I Hate you

I Hate you
Yang Lain



Setelah itu, Aldi akhirnya tahu bahwa Daniella kembali ke Indonesia selang 3 hari setelah pertemuannya di Manchester saat itu. Dan setahun sudah berlalu sejak kejadian itu.


Aldi tidak mengerti harus bagaimana. Dia atau pun Cyintia tidak mungkin pergi ke Indonesia, karena studi mereka tidak bisa ditunda. Aldi akhirnya mengetahui satu hal, bahwa Daniella memutuskan untuk pergi darinya, bahkan menjauh darinya. Namun, perasaannya tidak akan diubahnya. Ia telah berjanji untuk selalu mencintai Daniella, dan harus melihat Daniella bahagia. Walau ia sangat menyadari bahwa kebahagiaan Daniella bukan bersamanya.


"Gue nggak tahu harus gimana lagi, Beb," ucap Aldi kepada Cyintia.


"Udah lah. Santai aja, tenangin diri lo deh," jawab Cyintia.


"Gue nggak ngerti. Apakah segitu marahnya dia sama gue? Sampai dia nggak mau maafin gue," Aldi tertunduk.


"Slow lah, kalau dia berbesar hati dia pasti maafin lo kok," ucap Cyintia.


"Gue nggak yakin, Beb, gue rasa dia nggak akan mungkin bisa maafin gue. Buktinya aja dia sampai segininya sama gue," Aldi berkecil hati.


"Udah deh. Gue yakin dia pasti maafin lo kok. Gue lihat dia buka tipe seorang yang pendendam. Mungkin gue emang belum kenal dia. Tapi sesaat gue lihat dia itu special. Percaya sama gue deh," Cyintia meyakinkan.


"Tapi, Beb, setahun udah berlalu. Dia benar-benar menghilang begitu saja. Bahkan tiga kata yang gue terima tahun lalu itu, gue rasa dia sungguh-sungguh membenci gue. Tiga kata saat itu bikin gue ngerasa nggak punya semangat lagi buat lanjutin hidup gue, nyawa gue seakan hilang dibawa dia," ucap Aldi.


"Lebay lo ah!! Udah yakin aja deh, percaya sama gue!! Suatu ketika kalian akan bertemu lagi. Entah kapan dan di mana," sambung Cyintia.


"Semoga," Aldi mencoba berharap.


***


Satu minggu berlalu, Aldi menjalani hari-harinya tanpa semangat, sama seperti satu tahun terakhir. Sejak ia merasa kehilangan Daniella untuk kedua kalinya. Bahkan Cyintia merasa setahun ini Aldi bagaikan mayat hidup, tanpa semangat, tanpa ekspresi. Semuanya datar, bahkan nyaris tidak pernah lagi Cyintia melihat Aldi tertawa, tersenyum pun tidak. Cyintia merasa kehilangan Aldi yang ia kenal.


"Al, lo ada ujian yang lain kagak?" tanya Cyintia di sore hari.


"Kagak ada, kenapa, Beb?" kata Aldi secukupnya.


"Berarti besok udah bisa libur dong?" Cyintia melanjutkan pertanyaannya.


"Bisa," jawab Aldi singkat.


"Kalau gitu, beberapa hari lagi temenin gue ke London ya?" Cyintia meminta.


"Ngapain?" tanya Aldi, nggak biasanya Cyintia ada acara sejauh itu.


"Aduh, apaan sih, Beb?" Aldi merasa tidak nyaman.


"Hahaa... Ntar juga tahu. Ikut aja udah," kata Cyintia.


"Ya udah, iya. Puas? Bawel," Aldi akhirnya menyetujuinya.


"Nah, gitu dong. Itu namanya Aldi yang gue kenal," ucap Cyintia.


"Hmm...," Aldi mengakhiri percakapan sore itu.


*


Setelah Aldi selesai dengan ujiannya, ia sengaja membuat dirinya menyendiri untuk sementara waktu. Ia merasa bahwa dirinya kosong, hidupnya hampa. Seolah tidak ada lagi alasan dia untuk terus melanjutkan hidup. Namun, bagaimana pun ia harus terus berjalan. Masih ada Cyintia yang selama ini ada untuknya. Jika ia menyerah saat ini, apa yang akan terjadi dengan Cyintia? Aldi pun termenung memikirkan semua dilema di hatinya. Di satu sisi, ia menyerah. Namun, ia pun ingat, jika ia juga masih punya sisi yang lain.


*


'Sayang, kamu jadi ikut ke London kan?' Cyintia bertanya kepada seseorang di telepon.


'Iya, Beb. Jadi kok jadi, bawel kamu nih yaa,' jawab seseorang di seberang.


'Makasih, sayang. Kamu selalu baik sama aku,' ucap Cyintia dengan manja.


'Kan aku sayang kamu, Beb. Hehee...,' balas seseorang itu.


'Duhh, aku sayang kamu juga. Jadi gemes, nggak sabar buat ketemu lagi,' Cyintia merajuk.


'Iya, Beb. Besok juga ketemu kan?' ucap orang itu.


'Makasih ya, sayang,' kata Cyintia.


'Iya, Bawel. Love you,' ucap seseorang yang selama ini sangat spesial bagi Cyintia.


'Love you too,' ucap Cyintia mengakhiri telepon itu.


* * *