
Sudah satu jam Hanna terbaring di dalam kamarnya seorang diri. Tadi, ia sempat pingsan setelah pemakaman Robert. Namun, saat sudah sampai di rumah, ia berangsur-angsur siuman. Ia sadar saat tubuhnya masih dalam gendongan Felix yang hendak membawanya ke kamar. Lalu, dengan kekuatannya yang masih tersisa, ia meronta meminta Felix agar menurunkannya.
Tanpa ia duga, Felix menuruti keinginannya. Pria itu menurunkannya dari gendongan tanpa sepatah kata. Bahkan, saat Hanna memakinya dengan umpatan yang begitu kasar, Felix tidak bereaksi. Ia tidak tampak marah ataupun membalas makian Hanna dengan perlakuan kasar seperti yang biasa dia lakukan.
Sejujurnya, ada satu bagian dalam diri Hanna yang merasa berjalan saat memaki pria itu. Apalagi, saat mendapati reaksi berbeda yang Felix tunjukkan padanya. Namun, Hanna berusaha untuk tidak menghiraukannya. Ia masih terlampau marah dan sedih atas apa yang menimpanya hari ini.
Pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok Felix di sana. Di belakang Felix, ada seorang pelayan yang membawa nampan berisi makanan. Mereka memasuki kamar Hanna. Wanita itu hanya melirik Felix dan pelayan itu sekilas, tanpa minat.
Pelayan meletakkan nampan itu di atas nakas. Kemudian, Felix menyuruhnya pergi. Pria itu berdiri memperhatikan Hanna dalam diam.
"Aku tidak lapar," ujar Hanna ketus.
Felix mendengkus. "Walaupun begitu, kau harus tetap makan. Kau belum makan atau minum apa pun sejak tadi siang."
Hanna tersenyum sinis lalu menatap Felix tajam. "Kenapa juga kau harus peduli? Bukankah selama ini kau tidak peduli apakah aku masih bernapas atau tidak? Kenapa sekarang kau bersikap seolah-olah kau peduli kondisiku?"
Rahang Felix mengeras. Hanna dapat melihatnya dengan jelas. Tatapannya pun menggelap. Pria itu tersinggung oleh perkataannya. Namun sekali lagi, Hanna tidak ingin peduli. Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau pikir dengan sikapmu yang begini daddymu dapat hidup kembali? Jangan bodoh, Hanna!" Felix menyindir. Hanna mendelik pada Felix.
"Aku tidak bisa! Aku tidak bisa menerimanya karena semua ini terjadi karena dirimu!" Hanna berteriak marah. Air matanya kembali tumpah. "Andai saja kau tidak pernah terobsesi padaku dan membenciku, semua ini tidak akan pernah terjadi! Daddyku pasti hidup saat ini. Aku pun telah hidup bahagia bersama Michael dan anak kami—"
"—andai saja kau tidak menolakku dan mengataiku dengan sebutan itu, maka aku tidak akan bertindak sejauh ini, Hanna!" Felix balas berteriak sambil mencengkeram kedua bahu Hanna dengan kuat.
"Kalau saat itu aku tidak mencintaimu, maka aku tidak akan pernah membencimu. Alasan terbesarku bisa membencimu hingga sedalam ini justru karena aku sedang jatuh cinta padamu saat itu. Kau mengataiku dengan kata-kata yang sama persis yang dikatakan oleh mamaku orang yang begitu kucintai, tapi begitu membenciku setengah mati. Kau mengingatkanku padanya. Maka dari itu, kebencianku padanya berlanjut padamu. Lalu, salahku bila aku jatuh cinta padamu saat itu?"
Hanna tersentak. Tatapan tajamnya pada Felix kian memudar. Hanna menunduk. "Tidak ada yang salah ketika kita jatuh cinta pada seseorang karena kita tidak bisa memilih pada siapa cinta kita akan berlabuh," ucap Hanna lirih. Tiba-tiba ia merasakan nyeri pada dadanya. Terasa sakit sekali. Entah apa penyebab Hanna merasa begitu.
Felix tersenyum miring. "Benar, kita tidak bisa memilih pada siapa kita akan jatuh cinta, bukan? Itu juga yang kurasakan padamu. Mana kutahu kalau aku akan jatuh cinta padamu yang ironisnya membenciku karena sikap brengsekku? Mana kutahu kalau kau akan memakiku dengan kata-kata itu hingga membuatku benci padamu dan akhirnya terobsesi untuk menghancurkanmu?"
Hanna mendongak. Ia menatap Felix tak terima. "Tapi kau juga tidak bisa memaksakan cintamu, Felix. Saat itu, kau terlalu memaksakan perasaanmu padaku. Bahkan, kau juga menyakiti Michael yang saat itu berstatus sebagai sahabatku hanya karena kau cemburu. Aku tidak bisa menerimanya, maka dari itu aku begitu marah padamu. Aku juga tidak tahu kalau perkataanku bisa melukai hatimu hingga sedalam itu."
Kini, Felix dan Hanna berakhir dengan adegan saling menatap satu sama lain. Namun, perlahan cengkeraman Felix melemah. Dengan rahang yang mengeras, Felix melepaskan cengkeramannya pada bahu Hanna kemudian menegakkan kembali badannya.
"Aku tidak mau tahu, kau harus menghabiskan makananmu." Hanya itu yang Felix katakan pada Hanna sebelum dia berbalik hendak meninggalkan kamar itu.
Prangg!!