
"Bi, saya berangkat ya? Nitip rumah," kata Daniella.
"Iya, Non, hati-hati di jalan ya? Perjalanan sangat jauh, Non harus jaga diri baik-baik," kata asisten rumah tangganya.
"Iya, Bi, makasih ya...," ucap Daniella.
Daniella akhirnya menerima undangan orang tuanya untuk kembali ke Inggris. Lagi pula di Jakarta ia sudah tidak punya siapa pun lagi kecuali asisten rumah tangganya. Ia pun berpikir bahwa akan lebih mudah untuk menemui sahabatnya itu jika ia berada di Inggris. Karena Inggris-Belanda tidak sejauh Indonesia-Belanda. Jadi ia bisa menemui Radit kapan pun ia mau.
***
Satu minggu kemudian, Daniella sudah berada di Inggris sejak beberapa hari yang lalu. Ia masih bertemu kangen dengan kedua orang tuanya, ia pun tidak diijinkan pergi dari rumah dengan alasan orang tuanya masih kangen. Hingga hari ini Daniella nekat keluar rumah untuk menemui teman-temannya di 'Indonesian Peoples Community in United Kingdom'.
Akhirnya orang tuanya pun mengalah, lagi pula sudah beberapa hari ini Daniella terus berdiam diri di rumah.
"Ma, Dani pergi," kata Daniella sambil berlalu keluar rumah.
"Ya, hati-hati," jawab mamanya yang mulai sibuk dengan kertas-kertas kerjaannya.
Daniella melaju dengan mobilnya, menyusuri kota London yang klasik. Ia merindukan kota ini. Entah sudah berapa tahun lamanya ia tidak berjalan di sini.
***
"Hai semua..," sapa Daniella begitu sampai di tempat yang ia tuju, ia sudah ditunggu oleh semuanya.
Daniella sudah dikenal di komunitas itu, karena berbagai karya tulisnya yang sempat mendunia. Oleh sebab itu, saat mereka tahu Daniella berada di Inggris, mereka terus memaksa Daniella untuk mengunjungi basecamp mereka.
"Hai, Dan," jawab Shinta, teman sekolahnya dulu yang sekarang merantau ke Inggris.
"Hi, Dan, how are you?" sapa seorang laki-laki yang kegirangan sekaligus salah tingkah melihat Daniella datang.
"Hello. Fine, thanks. Btw sorry, who are you?" jawab Daniella balik bertanya.
Seketika semua orang di sana pun tertawa. Dan orang itu menjadi semakin salah tingkah.
"Haha... Makanya jangan sok kenal lo," kata gadis cantik di sudut belakang.
"Bodo ah. Mending sok kenal dari pada pura-pura nggak kenal," sanggah orang itu.
"Ok, well. Kita saling kenalan dulu aja. Setidaknya kalian udah tahu Dani, tapi Dani belum tahu kalian," potong Shinta.
Daniella pun berkenalan dengan mereka. Ia harus bisa mengenal mereka setidaknya seperti mereka mengenal dirinya.
*
"Boleh. Sekalian gue mau cari ide buat tulisan baru," jawab Daniella.
Mereka pun lantas berbenah dan pergi ke universitas di Manchester itu.
***
"Gue ke lapangan basket ya? Lama nggak main," kata Daniella setelah sampai di universitas itu.
"Ok," jawab mereka.
"Ntar kalau mau pulang duluan aja," kata Daniella kemudian.
"Oke deh," sahut Shinta mewakili.
*
Daniella bergegas ke lapangan basket indoor, yang ternyata cukup luas untuknya bermain sendiri.
"Aduh. Apaan ni?" gerutu Daniella mendapati ada bola basket mengenai kepalanya, lagi.
"Oh God. I'm so sorry," kata orang yang melemparkan bola itu.
'Kayaknya gue kenal sama suara ini, tapi... Ah, nggak mungkin,' batin Daniella.
"It's ok," jawab Daniella.
"Are you ok?" tanya orang itu sembari berjalan menghampirinya.
"Ya," jawab Daniella sembari melihat orang itu.
Seketika hening.
"Damn!! It's you!!" celetuk Daniella tiba-tiba memecah suasana.
* * *