I Hate you

I Hate you
Tiga Kata



Aldi masih terduduk lesu di bawah hujan yang kini mulai reda. Dari kejauhan terlihat Cyintia datang membawa payung. Ia segera berlari menuju Aldi, setelah melihat Aldi tidak berdaya.


"Eh, lo kenapa?" tanya Cyintia sembari membangunkan Aldi.


"Entah, gue bingung," jawab Aldi hampir tidak terdengar.


"Daniella mana?" tanya Cyintia kembali.


"Pergi," jawab Aldi singkat, kemudian bangkit.


Cyintia tidak berkata apa pun lagi, seolah ia mengerti kondisi Aldi saat ini. Cyintia memayungi Aldi dan membantu Aldi berjalan kembali ke kampus.


*


Keesokkan harinya, Aldi mencari di mana Daniella, hanya saja ia butuh banyak waktu karena ia tidak mengenal seorang pun yang mengenal Daniella.


"Lesu amat, kenapa sih?" tanya Cyintia saat melihat Aldi di kampus.


"Nggak papa, beb," jawab Aldi sekenanya.


"Dihh, lo kayak cewek deh, ditanya kenapa, dijawab nggak papa," ejek Cyintia.


"Gue bingung ke mana harus mencari jejak Daniella," ucap Aldi pada akhirnya.


"Lah, kan bisa cari ke IPC, coba tanya mereka dulu. Abis itu tanyain rumahnya di mana, cari dah," ucap Cyintia.


"Bener juga sih, tapi di mana gue harus cari mereka. Basecamp mereka di mana aja gue kagak tahu," Aldi menimpali.


"Ntar gue bantuin, sekarang fokus kuliah dulu. Inget sama ujian," ucap Cyintia.


"Oke deh," Aldi mengakhiri.


***


Satu minggu sudah berlalu, di sela-sela kesibukan kuliahnya, juga ujiannya, akhirnya Aldi menemukan di mana anggota IPC berada. Ia berniat untuk mengunjungi mereka hari ini.


"Beb, ayo!" ajak Aldi kepada Cyintia.


"Yokay," Cyintia bergegas.


Setelah menempuh sekitar 3 jam perjalanan, Aldi dan Cyintia sampai di ibu kota negara itu, London.


"Permisi," salam Aldi setelah berada di depan pintu.


"Yes," seorang gadis muncul dari balik pintu.


"Shinta?" tanya Aldi sedikit ragu.


"Ah, iya benar. Aldi ya?" tanya Shinta mencoba memastikan.


"Iya," jawab Aldi.


"Silakan masuk," Shinta membuka pintu lebar.


"Duduk," Shinta lalu mempersilakan mereka.


"Terima kasih," ucap Aldi dan Cyintia.


"Oh, ya, kenalkan, ini Cyintia," Aldi hampir lupa memperkenalkan Cyintia.


"Oh, halo, nice to meet you," ucap Shita menyalami Cyintia.


"Nice to meet you too," salam Cyintia kembali.


"Jadi, ada apa kalian jauh jauh sampai ke sini?" Shinta menanyakan maksud kedatangan mereka.


"Saya...," Aldi berhenti.


"Ya?" Shinta sedikit bingung karena Aldi tidak melengkapi kalimatnya.


"Saya ingin bertanya perihal Daniella," akhirnya Aldi mengucapkannya.


"Daniella Stefanie?" Shinta memastikan bahwa yang Aldi maksud adalah orang yang sama dengan yang ia pikirkan.


"Ya, benar. Daniella Stefanie," jawab Aldi pasti.


"Kamu terlambat, bung," kata Shinta seketika.


"Maksudmu?" Aldi mencoba mencerna kalimat itu, walau sebenarnya ia tahu artinya.


"Iya, kamu terlambat, dia sudah pergi," Shinta memastikan.


"Oh, God," seketika itu juga Aldi tertunduk lesu.


Pikiran Aldi kacau, entah ia harus ke mana lagi mencari Daniella. Seolah ia sudah tidak mampu lagi, apakah ini takdir? Setidaknya Aldi hanya ingin meminta penjelasan Daniella.


***


Satu tahun kembali berlalu, sejak Aldi membuat Daniella menangis untuk kedua kalinya. Sejak saat itu, Aldi bersama Cyintia terus saja mencari Daniella.


Aldi pun sempat mengunjungi rumah Daniella setelah mendapat alamat dari Shinta, tapi ia tetap tidak menemukannya. Aldi hanya mendapat selembar surat yang tertuju khusus untuknya. Karena mama Daniella berkata bahwa, Daniella berpesan jika ada lelaki yang bernama Aldi datang, maka surat itu harus diberikan padanya. Jika tidak ada yang datang, maka simpan saja surat itu.


Setelah Aldi menerima surat itu dan membukanya, ia terpaku, kemudian jatuh terduduk. Ia merasa kakinya sangat lemas, tidak ada lagi energi yang tersisa untuk menopang tubuhnya. Ia termenung sembari memegang kertas dari Daniella, entah otaknya sampai ke mana untuk memikirkannya.


"I HATE YOU"


Hanya tiga kata itu yang tertulis dalam surat, tapi itu cukup membuat Aldi seolah kehilangan setengah nyawanya.


***