
Yasawa Geka.
"Hah hah"suaraku sedang capek karena bertarung.
"Hei nak kau masih kuat bertarung"ucap Guro.
"Baiklah"ucapku sambil maju menggunakan pisau.
Pertama aku hindari dia kedua aku akan arah bagian pahanya supaya dia susah menggerakkan kakinya.
Aku mulai ingin mengarah pahanya tapi aku tidak sadar kaki sebelahnya telah mengenai perutku.
"Hei apa yang kau pikirkan"ucap Guro.
"Diam lah!"ucapku kesal, dia memang lawan yang tangguh apa aku harus pake cara itu tidak aku masih ada rencana.
Aku maju mengarah pahanya lagi dia menendang aku tahan menggunakan bahu ku karena dorongan dari kakinya aku memutarkan tubuhku menggunakan pergerakan kaki dan mebesetnya di bagian pahanya.
"Oh bagus juga kau ingin menghentikan pergerakan ku dengan melukai kakiku"ucap Guro.
"Tapi caranya hampir sama dengan kakaknya di masa pertama dia masuk"ucap Guro.
"Diam lah jangan sama kan aku dengan dia!"ucapku kesal.
"Hahahaha memang apa yang dia perbuat sampai adiknya membencinya"ucap Guro.
"Jika kau tidak tau maka diam saja"ucapku.
"Dasar anak satu ini kau tidak ada sopan santunnya kepada yang lebih tua!"ucap Guro kesal.
"Baik sekarang aku yang maju anak muda!"ucapnya keras.
Dia menggunakan posisi sedikit menunduk, aku tau ini aku harus lari sebelum ketangkap aku mengarahkan nya ke tembok dan aku melompat kebelakang dengan bantuan tembok dan menggunakan tubuh belakangnya sebagai alas tangan ku supaya aku bisa berdiri tegak.
Aku langsung serang bagian paha bawahnya.
"Ah kapten kau baik baik saja"ucap anggota dari Guro.
"Tenang lah aku sedikit lengah saja"ucap Guro.
"Apa kau mulai serius"ucapku.
"Yah aku pikir kau orangnya biasa saja tapi ini menarik"ucap Guro.
Dia maju lagi aku harus menghindari serangan dari kanan aku hindari dan ada dari kiri aku tangkis tapi dia malah memegang tanganku dan dia menariknya badan ku hingga aku kehilangan keseimbangan badan ku aku tertarik dan dia menendang dengan lutut kaki di bagian perutku.
"Ah sakit sekali kau terus mengenai bagian ulu hati"ucapku.
Dia maju lagi aku tangkis serangannya aku memasukan badanku supaya tangan yang aku gunakan untuk menangkis menjadi sebuah serangan.
Aku serang bagian wajahnya dengan bahu tangan kiri dan aku gunakan kaki kiriku menendang bagian ulu hatinya dan aku serang bagian pundak dengan pisau.
"Ah kau menipuku rupanya"ucap Guro.
"Itu salahmu sendiri menggunakan terik yang sudah aku tau"ucapku.
"Sudah kuduga kau anaknya tenang walau temanmu di sandera"ucap Guro.
"Kalau gitu aku tidak akan basa basi lagi"ucap Guro.
Dia maju lagi aku menghindar ke belakang aku menendang kebagian kepala tapi sayangnya kakiku malah yang tertangkap.
Aku menggunakan kaki yang sebelah untuk berputar tubuh dan menyerangnya dengan kaki itu.
"Ah sial kau masih punya banyak terik yah"ucap Guro.
"Tapi bagaimana jika aku membuatmu marah"ucap Guro.
"Apa maksudnya"ucapku dan aku langsung melihat ke arah Nagi dan Yota.
"Anak anak siksa mereka berdua"ucap Guro.
"Kau baj*ngan"ucapku kasar.
Aku melihat mereka berdua yang baru sadar dipukul pukul.
"Hentikan!"ucapku.
"Kalau kau mau mengehentikan nya kalahkan dulu aku"ucap Guro.
Aku maju tanpa pikir panjang aku hanya berpikir menyerang nya saja dia menendang ku aku terdorong tapi aku masih menyerangnya.
aku membesarnya di bagian kaki yang menyerang ku aku maju lagi dan terus terkena serang dan aku juga menyerang nya dengan pisauku.
"Hah kau tidak ada hentinya walau sudah aku pukul berkali kali"ucap Guro.
"Jika aku berhenti itu saat aku mengalahkanmu"ucapku.
Aku mau menyerangnya tapi aku melihat keatas dan aku paham aku menyerangnya bagian paha yang kiri dan kanan.
Dia merasa sakit berarti ini sudah bisa aku lakukan aku menyerang bagian pundaknya.
"Hah kau sekarang menggunakan tangan"ucap Guro.
"jika aku perhatikan dimana pisaumu, jangan jangan"ucap Guro sambil melihat ke belakang dan dia sadar bahwa aku memberikannya kepada mereka berdua Nagi dan Yota.
"Hah rencana berhasil sekarang tinggal kau sendiri"ucapku.
"Baik lah aku akan kalah kan kalian bertiga"ucap Guro tapi dia malah tidak bisa bangun.
"Ada apa ini"ucap Guro.
"Kau tidak sadar aku melukai bagian yang bisa kau gerakan seperti kaki dan tangan pusat dari mereka adalah paha dan pundakkan karena itu aku mengarahnya supaya kau merasa sakit dan lemas saat menggerakkannya"ucapku.
"Sial oi yang diluar"ucap Guro memanggil anak buahnya.
"Itu sia sia karena mereka pasti sudah kalah"ucapku.
beberapa saat lalu.
"Aku ingin kau memanggil polisi saat aku memberi tanda"ucap Reza.
"Apa itu saja"ucap Vina.
"Yah hanya itu"ucap Reza.
"Aku juga mau ikut"ucap Vina.
"Tidak ini berbahaya"ucap Reza.
"Kenapa mereka ini temanku tidak ada salahnya aku membantu"ucap Vina.
"Aku tau tapi aku tidak mau ada korban lagi, kau tetap di sini"ucap Reza dia pun pergi meninggalkan Vina dan Yuna.
"Tapi"ucap Vina tapi Reza sudah pergi.
"Aku harus cepat kalau tidak dia tidak akan bisa bertahan seperti waktu itu dan kali ini berbeda dari orang orang yang dikirim Black Dragon"ucap Reza.
Reza pun sudah sampai di tempat dan Reza memikirkan cara untuk melewati empat penjaga yang ada di depan dan belakang pintu gudang.
"Aku akan mengalihkan perhatian satu orang itu"ucap Reza dan Reza pun pergi ketempat penjaga yang sedang menjaga di bagian depan.
"Hei kau lihat dia yah kalau tidak salah dia anak buah dari tuan Arga"ucap seorang yang menjaga.
"Dia datang"ucap rekannya.
"Hei aku datang untuk mengirim pesan pada kalian"ucap Reza.
"baik mana pesannya"ucap orang itu.
"tidak usah karena pesannya lewat lisan"ucap Reza.
"Yaitu waktunya kalian tidur"ucap Reza.
Reza menendang dan memukul mereka sampai pingsan dan Reza pergi tuk membereskan dua orang yang di belakang.
Teng teng teng suara besi yang di lempar batu.
"Apa kau dengar itu"ucap seorang yang menjaga.
"Apa"ucap rekannya.
"Suara itu"ucapnya.
"Entahlah lah aku tidak mendengar nya"ucap rekannya.
Dan Reza melempar batu yang sedang dan mengeluarkan suara yang keras.
"sudah aku cek dulu"ucapnya.
"lama sekali dimana dia"ucap rekannya.
"aku di sini"ucap Reza.
"siapa it"ucapnya terhenti karena di pukul Reza.
"dengan ini beres semuanya"ucap Reza.
dan Reza masuk memberi tanda karena dia sudah mengalahkan yang di luar tapi setelah itu Reza mendengar suara telepon.
Bersambung.