
Wajah Hanna tampak berbinar saat pelayan menghidangkan sepiring dimsum di meja makan di hadapannya. Hanna menelan saliva-nya. Oh, ia sungguh lapar. Namun, ada satu hal yang membuatnya masih enggan untuk menyentuh makanan yang sedang diidam-idamkan olehnya itu.
"Ada apa, Nyonya? Kenapa Nyonya diam saja? Silakan dimakan."
Hanna meringis kemudian menggeleng pelan. "Aku merasa tidak nyaman jika makan hanya seorang diri. Aku ingin ditemani oleh—"
"Kalau begitu, aku saja yang menemanimu," celetuk seseorang yang berjalan ke arah meja makan.
Hanna terkejut dan panik saat mengetahui siapa yang menimbrung percakapannya dengan Kepala pelayan. Kepala pelayan segera undur diri.
"Leo Zhang, apa yang sedang kau lakukan?! Bukankah Felix—"
"Aku tahu," tukas Leo. Ia menyengir kemudian duduk di seberang Hanna duduk.
"Felix memang melarangku untuk berkunjung kemari saat dia tidak ada. Tapi dia kan tak pernah melarangku untuk menghibur seseorang yang baru saja kehilangan daddy-nya, bukan?" Leo melanjutkan.
"Jadi maksudmu, kau datang kemari untuk menghiburku?" Hanna terkejut.
Leo tersenyum meminta maaf. "Aku tahu kau pasti masih merasa sangat sedih atas kejadian kemarin, bukan? Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua di depan mata kepalamu sendiri. Apalagi, aku sudah mengalaminya sebanyak dua kali. Yaitu saat mamaku meninggal tujuh belas tahun lalu papaku lima tahun yang lalu walaupun aku sempat membenci papaku, aku tetap saja merasa sedih atas kepergiannya."
Leo menghela napas perlahan. Sepertinya, ia sedang menerawang. Hanna menatapnya penasaran.
"Aku yang pernah membenci papaku saja juga bisa merasa terpukul saat beliau pergi, apalagi kau yang tumbuh dengan kasih sayang dari daddy-mu selama ini, bukan? Kau tahu, kau sedikit beruntung karena tidak menyaksikan secara langsung bagaimana mommy-mu dikubur di depan mata kepalamu sendiri. Percayalah, rasanya amat menyakitkan."
Leo kini tersenyum sendu. "Maka dari itu, aku kemari untuk menghiburmu. Setidaknya, aku lebih banyak pengalaman dalam hal ini, bukan?"
Leo tertawa pelan, tawanya menular pada Hanna. Mendengar penjelasan Leo sebenarnya membuatnya kembali dirundung kesedihan. Namun, Hanna berusaha untuk tabah menghadapinya. Seketika ia pun merasa malu mengingat kebodohannya kemarin saat bilang bahwa ia ingin mati di hadapan Felix. Tidak seharusnya ia berkata begitu. Sebab, perkataannya itu bisa membuat ayahnya sedih di alam sana.
"Omong-omong, kenapa dimsumnya banyak sekali? Bagaimana kalau berbagi saja denganku? Lagipula, aku juga belum mak—"
"Tidak! Kau tidak boleh memakannya!" Hanna menatap Leo dengan tatapan memperingatkan. Ia juga segera menarik piring berisi dimsum itu ke arahnya kemudian memeluknya seolah tidak ingin orang lain mengambil dari dirinya. Leo menatapnya bingung.
"Hei, kenapa kau pelit sekali? Kau bilang ingin makan ditemani seseorang bukan? Ada aku di sini, jadi kenapa kau tidak berbagi saja dengan—"
"Tapi aku tidak ingin ditemani dan berbagi denganmu! Aku ingin melakukannya dengan orang lain." Hanna mendelik.
Leo mengernyit. "Siapa?"
***
Felix begitu terkejut melihat Hanna sudah duduk dengan begitu anggun di sofa ruang kerjanya. Ia baru saja keluar dari toilet yang juga berada di dalam ruangan itu.
Yang ditanya hanya meringis pelan.
"Kau kan sedang sakit? Kenapa ke sini?" Felix bersedekap dan memicing curiga. "Dan siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?"
Hanna mendengkus kemudian bangkit dari sofa. Ia menghampiri Felix lalu bersedekap. "Kau bisa tidak bertanya satu-satu? Pertanyaanmu membuat kepalaku pusing. Aku bisa masuk ke sini tentu saja karena sekretarismu yang membiarkanku untuk masuk. Kau lupa, aku ini istrimu? Aku bisa ke kantormu karena diantar oleh Leo. Dia—"
"Kenapa dia yang mengantarmu? John mana? Bukankah dia bertugas untuk mengawalmu? Juga, siapa yang mengizinkanmu untuk keluar rumah?!" Felix bertanya dengan nada tinggi.
Hanna menutup kedua telinganya, ia menatap Felix kesal. "Astaga, kau tidak perlu berteriak begitu! Bertanyalah satu-satu!"
Felix mengembuskan napas pelan untuk menahan emosinya. "Baiklah, Hanna Osment Aku tidak akan bertanya macam-macam lagi kepadamu, oke? Yang ingin kuketahui sekarang, adalah untuk apa kau berada di sini, hm?" Felix bertanya dengan nada yang ia buat selembut mungkin.
Namun, Hanna justru menatap Felix ngeri. "Kau tahu, Felix? Nada bicaramu itu tidak cocok dengan karaktermu!"
Felix mendelik mendengar perkataan Hanna. "Kau?!"
"Omong-omong, ayo makan bersama!" Hanna tersenyum sambil mengacungkan sebuah tas berukuran sedang di hadapan Felix.
Felix yang tadinya hendak mengomeli Hanna kini justru diam. Ia terlalu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata. Apa-apaan ini? batinnya heran.
Melihat raut wajah heran Felix seketika membuat senyum Hanna pudar. Ia berdecak kesal lalu kembali duduk di sofa. Ia meletakkan tas berisi dua porsi dimsum itu di meja lalu bersedekap. Ia tampak kesal karena Felix tak langsung mengiyakan ajakannya.
"Hei, Felix Huang! Kau mau makan tidak? Aku membawa dua porsi dimsum untuk kita makan bersama. Kalau kau mau, cepatlah duduk dan ayo makan!" Hanna mengedik pada sofa di seberangnya. Felix semakin melongo menatapnya.
Felix yang bersedekap, kini berkacak pinggang. "Kau bilang makan bersama?" Lantas, Felix berdecih. "Sejak kapan hubungan kita sedekat itu hingga kau bisa mengajakku makan siang bersama seperti ini? Sebenarnya kau ini kenapa? Kenapa sikapmu jadi aneh begini?"
Hanna mengembuskan napas pelan sambil memejamkan matanya. Lalu, ia kembali mengarahkan pandangannya pada pria yang sedang berdiri menatapnya heran itu.
"Bisa tidak kau tidak banyak bertanya dan makan bersamaku saja? Aku sudah sangat kelaparan karena sejak tadi pagi aku belum makan. Aku hanya ingin makan bersamamu saja. Jadi, kumohon turuti saja kemauanku, oke? Bukannya kau tidak mau aku mati? Tentu kau tidak ingin aku mati kelaparan, 'kan?"
Felix melotot terkejut akibat perkataan Hanna. Ia hendak menimpali, tetapi ia takut Hanna kembali mendebatnya yang mengakibatkan pertengkaran tak berujung. Ia sedang sangat lelah secara batin dan pikiran sekarang. Jadi, ia putuskan untuk mengalah.
Sambil berusaha meredam emosinya, Felix pun akhirnya menuruti keinginan Hanna untuk makan bersama. Ia duduk di sofa di seberang Hanna sambil menatap Hanna kesal. Ia semakin merenggut saat Hanna justru tersenyum semringah karenanya. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa sejak kemarin ia mudah sekali menuruti perkataan Hanna.
Well, sepertinya Felix sudah mulai gila sekarang. Benar, ia gila gara-gara Hanna Osment yang kemarin tampak begitu terpuruk, tetapi kini justru bersikap begitu menyebalkan.