
Perhatian!!!!!
sebelum membaca part ini pastikan usia anda telah di atas 19 tahun, kebijakan pembaca di perlukan di episode ini, Terimakasih.
pertanyaan dari mikel membuat Sarah bingung untuk menjawab, bagaimanapun ia memberi tahu pria yang tatapan nya bak mata pedang itu, harus kah ia mengatakan viola sedang berkencan dengan pria lain, atau berterus terang saja bahwa viola sedang belajar, rasa nya semua Jawaban akan sulit mikel pahami.
"Dia sedang berusaha membahagiakan mu, percayalah dia akan melakukan yang terbaik"
mikel mengkerut kan dahi tak mengerti
"Apa maksud mu?"
"Bukan kah kamu tidak menyukai wanita polos?, aku rasa dia sedang berusaha membuang gelar itu dari diri nya"
wajah pria itu tersentak kaget, seketika otak nya memikirkan sesuatu yang membuat nya semakin cemas, mungkin kah viola akan melakukan apa yang ia pikirkan? kali ini pria itu terlihat mulai kesal, ia menarik tangan Sarah dengan sedikit kasar, " DIMANA VIOLA?" tegas nya sekali lagi. merasa sudah tak aman lagi akhirnya Sarah mengatakan keberadaan viola dengan jujur.
"Ddddi lantai atas" jawab nya sedikit gemetar, tak berpikir panjang pria itu segera berlari menaiki tangga, di setiap lorong nya memiliki banyak ruangan membuat mikel kebingungan, akhirnya nya ia membuka satu persatu setiap pintu di ruangan tersebut.
pria yang sedang di bakar api cemburu itu membuka paksa setiap pintu, hingga tiba di ruangan terakhir mikel menarik nafas sejenak kemudian menerjang pintu itu dengan kaki jenjang nya.
Benar saja di ruangan itulah istrinya berada, bersama pria asing yang tak di kenal, terlihat jelas ada pikiran jahat di kepala lelaki itu, tanpa basa basi mikel mengeluarkan taring yang selama ini ia sembunyikan, melayang kan tinju ke wajah pria tersebut, Merasa belum puas ia melanjut kan dengan botol minuman dari atas meja, kaki nya yang jenjang juga menyepak terjang hingga tubuhnya terpental di sudut ruangan, sementara viola yang menyaksikan tindak kekerasan di depan mata berusaha melerai dan membawa tubuh mikel ke sudut ruangan.
"Cukup!!!!!" apa yang kamu lakukan?"
mikel menatap heran viola dengan wajah sedikit kesal, mengapa masi saja mempertanyakan sesuatu yang jelas-jelas ia lakukan untuk kebaikan nya.
"Kamu bertanya apa yang aku lakukan? justru aku yang harus nya bertanya, apa yang kamu lakukan disini, bersama pria asing di saat kamu sudah punya suami?"
"Bukan kah kamu yang mengatakan tidak tertarik pada ku, lalu apa salah nya jika aku mencari orang yang tertarik dengan ku?"
jawaban yang cukup membuat kesal, entah mengapa pemikiran semacam itu ada di kepala istri nya, merasa sudah cukup memperdebatkan masalah itu mikel menarik tangan viola keluar dari ruangan, Namun sebuah suara menghentikan langkah kedua nya,
"Hey, aku akan menuntut mu atas tindakan ini!"
mikel segera menoleh ke asal suara dan perlahan berjalan mendekat, pria yang sudah setengah sadar itu terlihat ketakutan,
"Aaapa yang ingin kamu lakukan?, jika kau sentuh aku lagi kamu akan mati"
Mikel sedikit membungkuk dan menaruh sebuah kartu nama di dahi pria itu,
"Ini kartu nama ku, dan silahkan tuntut aku, aku harap kamu menggunakan pengacara yang tak tertarik dengan uang " ucap nya seakan sedang mengolok-oloknya.
Setelah selesai mikel kembali meraih tangan viola dan membawa nya keluar, di sisi lain Sarah yang telah menunggu di lantai bawah segera menghampiri,
"Aaapa kalian baik-baik saja?"
"Berikan kunci mobil kepada ku"
"Baiklah aku yang akan menyetir" jawab Sarah meyakinkan mikei dan viola untuk pulang bersama, hal itu di tolak Mikel dengan cara merampas kunci itu dari tangan nya,
"Kamu naik taksi saja"
sebuah ucapan yang terdengar sangat datar, namun memiliki sejuta arti bagi Sarah, ia tersenyum seperti memikirkan sesuatu sontak saja membuat nya menyetujui permintaan tersebut.
...****************...
"Apa kamu benar-benar ingin melakukan hal bodoh kepada pria itu?" mikel mulai membuka pembicaraan,
"Jika hanya itu yang membuat mu tertarik kepada ku, aku akan melakukan nya"
"Apa kamu gila?"
"mungkin"
"viola, apa kamu sesuka itu pada ku?"
"Apa aku harus menjawab?"
mikel menarik nafas panjang mendengar setiap jawaban ketus dari istri nya, perlahan Mikel membuka sabuk pengaman milik nya, ia memposisikan duduk lebih dekat dengan viola, tangan nya yang panjang menggenggam jemari istri nya yang mungil,
"Aku rasa aku tidak ingin menahan nya lagi" ucap pria itu berterus terang,
Dengan segera tangan nya menurun kan bangku milik viola hingga berposisi terbaring, ia mengecup lembut bibir gadis itu, segala tindakan yang ia lakukan adalah cinta, ia terlihat sangat hati-hati dalam setiap hal, membuat remaja 18 tahun itu hanyut dalam kasih cinta CEO muda itu, tak ingin berhenti di situ kedua nya memutus kan menyelesaikan masalah yang selama ini menganggu pikiran mereka.
kedua nya telah menjalin kasih di akhir liburan mereka, pantai itu telah menjadi saksi dari kisah cinta Mikel dan viola.
...****************...
waktu menunjukkan pukul 06:41 pagi, dari ufuk timur mentari telah menampakkan diri, cahaya nya menerpa sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari bibir pantai membuat viola tersadar dari tidur nya, tepat di samping nya seorang pria sedang tertidur begitu pulas, pantulan cahaya matahari menyinari wajah nya yang mempesona, entah mengapa berat rasa hati viola untuk membangun kan pria itu dengan tangan mungil nya viola mencoba melindungi wajah Mikel yang di terpa cahaya.
Perlahan CEO asal Amerika itu membuka mata, pandang pertama yang ia lihat adalah sepasang telapak tangan mungil, berada tepat di depan wajah nya, ia segera mengesampingkan tangan itu untuk melihat wajah seseorang di balik nya,
Seorang wanita cantik dengan poni menatap nya tersipu,
"Apa tidur mu nyenyak?" gumam wanita itu sedikit menunduk.
Mikel membalas tindakan itu dengan senyuman, segera ia tarik tubuh wanita itu ke pangkuan nya.
"Aku sangat nyenyak, bagaimana dengan mu?"
Di dalam dekapan Mikel wanita itu mengangguk pelan sebagai tanda diri nya telah tidur dengan sangat nyenyak, kedua nya terlihat begitu bahagia atas keputusan yang telah mereka buat.
sesaat setelah itu tiba-tiba ponsel milik viola bergetar menampilkan sebuah panggilan, wajah nya seketika berubah seperti mengingat sesuatu.
"Bukan kah kita harus segera kembali Jakarta, hari ini adalah jadwal penting di proyek mu?"
wajah Mikel sama sekali tak terlihat panik, ia seperti telah mengetahui nya lebih dulu,
"Apa tidak sebaiknya nya kita perpanjang saja bulan madu ini?"
viola mendongak menatap wajah suami nya, ia seperti dengan orang yang berbeda, bagaiman bisa pria yang selama ini selalu fokus dengan pekerjaan terlihat begitu mudah membatal kan hal besar di perusahaan.
...----------------...
Bersambung...