
Pranggg!!!
Belum sempat Felix melangkah pergi, Hanna tiba-tiba membanting nampan berisi makanan itu ke lantai. Piring dan gelas di atas nampan pecah berserakan. Makanan dan minumannya pun berceceran. Felix berbalik dan menatap Hanna yang sudah berdiri di dekat ranjangnya dengan tatapan tak habis pikir.
"Hanna, apa yang k--"
"Bunuh aku!"
Hanna mengucapkan kalimatnya berusan sambil mengulurkan garpu yang di genggamnya kepada Felix. Air mata tak henti mengalir di pipi tirus itu. Ia menggigit bibirnya, menahan semua rasa takutnya saat mengatakan kata-kata terkutuk itu.
Felix membulatkan mata terkejut. Ia menatap Hanna seolah wanita itu sudah gila.
"Apa-apaan kau ini, hah?! Apa kau sudah tidak waras?" Felix mendesis tak suka. Rahangnya mengeras dan tangannya pun terkepal kuat di sisi tubuhnya.
Hanna tersenyum sinis. "Benar, aku tidak waras. Kau tidak mau melepasku, bukan? Katakan, apa alasannya?! Apa karena kau takut tidak bisa lagi menyakitiku secara fisik maupun batin? Kau sudah sering menyakiti batinku. Hari ini adalah puncak di mana aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitku. Maka dari itu, lebih baik kau menuntaskan balas dendammu saat ini juga dengan cara membunuhku, Felix. Aku lebih baik menyusul daddyku dan Michael yang sudah lebih dulu mati karena dirimu. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku muak."
Felix berjalan cepat menghampiri Hanna yang menegang saat laki-laki itu menghampirinya. Hanna memekik tertahan saat Felix mencengkeram kuat bahunya. Garpu di tangannya tak sengaja terjatuh.
"Kau ingin mati? Sungguh kau menginginkannya?!" Felix bertanya dengan nada tinggi.
"Ya! Aku ingin mati! Aku ingin mengakh—"
Plakk!!
Felix menampar pipi Hanna dengan cukup keras. Wajah Hanna sampai meneleng ke samping akibat kerasnya tamparan Felix. Mereka berdua sama-sama terengah setelah kejadian itu. Namun, tak lama kemudian, isakan terdengar dari bibir Hanna.
"Kau bodoh atau apa, hah?! Bisa-bisanya kau bicara seperti itu! Kau pikir aku akan membiarkanmu mati?! Itu sama saja aku melepasmu, Bodoh! Aku tidak bisa melepasmu sampai kapanpun! Tidakkah kau mengerti?!" Felix menggoncangkan bahu Hanna.
"Tapi kenapa?" Hanna menoleh sambil berujar lirih. "Kau ingin menghancurkanku dan menyakitiku, bukan? Ini adalah saat yang tepat untuk membuatku semakin hancur, Felix! Bunuh saja aku agar kau puas. Bukankah kau tidak suka bila ada orang lain yang menyakitiku selain dirimu? Kau juga tidak suka menyakiti diriku sendiri. Maka dari itu, hanya kau yang bisa membunuhku, Felix."
"Tapi aku tidak bisa membunuhmu, Hanna!" Felix berteriak frustrasi. "Aku tidak bisa melakukannya karena kupikir aku ...." Felix berhenti bicara. Dia menatap Hanna lama sebelum berkata, "Lupakan!"
"Apa alasanmu, hah?! Katakan padaku apa alasanmu tidak bisa membunuhku, Felix Huang—"
"—aku hanya tidak bisa saja melakukannya!" Felix kembali berbalik dan mencengkeram bahu Hanna kuat. "Tidak bisakah kau berhenti melakukan hal bodoh?"
"Tidak." Hanna mendorong dada Felix agar menjauh. Ia menatap Felix marah dan benci. Ia mendengkus. "Kau tidak bisa membunuhku? Baik, kalau begitu biar aku yang membunuh diriku sendiri!"
Tiba-tiba Hanna kembali mengambil garpu yang tergeletak di lantai. Tanpa basa-basi ia segera menghunuskan garpu itu ke arah dadanya, jantungnya. Namun, Jungkook dengan sigap menahannya. Sekarang aksi saling tarik terjadi.
"Hanna, jangan gila! Lepaskan garpu ini!" Felix mencoba merebut garpu dari tangan Hanna.
"Tidak! Kau yang harus melepaskanku! Biarkan aku mati, Felix!"
Srettt!
"Argh!"
Seseorang memekik kesakitan. Sementara yang lain syok dan melepaskan garpu ditangannya.
"Felix ...." Hanna berkata lirih sambil menatap Felix yang memegang lengannya yang berdarah. Felix tampak meringis akibat rasa perih yang ditimbulkan oleh goresan garpu yang cukup dalam dilengannya yang telanjang itu. Rasa bersalah seketika menyerang Hanna.
Dengan tangan bergetar, Hanna mencoba menggapai Felix. Namun, Felix menolaknya.
"Tidak, menjauhlah dariku Hanna!" ujar Felix waspada. Tatapan dan perkataan Felix yang dingin membuat Hanna enggan.
"M-maafkan aku, Felix. A-aku tidak bermaksud---"
"Lebih baik sekarang kau beristirahat dan jernihkan otakmu! Aku akan menyuruh pelayan untuk membersihkan semua kekacauan ini dan membawakanmu makanan yang baru."
Lalu, sambil sesekali meringis, Felix berbalik meninggalkan kamar Hanna. Sementara Hanna hanya mampu terdiam di tempatnya