ia harus mengingat kejadian tahun lalu itu.
"Oh, ya udah, syukur kalau udah kenal sama cewek gue," imbuh Radit.
"Lho?" Daniella melongo mendengar ucapan Radit.
"Ngobrolnya jangan disini bisa nggak? Panas nih," Cyintia mengeluh.
"Ke kafe aja, tapi jangan di London pasti penuh. Kita ke Manchester aja," kata Aldi.
"Jauh amat dah!! Nggak ada yang lebih dekat apa? Cuma mau ngobrol doang sampai pergi sejauh itu," protes Daniella.
"Lo mau desak-desakan disini? Gue mah ogah!!" Aldi memahami bahwa sepertinya Daniella ingin mereka kembali menjadi anjing dan kucing.
"Terserahlah!!" Daniella pasrah, ia hanya tidak ingin teringat perihal Manchester di tahun lalu itu.
"Udah, kalian dari dulu sampai sekarang nggak berubah," potong Radit.
"Ya udah, yuk pergi!" ajak Cyintia.
"Yuk," mereka menuju ke Manchester.
***
Manchester, kota yang mengingatkan Daniella akan kala itu. Mengingatkannya pada rasa sakit itu. Namun, setahun telah berlalu, ia pun sudah memutuskan untuk melupakan semuanya. Dan kembali menjadi ia yang dulu, Daniella yang tidak peduli dengan apapun.
"Nggak kok," jawab Daniella.
Aldi tersenyum melihatnya, seakan mengetahui bahwa Daniella teringat waktu itu.
"Lah, lo ngapain, Al? Malah senyum-senyum sendiri," tanya Radit ketika melihat Aldi.
"Ada deh," Aldi menggoda.
Daniella yang tahu apa maksud Aldi, memilih diam agar ia tidak terus teringat kala itu.
*
"Mau pesan apa?" tanya Cyintia setelah mereka sampai ke kafe.
"Gue coklat panas aja," cetus Daniella dan Aldi berbarengan.
"Ehem," Radit berdehem menggoda, sedangkan Cyintia tersenyum menggoda mereka.
"Apaan sih lo?" Daniella tidak terima.
"Lo yang apaan? Itu favorite gue kalo ke kafe ini," Aldi menyanggah.
"Itu mah favorite gue, nggak cuma di kafe ini," Daniella semakin tidak terima.
"Stop!" Radit menyela.
"Jadi pesan apa nih?" tanya Cyintia lagi.
"Expresso aja," ucap Daniella dan Aldi kembali berbarengan.
"Astaga! Elo! Maunya apa sih?" Daniella bersungut.
"Ya elo yang apa? Tadi gue pesan coklat, lo ikutan. Sekarang gue ganti expresso, lo ngikut juga. Ngajak ribut?" Aldi mulai bisa membiasakan dirinya.
"Mau ribut sama gue? Di sini? Ayo!!" Daniella bersiap.
"Udah cukup!!" Radit menghentikan mereka, sejak dulu memang hanya Radit yang bisa menengahi dua orang itu.
Daniella dan Aldi terdiam. Mereka saling membuang muka satu sama lain.
"Gini aja. Daniella pesan coklat panas. Aldi pesan expresso. Gimana? Deal?" tanya Radit kemudian.
"Deal," ucap Daniella dan Aldi berbarengan.
"Lo?!!" Daniella dan Aldi kembali berbarengan.
Akhirnya Daniella pun tidak ingin melanjutkan debatnya, begitu pun Aldi. Karena itu hanya akan membuat Radit dan Cyintia menggoda mereka.
Radit menatap Cyintia sambil menahan tawanya, begitu pun Cyintia yang dari tadi melihat mereka.
"Sayang, kamu pesan apa?" tanya Cyintia kemudian.
"Samain aja kayak kamu, Beb," jawab Radit.
"Oke deh," Cyintia bangkit, membawa kertas ordernya kepada pelayan kafe.
***