
"Hei, Leo Zhang! Kenapa kau terus mondar-mandir seperti itu, hah?! Kau membuatku pusing, asal kau tahu saja."
Sean mengomeli Leo yang sejak datang ke rumahnya langsung meluapkan keluh kesahnya padanya lalu berakhir dengan mondar-mandir di hadapannya sambil tampak berpikir. Oh, ayolah! Sean hari ini tidak pergi ke rumah sakit karena ingin bersantai, bukannya untuk mendengar keluh kesah pria yang sudah hampir seumur hidup menyandang gelar sebagai sahabatnya itu.
Karena Leo masih betah mondar-mandir dan berkomat-kamit tak jelas, Sean pun hanya menghela napas jengah.
"Astaga, Leo Zhang, sebenarnya kau ini kenapa?!" Akhirnya Sean berteriak frustrasi di hadapan Leo. Leo terkejut dan menghentikan langkahnya. Ia mengerjap kaget pada Sean yang menatapnya seolah ingin mengulitinya.
"Maaf."
"Permintaan maafmu tidak penting!" tukas Sean tajam. "Sekarang, katakan pelan-pelan apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiranmu?! Kalau kau hanya mondar-mandir dengan mulut yang berkomat-kamit tidak jelas, mana bisa aku membantumu?"
Sean mengakhiri omelannya dengan helaan napas kesal.
"Well, sebenarnya aku sedang bingung dengan perubahan sifat dan sikap seseorang, Sean." Leo akhirnya buka suara.
Sean mengernyit menatap Leo. "Perubahan sifat dan sikap siapa itu?"
"Ada seseorang yang kukenal yang sejak beberapa hari yang lalu sifat dan sikapnya sangat berbeda dari sebelumnya. Biasanya dia tampak dewasa dan anggun, tapi akhir-akhir ini dia—"
"Oh, jadi ini tentang seorang wanita?" Sean yang tadinya tampak kesal, kini justru menatap Leo dengan tatapan yang menggoda sahabatnya itu. Ia menaik turunkan alisnya sambil memicing menatap pria yang tiba-tiba berubah panik itu.
"H-hei, ada apa dengan alis dan tatapanmu itu?! Memangnya kenapa kalau ini soal seorang wanita?" tanya Leo tak terima. Sungguh, ia malu sekali pada Sean yang bermulut seperti wanita itu.
"Is it about your Tinkerbell? Diakah yang mau kau bicarakan sejak tadi?"
Leo berdehem pelan untuk menutupi rasa malunya. "You're right. It's all about her." Leo mencicit.
Lantas, Sean tertawa. Bukan sekedar tawa pelan, melainkan tawa yang begitu menggelegar. Bahkan, pria itu tertawa sambil memegangi perutnya saking gelinya. Leo kesal dibuatnya.
"Ya Tuhan, Leo! Kau masih saja memikirkan istri orang, rupanya? Kukira kau sudah bisa move on dari masa lalumu."
"Aku memang sudah move on darinya, Sean. Aku hanya heran saja dengan sifat dan sikapnya yang berbeda. Aku hanya merasa dia seperti orang asing saja bagiku. Aku penasaran, kira-kira apa penyebab dia bisa seperti itu."
Sean bergumam pelan sambil mengangguk paham. "Lalu, apa saja yang berubah darinya?"
Sean menggiring Leo ke dapur. Ia memutar konter dapur untuk mengambil gelas dan teko air. Lalu, ia menuangkan air ke gelasnya kemudian meminumnya. Ia menawarkan pada Leo. Namun, Leo menolak.
"Dia menjadi kekanakan dan moodnya mudah sekali berubah. Nafsu makannya menjadi besar. Ia bersikap seakan ia ingin berada terus di sisi suaminya dan lupa pada sikap buruk suaminya selama ini. Kira-kira dia kenapa?"
Sean berpikir, beberapa detik kemudian, Sean terkekeh. Leo mengernyit tak mengerti.
"Kau tahu, Leo? Yang kau sebutkan tadi adalah gejala psikologis seseorang yang sedang hamil."
Leo melotot lebar. "Jadi maksudmu, dia hamil?!"
Sean tersenyum miring kemudian mengangguk pasti.