I Hate you

I Hate you
Part 35



Felix sedang melanjutkan pekerjaannya yang sempat terbengkalai akibat menghadiri pemakaman ayah Hanna tadi. Ia baru saja menghubungi Mr. France untuk membicarakan meeting mereka yang tertunda. Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya mereka sepakat akan mengutus seseorang dari perusahaan masing-masing untuk mengurusnya.


"You're a very good husband, Mr. Huang." Felix teringat pujian Mr. France tadi disambungan telepon saat Felix mengungkapkan alasannya membatalkan meeting mereka. Dalam hati, Felix mencebik. Ia merutuki dirinya sendiri.


'Suami yang baik, eh?' batinnya mengejek. Kalau Hanna mendengar pujian itu, dia pasti akan menertawai Felix habis-habisan. Felix sendiri saja ingin langsung tertawa tadi, tetapi untungnya ia masih bisa menahannya.


Seandainya saja bisa, Felix sejatinya juga ingin menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluarga kecilnya. Tidak hanya wanita, pria juga pasti ingin memiliki keluarga bahagia. Begitupula dengan Felix. Namun, apalah daya kisah Masa Lalunya yang begitu menyakitkan sudah terlanjur membentuk karakternya menjadi pria uang dingin, kejam, dan cenderung tidak berperasaan. Pernikahan yang dijalaninya saat ini pun terjadi bukan atas nama cinta, melainkan obsesi, dendam, dan kebencian.


Felix mengangkat otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Lalu, ia arahkan matanya pada jam di atas meja kerjanya. Sudah larut malam. 'Bagaimana keadaan Hanna?' batinnya bertanya-tanya.


Felix mencebik. Ia mengarahkan atensinya pada lengannya yang dihiasi perban. "Bahkan di saat aku terluka seperti ini karena dia, aku masih sempat memikirkannya?"


Felix menggeleng tak percaya.


Lalu, Felix segera bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya.


Dengan langkah pelan disertai keraguan, Felix berjalan ke kamar Hanna. Pelan-pelan ia membuka pintu itu. Kamar itu dalam keadaan gelap. Hanna juga tampak tertidur pulas di atas ranjangnya.


Awalnya, Felix hanya berniat memastikan kondisi Hanna dari depan pintu. Namun sekarang, ia justru melangkahkan kakinya memasuki kamar itu.


Felix memperhatikan wajah tidur Hanna dari dekat dengan lekat. Wajah Hanna tampak pucat. Jejak-jejak air mata tampak menghiasi pipinya. Pipi tirus itu juga tampak merah. Yeah, itu pasti tamparan Felix tadi.


Felix mengelus pelan pipi Hanna. Ia menatap Hanna dengan tatapan penuh kasih sayang yang ironisnya tidak ia sadari.


Tiba-tiba, Hanna tampak gelisah dalam tidurnya. Beberapa kali, wanita itu mengernyitkan dahinya. Kemudian, Hanna semakin meringkukkan tubuhnya. Felix tidak mengerti kenapa Hanna bertingkah seperti itu. Namun, saat menyadari bahwa Hanna tidak mengenakan selimut, ia baru mengerti.


Felix menarik selimut untuk menutupi tubuh Hanna yang kedinginan hingga sebatas leher. Kemudian, tangannya bergerak untuk menyentuh puncak kepala Hanna. Felix mengusapnya secara perlahan. Felix sempat terkejut saat ia menyadari bahwa yang dilakukannya saat ini, tanpa sadar ia lakukan. Namun, Felix tidak lantas menarik tangannya dan justru melanjutkannya.


Sejujurnya, Felix merasa aneh dengan dirinya hari ini. Sungguh, apa pun yang dilakukannya seharian ini benar-benar tidak seperti dirinya. Semuanya terjadi karena wanita yang sedang ditatapnya saat ini.


Mungkinkah karena Felix mulai merasa bersalah atas apa yang ia perbuat selama ini? Atau, karena memang benar bahwa rasa cintanya pada Hanna mulai kembali seperti apa yang ia pikirkan akhir-akhir ini? Felix tidak mengerti sama sekali.


Felix mengembuskan napas perlahan kemudian hendak beranjak pergi dari kamar Hanna. Saat ia menarik tangannya dari puncak kepala Hanna, tiba-tiba ada yang menahan tangannya. Felix terkejut saat mengetahui bahwa itu adalah perbuatan Hanna yang masih terlelap. Ya, Hannalah yang meraih tangannya dan kini menggenggamnya.


"Jangan ... pergi," ujar Hanna lirih diiringi kristal bening yang mengaliri pipi.


Felix terpaku. Bukan hanya karena ia  terkejut melihat Hanna menangis dalam tidurnya, melainkan juga karena sensasi aneh yang ia rasakan saat Hanna menggenggam tangannya. Tidak hanya itu, hatinya juga terasa hangat saat Hanna mengucapkan kalimat itu padanya.


Felix pun urung pergi dari kamar Hanna. Ia tidak tahu pada siapa Hanna mengatakan kalimat itu dalam mimpinya, tetapi sudut kecil dalam dirinya ingin tetap tinggal di sisi Hanna. Akhirnya, ia naik ke ranjang dan berbaring di samping Hanna dengan hati-hati, tak mau membangunkannya. Ia tetap membiarkan Hanna menggenggam tangannya kemudian ia ikut tenggelam dalam mimpi.


Hanna begitu terkejut saat mendapati wajah terlelap Felix yang begitu dekat dengan wajahnya. Tidak hanya itu, tangan mereka juga bertautan. Lalu, Hanna mengamati penampilannya, ia masih berpakaian lengkap. Begitu juga dengan Felix. Itu artinya ia dan Felix tidak berhubungan intim. Namun, kenapa mereka tidur di ranjang yang sama?


Hanna menegakkan tubuhnya dan bangkit dari ranjang. Tidak sengaja Hanna menarik tangannya yang menggenggam tangan Felix dengan kasar. Hal ini sontak membuat Felix terbangun dan mengerjap kaget menatap Hanna.


"Kenapa kau ada di sini?" Hanna bertanya dengan nada bingung. Sejujurnya, ia merasa gugup karena ia masih merasa bersalah atas kejadian kemarin. Apalagi setelah ia melihat perban yang melilit di lengan Felix.


Felix bangun dari posisi berbaringnya sambil mengucek matanya kemudian menguap. "Tidur," jawabnya polos.


Hanna mendengkus kesal. "Aku tahu kau baru saja bangun tidur, Felix. Maksudku, kenapa kau tidur di sini? Kenapa kau tidak tidur di kamarmu sendiri?"


Mendengar perkataan Hanna, tatapan Felix pun berubah dingin. "Memangnya aku tidak boleh tidur di sini? Bagaimanapun, kamar ini adalah salah satu bagian dari mansionku. Itu artinya kamar ini juga milikku. Kenapa kau harus protes?" ujarnya ketus.


Hanna hanya mampu menunduk.


"Tadi malam kau mengigau dan memintaku agar tidak pergi meninggalkanmu."


Hanna mendongak dan menatap Felix terkejut. "Aku memintamu untuk tidak pergi? Apa maksudmu? Atas dasar apa aku memintamu begitu?"


Felix menghela napas kasar dan menatap Hanna jengkel. "Mana kutahu! Kau yang mengatakannya dalam tidurmu, jadi tentu saja aku tidak tahu kenapa kau berkata begitu."


"Lalu, kenapa juga kau berada di kamarku? Apa semalam kau ingin meminta dipuaskan, huh?" Hanna kembali menatap Felix curiga dan tidak habis pikir.


Kini, gantian Felix yang melongo mendengar tuduhan Hanna. Felix membuka mulut hendak menimpali, tapi segera ia urungkan. Ia mengatupkan bibirnya rapat. Padahal semalam ia hanya ingin memeriksa kondisi Hanna apakah baik-baik saja atau tidak.


"Terserahlah kau mau berpikir apa, yang jelas--"


"Huwekk!!"


Frlix terkejut saat melihat Hanna mual dan segera masuk ke kamar mandi. Reflek, Felix pun ikut masuk ke kamar mandi mengikuti Hanna. Matanya semakin melotot lebar saat melihat Hanna memuntahkan semua isi perutnya ke closet. Secara naluriah, Felix mendekati Hanna kemudian mengulurkan tangannya memijat tengkuk Hanna.


"Itu akibatnya kalau kau tidak makan seharian." Felix sengaja berkomentar dengan nada sinis. Hanna yang sedang membersihkan mulutnya dengan air tidak menimpali.


Setelah selesai membersihkan mulutnya, Hanna menoleh pada Felix.


"Kenapa kau masih ada di sini? Sekarang aku ingin mandi, jadi lebih baik kau keluar dari kamarku."


Felix menatap Hanna tak percaya. Ia terperangah, hanya itu yang dikatakan oleh Hanna setelah Felix membantunya tadi? Felix berdecak lantas keluar dari kamar mandi kemudian keluar dari kamar itu. Namun, setelah keluar dari kamar Hanna, ia tidak langsung pergi ke kamarnya sendiri. Ia masih betah berdiri di depan pintu kamar itu sambil berpikir. 'Ada apa dengan Hanna?'