
Hallo para pembaca setia HURT OR LOVE? maaf ya seminggu ini author sempat Hiatus, semua karena keadaan author yang cukup sibuk, sebagi ganti nya author langsung up 3 episode untuk hari ini, semoga suka ya🥰🥰...
Terik nya matahari di pantai begitu antusias menyapa setiap pengunjung, membuat mereka begitu menikmati momen ini, banyak hal dapat di lakukan di cuaca seperti begini, berjemur, bermain Volly, membangun istana dari pasir atau fokus berselancar, semua akan terasa menyenangkan.
Viola dengan T-shirt suami nya segera memperlihat kan aksi dengan papan selancar, layak nya seorang senior, setiap gulungan ombak mampu ia taklukkan dengan mudah, dari bibir pantai Mikel bersorak kagum melihat aksi istri nya,
"Ayo viola ke gulungan ombak di sana, woooo yaaa kamu keren" teriak nya, membuat orang-orang di sekitar mentertawai tingkah suami dari wanita 18 tahun tersebut. pria dengan postur seperti ini mengapa hanya menyoraki dari bibir pantai, seharus nya ia ikut bermain bersama wanita yang menari-nari dengan papan selancar itu pikir mereka yang berada tak jauh dari Mikel Albern.
namun pemikiran seperti itu tak pernah mikel peduli kan, ia terus saja melanjutkan tingkah konyol hingga viola selesai dengan papan seluncur nya, "Apa aku terlihat keren?" gumam viola sambil memeluk papan selancar di lengan pendek nya, tanpa menjawab pertanyaan itu mikel merangkul pundak istri nya " orang yang keren harus makan sesuatu yang keren juga" ia menarik tangan viola menuju restoran yang ada di pantai, sejauh ini hubungan mereka terlihat begitu nyata, tak ada sandiwara atau pun maksud buruk, semua berjalan begitu saja, mungkin kah Mikel telah melupakan dendam nya?, semua masi menjadi tanda tanya besar, terlepas dari itu satu hal yang harus kalian ketahui, jika sudah memulai sesuatu maka selesai kan lah dengan gentle apa pun akhirnya.
di restoran mereka mencicipi berbagai menu, saling menyuapi satu sama lain, canda tawa mereka begitu tulus , liburan bulan madu yang cukup berkesan di hati Mikel Albern,
...****************...
Tak terasa kebersamaan mereka telah tiba di saat fajar akan membenamkan kan diri, kedua nya duduk di tepi pantai untuk menikmati momen indah , "Aku berharap malam ini akan menjadi malam yang paling membahagiakan di hidup ku" viola menyenderkan kepala nya di bahu lelaki di samping nya, dengan lembut ia menggenggam jemari mikel, ia telah terperangkap cinta CEO asal Amerika ini, segala yang ada pada nya seakan menghipnotis viola untuk terus cinta cinta dan cinta kepada nya.
sementara pria itu hanya menatap kosong ke dasar pantai, pikiran nya sangat kacau, apa yang harus ia lakukan? mengapa tujuan nya menjadi tak terarah lagi, ia sudah bermain terlalu jauh, berat untuk kembali namun sangat sulit untuk ia lanjutkan, satu hal yang telah ia tanam kan di diri nya, bahwa dia tidak akan menyentuh remaja itu dengan tujuan menghancur kan Jendra.
di saat hari sudah mulai gelap keduanya kembali ke villa dengan wajah bahagia, viola yang saat itu berada di dapur menuju kamar mikel, "Menu apa yang ingin kamu makan malam ini?" sahut nya.
"Apa saja" jawab mikel datar, mata pria itu fokus ke laptop yang ada di depan nya, jemari nya tampak menari-nari di atas keyboard untuk mengetik sesuatu,
"Apa kamu sibuk?" viola kembali mengajukan pertanyaan kepada suami nya.
"Aku punya sedikit tugas dadakan dan ini sangat penting".
seketika ekpresi viola berubah kesal, kesabaran nya telah habis, sudah memasuki Minggu ke dua pernikahan jangan kan menyentuh nya Mikel bahkan tak pernah melirik gadis itu layaknya seorang istri.
"Apa hanya kamu yang bekerja di perusahaan itu?, kamu bisa meminta kariawan lain untuk mengambil alih, kita sedang bulan madu tapi apa yang kamu lakukan? aku mohon fokus lah kepada ku" kalimat itu membuat aktivitas Mikel terhenti, pandangan nya kosong membatu, rasa nya ia sudah tak sanggup lagi menatap wanita itu.
"Apa kamu?......kamu sedang mengalami masalah pada......" gadis itu merujuk ke bagian bawah tubuh mikel, mata nya fokus ke satu objek yang menurut nya menjadi puncak dari masalah ini, Seketika Mikel terlihat panik dan menutupi benda itu dengan kedua tangan nya.
"Hey, apa yang kamu pikirkan kan, aku tidak ada masalah dengan ini" pria itu menepis argumen konyol viola.
"Jika bukan itu, apa lagi masalah nya? lihat lah lengan mungil ini, kaki ini juga terlihat imut, apa kamu sama sekali tidak penasaran dengan sesuatu yang belum pernah kami lihat?" wanita itu merengut manja berusaha menggoda suami nya, Namun mikel dengan segala pertahanan mencoba bersikap tenang, yang membuat nya lebih aneh kali ini jantung nya berdetak lebih cepat dari biasa. sulit di percaya hal yang tak pernah terjadi selama 10 tahun mengapa kembali mendatangi nya.
mikel yang merasa penasaran akan hal itu segera mencoba memastikan, mata nya menatap ke arah viola yang berdiri di depan pintu, tangan nya perlahan melipat laptop yang tadi nya ia gunakan, kaki nya yang jenjang berjalan menuju gadis itu,
Dengan lembut ia menyentuh wajah viola, benar saja jantung nya berdetak lebih kencang dari sebelumnya, merasa belum yakin mikel kembali mengecup bibir viola, yang sontak saja membuat emosi nya berubah 180°, ia seperti enggan mengakhiri momen itu.
dengan perasaan menggebu-gebu mikel mengangkat tubuh mungil viola ke pangkuan bermaksud membawa nya ke tempat yang lebih nyaman, ntah bagaimana perasaan indah yang hilang 10 tahun lalu kembali begitu saja, ini bukan lagi di dasari nafsu melainkan perasaan cinta, yang ada di pikiran nya saat itu bagaimana melakukan yang terbaik untuk viola, dorongan dari perasaan itu seketika menyadar kan nya satu hal, ia mengakhiri ciuman nya dengan wajah Terengah-engah.
Terlihat jelas bahwa diri nya sedang berusaha mengontrol diri, ia meletakkan tubuh viola ke tempat tidur kemudian pergi begitu saja,
"Apa kamu ingin pergi mandi dahulu?" teriak nya dari atas tempat tidur, mikel menghentikan langkah namun tak berani menatap wanita itu,
"Maaf, sejujurnya aku tidak terlalu tertarik dengan wanita polos" gumam nya berdusta, kalimat itu ia ucap demi kebaikan remaja 18 tahun tersebut.
Namun kalimat itu cukup membuat viola tertekan, ketakutan yang ia rasakan selama ini akhirnya terjadi, ia pernah memikirkan hal tersebut di episode sebelumnya, mata wanita itu berkaca-kaca seakan menahan sesuatu yang ingin jatuh dari kelopak matanya.
"Baiklah, jika itu alasan mu maka aku tidak berhak memaksa, kamu boleh tidur terpisah dari ku" ucap nya kecewa, Dengan penuh keyakinan kaki jenjang pria itu melanjutkan langkahnya keluar dari kamar, sementara viola tetap berusaha tenang, jari nya yang mungil meraih ponsel dari atas meja dan segera melakukan panggilan.
...----------------...
Bersambung....