I Hate you

I Hate you
Hujan



"Daniella Stefanie!!"


"Dia kenapa?" tanya Cyintia semakin heran.


"Gue juga nggak tahu," Aldi menggeleng penuh keheranan.


"Kejar sana, bodoh!!" Cyintia menyuruh.


"Bener juga. Gue pergi," Aldi mengejar Daniella yang berlari menjauh.


*


"Dan...," kembali Aldi memanggil, tapi Daniella tetap acuh.


Hujan mulai turun, Daniella terus berlari tanpa tujuan. Sedangkan Aldi terus mengejar di belakangnya.


"Dan, tunggu!!" Aldi kembali berteriak, tapi Daniella tetap tidak peduli.


Lambat laun hujan pun semakin deras, air mata Daniella kembali jatuh.


"Dani!! Lo kenapa?!" Aldi berteriak lebih keras untuk menandingi suara air hujan.


Daniella masih saja berlari tidak menghiraukan Aldi. Di tengah derasnya hujan itu ia kembali menangis. Air mata kedua karena orang yang sama. Daniella tidak pernah bisa menangis, ia selalu tegar apa pun yang dihadapinya. Sampai suatu ketika ia mengenal Aldi, dan saat itu pula Aldi meninggalkannya begitu saja. Dan sekarang ia meneteskan air mata karena orang yang sama pula, Aldi. Ia terus berlari di bawah hujan, tidak peduli dengan teriakan-teriakan Aldi yang terus menggema.


Daniella tidak mengerti, untuk apa ia menangis, dan untuk apa ia berlari. Dia hanya merasa dadanya mulai sesak, pikirannya mulai kosong, tidak tahu apa yang telah terjadi kepada dirinya saat ini.


Daniella hanya menyadari bahwa sesaat nafasnya sesak, hatinya sakit ketika melihat Aldi bersama perempuan lain. Apakah benar kata Radit, bahwa ia mulai mencintai sosok Aldi? Ia belum juga memahami itu.


Akhirnya Daniella pun tidak sanggup lagi berlari, ia jatuh terduduk di tepi jalan.


"Astaga!" ucap Aldi terkejut melihat Daniella tiba-tiba terduduk.


"Dani!!" panggil Aldi kembali.


Daniella terdiam. Aldi segera berlari menuju Daniella yang kini duduk diam di bawah derasnya hujan.


"Lo kenapa? Kenapa tiba-tiba pergi gitu aja?" Aldi bertanya.


Daniella masih diam, tapi air matanya terus mengalir. Akhirnya Aldi menyadarinya.


"Lo nangis?" tanya Aldi bernada khawatir, ia pun membangunkan Daniella agar berdiri.


Daniella tidak menjawabnya, ia terus diam. Pikiran Daniella tidak menentu, entah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat itu.


Namun, kalimat itu justru membuat Daniella semakin merasa sesak dan hatinya semakin sakit.


"Dan, please. Answer me! What happen with you?" Aldi terus mencoba.


"Please, Dan. Jawab!!" Aldi memohon.


Daniella semakin tidak bisa menahan rasa sakitnya.


"Dan, jujur sama gue. Lo kenapa? Lo jangan buat gue merasa bahwa gue yang udah buat elo kayak gini lagi. Gue sayang sama lo, gue nggak akan pernah sanggup melihat orang yang gue sayang tersakiti, apalagi karena gue. Gue akan tersiksa banget, Dan. Gue sayang sama lo, seperti apa yang dulu gue bilang. Perasaan gue nggak akan berubah. Gue tetep Aldi yang dulu. Aldi yang sayang dan cinta sama Dani," Aldi mulai berkaca-kaca, tapi tertutup oleh air hujan yang terus turun.


Mendengar kalimat seperti itu, perasaan Daniella seperti tertusuk. Di satu sisi, ada rasa yang tidak ia kenal dalam dirinya saat ini. Namun, di sisi yang lain, ia merasakan sakit luar biasa pada hatinya. Melihat seorang Aldi di depannya saat ini, mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya.


"Dani," Aldi mencoba memegang tangan Daniella, berharap ia mendapat penjelasan.


"Sorry, I have to go!!" ucap Daniella sembari menepis tangan Aldi.


"Dan, tunggu," Aldi menarik tangan Daniella.


"Maaf, aku harus pergi!!" Daniella kembali menepis tangan Aldi.


"Taxi!!" Daniella memanggil taksi yang melewatinya.


"Dan!!"


"Dani!!"


"Daniella!!"


"Daniella Stefanie!!"


Aldi berteriak sekeras mungkin, tapi Daniella telah melaju dalam taksi.


Aldi jatuh terduduk, ia menenggelamkan dirinya di bawah hujan yang turun deras saat itu. Pikirannya tidak menentu, Aldi tidak mengerti akan sikap Daniella yang berubah tiba-tiba seperti itu. Dadanya mulai sakit mengingat Daniella yang tidak pernah menangis akhirnya mengeluarkan air matanya. Untuk kedua kalinya, karena dirinya.


*


Dalam taksi, Daniella memikirkan kalimat Aldi tadi. Satu sisi ada rasa yang tidak dimengertinya, bahwa dirinya bahagia ketika Aldi berkata bahwa dia masih mencintai Daniella. Namun, di sisi lain kalimat itu membuat sakit di hatinya semakin perih, mengingat betapa mesranya Aldi bersama sosok perempuan bernama Cyintia itu, dan Aldi memanggilnya dengan sebutan 'Beb', juga 'Sayang'.


* * *