
"Andrean Rivaldi!!" teriak Daniella.
"Elo? Ngapain lo?" Aldi pun kaget mendengar teriakan Daniella, ia merasakan puncak kemarahan pada teriakan itu.
"Harusnya gue yang nanya, lo ngapain?" Daniella bersungut-sungut.
"Gue?" Aldi bertanya polos.
"Nggak usah pura-pura bodoh!!" Daniella mulai kesal.
"Lo ngapain sih? Bisa nggak kalau nggak ngajakin gue ribut? Sehari aja," Aldi bingung.
"Lo sendiri yang mulai. Maksud lo apa ngelakuin semua ini?" Daniella benar-benar kesal.
"Gue ngelakuin apa emang?" tanya Aldi heran.
"Jangan sok nggak tahu!!" Daniella semakin meredam amarah.
"Stop!!" Radit menghentikan mereka.
Radit akhirnya mengetahui maksud Daniella mengajak ke tempat ini. Daniella seolah benar-benar tahu di mana sosok yang ia cari itu berada. Sosok yang berada di urutan nomor satu. Sosok yang berinisial "AR" itu. Andrean Rivaldi.
"Ada apa sih bro?" tanya Aldi pada Radit.
"Maksud lo apa ngelakuin semua ini?" Daniella kembali bertanya.
Matanya yang dari tadi sudah berkaca-kaca kini meneteskan air mata. Daniella yang selama ini tidak pernah mengeluarkan air matanya, menangis saat itu. Entah ia menangis karena bersedih, kecewa, atau karena ia sedang menahan amarahnya.
"Lo kenapa?" Aldi bertanya kepada Daniella.
"Daniella udah cerita semua ke gue, kalau....," Radit mengambil alih untuk menceritakan semuanya. Kalau pada akhirnya sang pengagum itu adalah sahabatnya sendiri. Ia merasa mendapat kejutan yang tidak terduga.
"Oh, jadi itu. Dan, gue minta maaf. Gue bahkan belum sempat lihat hasil pengumuman kelulusan. Gue nggak tahu kalau nama gue beneran ada di nomor satu. Maafin gue, Dan, gue nggak ada maksud buat lo kayak gini. Gue tahu lo nggak pernah nangis karena hal sepele apalagi nggak penting. Gue nggak ada maksud buat lo sampai nangis begini," kata Aldi sembari menatap mata Daniella.
Daniella merasa ada desiran yang tidak biasa dalam dirinya, namun ia tidak ada waktu untuk peduli akan hal sepele itu.
"Maksud lo? Jadi seandainya di urutan satu itu bukan nama lo, terus lo mau jadiin orang lain kambing hitam gitu?" Daniella semakin heran.
"Bu...bukan gitu, Dan," ucap Aldi dengan bingung.
"Lalu? Maksud lo apa? Jelasin ke gue sekarang!!" tanya Daniella dengan nada tinggi.
"Sorry, gue harus pergi," kata Aldi sambil berlalu.
"Al...," Radit memanggilnya, namun Aldi tidak menghiraukan.
Akhirnya pecah sudah amarah Daniella, ia membanting bola basket yang tadi ditinggalkan oleh Aldi. Radit menemaninya hingga ia bisa menenangkan dirinya. Radit pun tidak kalah marah dan heran dengan sikap Aldi kala itu.
***
"Udah, Beb, calm down!" Radit mencoba menenangkan.
"Gue nggak nyangka ya, sangat nggak nyangka. Gue kira orang itu elo. Tapi ternyata, Aldi!" ucap Daniella masih dengan nada yang sama tingginya.
"Iya, Beb, udah deh. Ntar gue yang urus dia. Gue udah kenal dia sejak kecil. Gue tahu benar siapa dia. Gue juga heran kenapa dia bisa kayak gini. Ntar gue samperin dia," Radit mencoba mengatasi.
"Andai gue punya kesempatan tadi. Gue tonjok dia!" gerutu Daniella.
"Eh, udah lah. Slowly, honey," Radit mengelus pundak Daniella.
"Bangke!!" Daniella mengambil bola basket itu lagi lalu melemparnya kembali dengan keras.
"Santai, Beb. Pulang yuk! Lo butuh istirahat," ajak Radit.
Tanpa banyak bicara Daniella melangkah keluar dari lapangan, menuju ke tempat parkir.
"Gue antar lo pulang. Mobil lo titipin sini aja. Gue nggak yakin lo konsen buat nyetir," ucap Radit.
Daniella pun mengiyakan, ia lantas masuk ke mobil Radit tanpa banyak kata.
Dalam perjalanan pulang Daniella terdiam. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Radit juga terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
*
Setelah Daniella sampai di rumahnya, Radit langsung pamit. Karena ia harus pergi ke rumah Aldi untuk meminta penjelasan atas semua ini.
Namun, saat sampai di rumah Aldi, Radit tidak menemukannya. Aldi benar-benar pergi begitu saja, membuat Daniella bingung sekaligus sedih, begitu pun juga dengan Radit. Radit tidak mengira jika Aldi sudah melakukan semua itu. Selama ia mengenal sosok sahabatnya itu, Aldi tidak pernah seperti ini.
Kebingungan Radit bertambah ketika ia tiba di rumahnya. Sepucuk surat diterimanya dari tangan asisten rumah tangganya.
Bro...
Sorry jika gue pergi gitu aja, mungkin lo juga heran sama sikap gue, bahkan mungkin lo juga marah. Tapi jujur gue bingung. Gue suka sama Dani, tapi lo tahu sendiri sikap dia ke gue gimana. Gue takut ketika gue nembak Dani, dia malah nggak terima dan ujungnya emosi ke gue. Gue nggak sanggup buat ketemu sama Dani.
Sorry, Bro, gue harus pergi. Gue nitip orang yang gue sayang. Tolong jaga dia baik-baik. Pastiin dia selalu tersenyum dan bahagia, walau bukan sama gue.
Thanks, Bro...
-- ALDI --
***