
Rupanya Hanna tidak hanya muntah sekali pagi itu. Tepat setelah Felix keluar dari kamarnya, ia kembali muntah. Bahkan setelah ia selesai mandi, ia kembali dihadapkan pada situasi yang sama. Hal ini tentu saja membuat tubuh Hanna lemas dan ia pun tidak bernafsu makan. Akhirnya ia hanya bisa meringkuk di ranjang hampir seharian ini.
"Sudah hampir menjelang makan siang. Nyonya yakin belum mau makan? Seharian ini Nyonya belum makan apa-apa."
Kepala pelayan berdiri di dekat ranjang Hanna sambil memperhatikan Hanna yang berbaring lemah dengan tatapan khawatir.
Hanna tersenyum lemah lalu menggeleng. "Tidak, Kepala pelayan. Aku masih merasa mual. Aku takut akan muntah lagi. Aku makannya nanti saja, ya?"
"Tapi, apa salahnya jika Nyonya mencoba untuk makan sedikit saja? Cobalah makan beberapa suap saja, bagaimana?"
Hanna memperhatikan raut Kepala pelayan sejenak kemudian tertawa kecil. Kepala pelayan mengernyit tak mengerti.
"Anda tahu? Anda sangat mirip dengan Bibi Chen. Beliau adalah pelayan di rumahku dulu. Beliau begitu perhatian padaku seperti Anda. Dia seperti mommy kandungku."
Hanna menerawang, ia seketika merindukan sosok pelayan setia keluarganya itu. Hanna sudah mengenalnya sejak ia masih bayi. Jadi, wajar saja bila ia sangat menyayanginya. Sayang, saat ayahnya bangkrut, beliau meminta Bibi Chen untuk pensiun. Sekarang, Hanna tidak tahu di mana keberadaan wanita paruh baya itu.
"Bicara tentang Bibi Chen membuatku ingin makan dimsum. Bisakah pelayan membuatkannya untukku?" Hanna menatap Kepala pelayan dengan penuh harap.
Kepala pelayan tersenyum lalu mengangguk pasti. "Tentu saja, Nyonya."
Lantas, Hanna tersenyum semringah lalu bangkit dari ranjang. Tiba-tiba ia menjadi begitu bersemangat, seolah tadi tubuhnya tidak terasa lemas sama sekali. Kepala pelayan agak heran dengan sikap Hanna yang berubah drastis ini.
"Nyonya mau ke mana?" tanyanya saat Hanna hendak melangkah. "Nyonya kan masih lemas, kenapa tidak menunggu saja di sini? Saya akan membawakannya kemari kalau sudah matang."
Hanna menggeleng lalu tersenyum lebar. "Aku ingin ikut membuat dimsumnya. Dulu, aku juga sering membantu Bibi Chen di dapur saat membuatnya. Sekarang, aku ingin melakukannya lagi. Tidak apa-apa, 'kan?"
Kepala pelayan tampak ragu. Ia memperhatikan wajah memelas Hanna tidak yakin. "Eum, sebenarnya tuan Felix melarang kami untuk membiarkan Nyonya untuk bekerja di dapur."
"Karena tuan Felix bilang beliau tidak ingin Nyonya terluka. Di dapur banyak sekali benda-benda yang bisa membahayakan keselamatan Nyonya, jadi tuan Felix meminta kami untuk menjauhkan Nyonya dari dapur."
Mendengar penjelasan itu membuat Hanna yang tadinya kesal menjadi tercenung. Lalu, ia teringat akan kejadian kemarin saat ia hendak menikam jantungnya sendiri dengan garpu yang justru melukai Felix. Rasa bersalah yang sejak kemarin dirasakannya pun kembali menghantuinya.
"Nyonya Hanna?"
Hanna terkesiap. "Oh? Ah, baiklah kalau begitu aku menunggu di ruang makan saja, ya?"
"Silakan, Nyonya."
***
"Jadi, sekarang Hanna sudah mau makan?"
Felix bertanya pada John lewat sambungan telepon. Tadi pagi, setelah ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Hanna muntah, ia menjadi terus kepikiran oleh wanita itu. Apalagi, setelah Kepala pelayan memberitahunya bahwa Hanna muntah hingga tiga kali yang membuat tubuhnya lemas dan tidak bernafsu untuk makan. Jujur saja, ia merasa tidak tenang.
"Benar, tuan. Pelayan sedang membuatkan nyonya dimsum," balas John diujung sambungan.
"Dimsum?" Felix mengernyit heran. "Kenapa pelayan membuatkannya dimsum? Bukankah ia sedang sakit? Seharusnya pelayan membuatkan bubur untuknya."
"Nyonya sendiri yang memintanya, tuan."
Felix makin heran setelah mendengar perkataan John. Aneh, batinnya. Kenapa orang sakit malah minta dibuatkan dimsum? Felix menggeleng tak habis pikir.
Felix pun mengakhiri panggilan. Lalu, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, tidak peduli walaupun waktu makan siang sudah tiba.