
Mikel Albern POV 10 tahun yang lalu.
Indonesia adalah negara yang memiliki banyak ragam budaya membuat daya tarik tersendiri untuk beberapa turis, tak ayal mereka memilih menetap di Indonesia, bahkan ada yang sampai menikahi warga lokal seperti yang di alami seorang lelaki asal portugis, ia memutuskan menikahi nelayan cantik berdarah Aceh.
dari pernikahan itu mereka memiliki seorang putri dan seorang putra . Dara Cahyani adalah anak tertua mereka dengan ciri khas bola mata biru kulit putih serta rambut panjang ke pirang-pirangan, sedang kan Cak Nawi banta anak terakhir mereka memiliki gesture wajah Asia-portugis yang cukup mencolok, bola mata biru seperti sang ayah, rambut tebal serta memiliki alis tipis berwarna kecokelatan.
kehidupan dara dan banta sangat jauh dari kata modern, sepulang sekolah keduanya hanya akan ke laut untuk membantu orang tua mereka, sangat sederhana namun terlihat jelas keluarga itu adalah keluarga yang bahagia dengan kesederhanaan.
Suatu ketika tepat di usia Dara yang ke 18 tahun, Untuk menghasil kan lebih banyak ikan kedua orang tua nya memutuskan pulang lebih lama dari biasanya, merasa bosan menunggu dirumah kedua kakak beradik ini menyusul ke tepian laut untuk menanti kepulangan mereka.
Namun kondisi di tepi laut tak seperti biasa , terlihat penduduk memenuhi tempat tersebut, akibat badai di tengah laut ombak menjadi 3 kali lebih besar dari bisa, menciptakan raut panik di setiap wajah penduduk, 8 perahu masi terjebak di tengah laut salah satu nya adalah perahu orang tua mereka.
Seketika dara dan banta terenyuk mengetahui kebenaran tersebut, cemas dan takut menjadi satu namun tak banyak yang bisa mereka lakukan selailn berharap kedua orang tua nya pulang dengan keadaan selamat.
Hingga di saat pagi tiba, berita duka telah sampai ke telinga kakak beradik itu, dimana orang tua nya telah menjadi korban dari amukan alam tersebut, bak di sambar petir dara dan banta menangis sejadi-jadinya, hanya ibu dan ayah yang mereka miliki dan siapa yang akan mengurusi mereka?
Dara masi berusia 18 tahun dan banta yang baru memasuki 16 tahun, bagaimana mereka akan menjalani hidup?, musibah ini sangat mempengaruhi kehidupan mereka, bahkan dara terpaksa menjadi tukang cuci keliling, sementara banta membantu para pedagang di pasar.
Hari ini banta bekerja dengan seorang pedagang sayur yang mengharuskan nya mengangkat beberapa karung sayuran, wajah dan tubuh nya di hujani keringat terlihat bibir nya yang merah basah akibat di aliri keringat hal itu sama sekali tak membuat nya terlihat dekil justru menambah aura ketampanan pria yang yang baru akan berusia 16 tahun tersebut, hal ini menarik perhatian seorang pria paruh baya yang mengaku sebagai pemilik tanah di pasar.
"Kamu sangat tampan, kenapa tidak ke jakarta?, padahal wajah seperti ini akan mudah menghasilkan uang di sana" gumam nya sambil menatap kagum lelaki yang usia nya belum genap 16 tahun itu, Namun Banta menolak halus saran tersebut, ia beralasan tak memiliki modal apa-apa untuk kesana, di tambah ada sang kakak yang saat ini hidup bersama nya, mereka akan baik-baik saja jika selalu bersama.
"Tempat ini terlalu kotor untuk mu, jika kamu mau aku punya kenalan di jakarta, nama nya Tante Siska, akan ku berikan alamat nya, bagaimana?" pria itu mencoba meyakini Banta, ia bahkan menjanjikan kehidupan mereka sebelum keduanya mendapat pekerjaan, sekali lagi pria percampuran aceh-portugis ini menolak nya dengan semyum, ia merasa tak ingin membebani orang lain akan kesusahan nya, lagi pula selagi memiliki kemauan bekerja, Aceh adalah tempat yang cukup mudah menghasilkan uang.
Setelah berbincang cukup lama, pria yang merasa prihatin akan kehidupan remaja 16 tahun itu memberi selembar kertas yang telah ia gulung, karena merasa tak enak menolaknya Banta menerima gulungan sambil beranjak meninggal kan pria tersebut.
...****************...
Setiba nya dirumah ia kembali di kejutkan oleh kerumunan warga di halaman rumah nya, tanpa berpikir panjang pria 16 tahun tersebut berlari menerpbos memasuki kerumunan bersamaan dengan itu terlihat kakak nya menangis dalam keadaan berantakan.
"mbak..!!! mbak dara kenapa?, banta memeluk kakak nya sambil menatap ke wajah-wajah yang telah membuat kakak nya menangis.
"Hei nak, kakak mu ini bukan wanita baik-baik, dia menggoda para suami disini" ucap salah seorang warga yang mengaku telah menjadi korban, ia juga memprovokasi warga lain untuk memojokkan kakak beradik tersebut dengan mengatas namakan Aceh memegang teguh etika dan sopan santun, jika dara telah dianggap melanggar norma-norma maka ia harus pergi dari kota dengan julukan serambi Mekah tersebut.
merasa tak ingin pergi dari kota kelahirannya dara mencoba menjelas yang sebenarnya nya terjadi, ia mengatakan diri nya lah yang menjadi korban, sejujurnya ia selalu di goda karena dianggap tak memiliki tempat untuk berlindung.
"Lihat lah bagai mana lidah ular berdalih, kamu berbuat namun berbicara seolah suami ku yang bersalah, bukan hanya satu orang, tapi para istri yang lain juga mengeluh akan perbuatan mu, enyah lah dari sini teriak wanita paruh baya memprovokasi warga lain nya.
Suasana semakin riuh memojok kan mereka berdua, tanpa membantah lagi mereka beranjak dari duduk dan keluar melewati kerumunan warga yang menyoraki mereka, penderitaan seakan mengantri untuk menemui keduanya, masalah silih berganti terus mengalir tanpa henti, ntah kejutan apa yang Tuhan persiap kan sehingga ujian yang di berikan terasa sangat berat.
Di tepi laut Dara dan Banta duduk merenungi nasib, di saat kedua nya sudah benar-benar pasrah secara tak sengaja banta melihat gulungan kertas di tangan nya, bertulis kan alamat lengkap tante Siska dan juga beberapa lembar uang. seketika banta menatap kosong ke arah laut.
"Mbak.. kita ke Jakarta aja yuk??
"Bicara apa kamu wi, ke Jakarta ngapain. kita tidak punya apa-apa, untuk kesana kita perlu modal banyak. (Nawi adalah panggilan dara kepada adik nya)
Banta menggeleng pelan kepala nya sambil menunjuk kan secarik kertas dan uang di tangan nya.
"ini modal kita mbak, saat di pasar ada yang bilang aku sangat tampan, dan ketampanan adik mu ini akan menghasil kan uang disana" ucap banta menggoda kakak nya.
seketika dara tersenyum mendengar canda kecil dari adik nya itu. cukup membantu untuk memperbaiki suasana hati nya yang sedang kacau.
...****************...
Dua hari setelah nya mereka berangkat ke Jakarta dan mendatangi alamat yang mereka bawa, benar saja tante Siska menyambut kedatangan mereka dengan sangat baik seakan sudah di beri tahu sebelum nya, ia juga mengenali dara dan banta dengan baik.
"kamu kelas berapa dara"? tanya Tante Siska dengan senyum tipis
"saya tahun ini naik kelas XII Tante,"
"Dan kamu yang tampan, sudah kelas berapa?" tanya Tante Siska sambil tersenyum penasaran.
"tahun ini kelas XI tan." jawab banta sangat datar.
...****************...
(putri dari Tante Siska)
Brernama lengkap Jefira sakieb, remaja metropolitan yang amat modern, pergaulan anak Jaksel yang bebas telah melekat di diri nya, tidak bisa diatur dan keras kepala, sangat kebetulan seumuran dengan dara, siapa sangka hubungan nya dan dara menjadi baik dengan sangat cepat.
Hari-hari berlalu begitu saja, sudah sebulan mereka di Jakarta, kehadiran jefira melengkapi kekurangan dari kakak beradik ini layak nya saudara sendiri ketiga nya telah menjalin hubungan yang cukup dekat.
Suatu ketika jefira dan dara mengunjungi suatu tempat dimana mereka tidak mengikut sertakan Banta, untuk pertama kali nya dara mendatangi sebuah club' yang di penuhi lelaki hidung b*Lang.
"ini tempat ap Ra?
"udah tenang aja, disini duittt cepat ngalir tau !!
"yang benar kamu?
"bener dong,aku contohin ya,.."
jefira segera berjalan menuju seorang pengunjung pria yang kira-kira berusia 40an, ia duduk di depan pria itu sambil mengibas rambut kemudian tersenyum menggoda, hal itu di respon baik oleh pria paruh baya tersebut, mereka terlihat mulai mengobrol satu sama lain, seperti bernegosiasi membahas suatu hal, entah bagaimana kesepakatan nya seketika pria itu mengeluarkan puluhan lembar uang dari saku nya, jefira menoleh ke arah dara dengan mengedip kan mata, tanda bahwa diri nya berhasil mendapat kan uang.
dara yang menyaksikan hal itu terlihat kagum, wajah polos nya di penuhi rasa penasaran," Ra gue pengen juga dong, gimana cara nya? dngan senyuman licik jefira mengatakan sebuah kebenaran.
"Tapi jujur yang aku lakukan gak baik, kamu yakin mau melakukan nya?"
"Bodo amat lah yang penting cuan nya ngalir " seru dara bersemangat, kemudian jefira menunjuk salah seorang pengunjung yang berusia 48 tahun, jefira menjelaskan pria di bangku itu dalah pengusaha kaya yang ia kenal, jika dara berhasil maka uang yang di dapat tidak lah main-main.
Tanpa ragu Dara yang polos mengangguk dan berjalan menuju meja pria yang di target kan jefira, sama seperti yang di lakukan jefira sebelum nya, Ia mengibas rambut kemudian tersenyum ke arah pengusaha bernama lengkap jendra Awaji tersebut, sontak saja tingkah dara berhasil mencuri perhatian pria 48 tahun itu, ia berhenti meneguk wine dan menatap bola mata dara yang biru, siapa yang tak akan tergoda akan kecantikan yang sempurna itu.
"Apa kamu sedang menggoda ku?" tanya Jendra dengan tatapan liar, "Katakan berapa?"
"Apa anda yakin mengatakan kalimat 'berapa'? tanya dara tak percaya, ia merasa tak percaya, benarkah mendapat kan uang di Jakarta semudah ini.
"ya, berapa nominal nya, sebut kan saja akan aku berikan"
Dara terlihat girang, ia menoleh ke arah jefira dengan senyuman bahagia, dan dengan sembarang menyebutkan nominal yang ada di pikiran nya
"jika aku katakan Rp.3000.000.bagaimana?"
mendengar itu Jendra tertawa besar, ia seakan tak percaya wanita ini mengatakan uang yang jumlah nya bahkan tak sebanding dengan harga dasi yg saat ini ia pakai.
"apa kamu yakin?, sayang. kulit putih dan bola mata indah ini tak pantas di hargai segitu, aku bahkan tidak terkejut jika kamu katakan Rp.100.000.000" ucap Jendra sambil mengelus-elus lengan dara, sontak saja tindakan itu membuat dara secara reflek memukul keras kepala Jendra, menyebab kan gelas Di tangan nya pecah dan suasana menjadi riuh,
Jendra yang tak terima dengan perlakuan dara segera menarik tangan nya. di saat yang tepat jefira pun hadir bermaksud menyelamatkan dara.
"Tuan Jendra, maaf.. bisa kita bicara di luar, ini teman ku dara, maaf dia masi belum mengerti apa-apa" ucap jefira mencoba mereda kan suasana.
Setelah bernegosiasi panjang lebar akhir nya Jendra setuju untuk bicara di luar, dengan hati-hati jefira menjelas kan siapa dara dan meminta maaf, ia mengakui bahwa ialah yang menyebab kan dara melakukan hal tersebut.
setelah memahami situasi sebenarnya dan tau siapa dara, Jendra justru semakin tertarik akan kepolosan remaja 18 tahun itu mencoba mengambil kesempatan dengan berpura-pura tak mempermasalahkan kejadian tersebut, ia bahkan memberi kartu nama milik nya,
"jika butuh sesuatu hubungi saja aku" ucap nya, sebelum beranjak pergi sekali lagi Jendra menatap ke arah dara, kali ini tatapan nya terlihat lebih sopan dan wajar, hal itu membuat dara jadi merasa bersalah, dengan raut wajah merendah dara melepas kepergian Jendra
...----------------...
bersambung...
wah jefira mengajar kan dara hal-hal buruk nih, apa yang akan terjadi jika dara dan banta benar-benar mengikuti kehidupan bebas dari jefira?
yuk ke episode 4