I Hate you

I Hate you
Part 32



Rasanya baru kemarin Hanna menginjakkan kakinya ke area pemakaman ini untuk mengunjungi makam Michael. Baru kemarin juga ia menyadari bahwa tunangannya itu sudah dua tahun lamanya meninggalkan dunia fana ini, meninggalkan dirinya dan mimpi indah mereka. Namun hari ini, Hanna kembali dihadapkan oleh kejadian yang berhasil merenggut kebahagiaannya dua tahun silam.


Kematian.


Benar, hari ini, detik ini, Hanna sedang menghadiri pemakaman seseorang. Parahnya, baru kemarin ia menumpahkan segala kerinduan dan keluh kesahnya pada orang itu kemarin adalah pertemuan mereka yang terakhir.


Ayah Hanna, Robert Pattinson Osment baru saja dimakamkan. Beliau mengembuskan napas terakhirnya hanya beberapa jam setelah Hanna menjenguknya.


Hanna tentu saja merasa sangat sedih. Dunianya hancur sudah. Alasannya untuk terus bertahan hidup kini sudah tiada. Ia telah kehilangan semua orang yang disayanginya. Kini, tak ada lagi yang tersisa selain dirinya.


"Hanna, kuatkan dirimu." perkataan Leo mengalun lembut memecah keheningan yang tercipta setelah para pelayat pergi meninggalkan pemakaman. Di sana, hanya ada Hanna, Felix, Leo, Kevin, dan Sean.


Hanna yang masih berjongkok di dekat nisan ayahnya hanya mampu semakin terisak. Kevin dan Sean memperhatikannya dengan tatapan prihatin. Sedangkan Felix wajahnya tampak datar. Namun, dalam hati ia sebenarnya juga ikut terluka melihat Hanna tak henti-hentinya menangisi kematian ayahnya.


Felix juga tak mengerti kenapa ia begitu khawatir pada Hanna. Bahkan, setelah dokter yang menangani ayah Hanna- memberitahunya secara langsung soal kematian ayah Hanna tanpa babibu ia langsung membatalkan meeting terakhir dengan Mr. France dan terbang ke Singapura.


Namun, tetap saja, walaupun merasa khawatir, ia tidak bisa menunjukkannya pada orang lain terutama Hanna sendiri. Ia ingin orang-orang tetap menilainya sebagai sosok yang dingin dan tidak berperasaan.


"Hanna, aku harus pergi. Kau harus tetap tabah, ya?" Kevin mulai pamit undur diri. Sean melakukan hal yang sama sambil menepuk pelan bahu Hanna.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan! Kau harus kuat agar daddymu tenang di sana." Sean berpesan sebelum pergi.


Hanna tak dapat membalas perkataan Kevin dan Sean yang kini sudah beranjak pergi dari pemakaman.


Tersisa Felix dan Leo yang berdiri di belakang punggung Hanna yang bergetar. Leo melirik pada Felix yang raut wajahnya begitu datar. Ia mendengkus.


"Bahkan di saat seperti ini hatimu masih juga beku?" Leo bicara serupa bisikan pada Felix. Ia merasa tak habis pikir pada Felix lantaran raut wajah pria itu yang tak menunjukkan emosi apa pun.


Ujung bibir Felix tertarik ke atas. Tanpa menoleh, ia balas berbisik, "Jangan menilai sesuatu hanya dari luarnya, Leo. Kau tidak tahu apa yang kurasakan dan kupikirkan saat ini. Jadi diam saja!"


Leo bungkam. Ia pikir pintu hati pria itu sudah terketuk oleh perkataannya tempo hari di makam Justin dan Jiangxi, mengingat kemarin dia berbaik hati mengizinkan Hanna menjenguk ayahnya yang ironisnya menjadi kali terakhir mereka berjumpa. Namun, sepertinya Leo salah sangka.


Mendengar Felix menekankan kalimat terakhirnya membuat Leo yang tadinya hendak berada lebih lama di sana jadi urung melakukannya. Ia mengembuskan napas perlahan lalu kembali menepuk bahu Hanna pelan.


"Sekali lagi, kuatkan dirimu, Hanna. Inilah yang terbaik yang diberikan Tuhan untuk daddymu."


Lalu, setelah mengatakannya, Leo pamit undur diri. Sebelum pergi, ia meletakkan tangannya di bahu Felix kemudian berbisik, "Sekali ini saja, kumohon jaga dia, Felix. Pahamilah situasinya saat ini." Leo menepuk bahu Felix dua kali kemudian benar-benar pergi.


Kini, hanya ada Hanna dan Felix. Felix sengaja membiarkan Hanna sibuk menenggelamkan dirinya dalam kesedihan. Mungkin nanti jika sudah lelah menangis, Hanna akan berhenti sendiri. Toh, ia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Hanna. Ia tidak pandai menenangkan seseorang yang sedang dilanda kesedihan.


"Apa sekarang, kau puas Felix?" kata Hanna pelan. Felix mengernyit tak mengerti. Namun, ia tidak menimpali perkataan Hanna.


"Karena dirimu, daddyku koma, dan sekarang, dia meninggal. Itu semua karena dirimu, karena kebrengsekanmu," lanjut Hanna dengan nada bicara sarat akan kebencian.


"Sekarang, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku sudah benar-benar hancur. Kau pasti senang kan melihatku terpuruk seperti ini? Atau jangan-jangan kau masih belum puas juga?"


Felix tidak menjawab. Ia masih setia bertahan dengan wajah datarnya. Namun, rahangnya mengeras. Dalam hati, sebenarnya ia merasa sakit juga karena Hanna menuduhnya macam-macam. Semua yang dikatakan oleh Hanna barusan seharusnya memang apa yang ia rasakan saat ini, bukan? Tapi kenyataannya tidak sama sekali. Ia sama sekali tidak bisa merasa senang melihat Hanna terpuruk dan hancur seperti ini.


"Sekarang, apa lagi yang akan kau lakukan untuk menyakitiku, Felix?" Hanna sudah berdiri dan kini menatap Felix dengan tatapan yang menyiratkan rasa sakitnya. "Kau sudah tidak punya alasan untuk menahanku tetap berada di sisimu. Kau tidak bisa mengancamku lagi. Daddyku yang selama ini kau jadikan sebagai tawananmu sudah tidak ada lagi. Jadi, seharusnya sekarang kau sudah bisa melepaskanku, bukan? Aku sudah tidak punya alasan untuk menuruti setiap perkataanmu lagi. Aku bisa pergi darimu."


Kali ini, Felix bereaksi. Ia mencebik. Lalu, ia mendekatkan tubuhnya pada Hanna. Tatapan yang ia tujukan pada Hanna begitu tajam. "Melepasmu?" Felix menyunggingkan senyum sinis. "Kau bercanda? Kau pikir dengan meninggalnya daddymu aku akan berhenti menahanmu di sisiku? Tentu saja tidak, Hanna Osment. Sudah kukatakan berulang kali kalau kau adalah milikku, bukan? Maka selamanya kau akan tetap jadi milikku apa pun yang terjadi."


"Tapi kenapa?!" Hanna menjerit frustrasi. Ia menyugar rambutnya kasar. Air mata semakin membanjiri pipinya. "Kenapa aku harus terus menjadi milikmu sementara yang kau lakukan padaku selama ini hanya untuk menyakitiku? Niatmu sejak awal adalah untuk menyakitiku, menghancurkanku bukan? Aku sudah terlampau sering merasa tersakiti oleh sikap bejat dan brengsekmu. Aku sudah terlalu hancur saat ini apalagi setelah kematian daddyku. Lalu, sekarang apalagi yang kau harapkan dariku?!"


Hanna meraung. Kemudian, ia melayangkan pukulan bertubi pada dada Felix. "Aku membencimu, Felix Alley Huang! Kau jahat! Iblis! Seharusnya, kau saja yang mati!"


Alih-alih marah dan membalas perlakuan Hanna dengan tindakan kasar seperti yang biasa ia lakukan, Felix justru diam dan membiarkan Hanna memukulinya tanpa ampun. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh pukulan Hanna tidak seberapa bila dibandingkan dengan perkataan Hanna yang seolah menusuknya tepat dijantung. Felix hanya bisa mengepalkan tangannya kuat di sisi tubuhnya.


Lama-kelamaan, pukulan Hanna melemah. Tahu-tahu, tubuhnya ikut melemas kemudian ia jatuh pingsan. Felix dengan sigap menangkap tubuh Hanna. Ia tampak begitu terkejut.


"Hanna, bangun!" Felix menepuk pipi Hanna pelan. Ia tampak khawatir. Hanna bergeming. Lalu, Felix menggendongnya lalu buru-buru meninggalkan area pemakaman.