
Dendam dari seorang mikel Albern semakin membara setelah mengetahui jefira sakieb ikut terlibat dalam kasus pembunuhan Dara Cahyani kakak dari mikel Albern,
ia merasa sudah harus memulai permainan, di suatu momen mikel memutus kan untuk tidak bekerja terlihat ia bersiap-siap mengenakan pakaian rapi menuju ke suatu tempat, tak lupa kacamata hitam yang akan melengkapi kesempurnaan penampilan nya,
Lamborghini merah keluar dari bagasi rumah nya, ia mengendari mobil itu menuju ke tempat dimana viola bersekolah.
kehadiran nya cukup menyita perhatian banyak orang, ia turun dari mobil menggunakan kacamata hitam, terlihat begitu mempesona, semua siswi menoleh ke arah nya, postur tubuh yang begitu sempurna layak nya model, ia menatap ke arah gerbang dan seketika melambaikan tangan saat melihat viola keluar dari gerbang sekolah,
viola yang menyaksikan hal itu merasa seperti bermimpi, ia masi sulit mempercayai bagaimana mungkin pria yang tadi nya sangat ilfeel dengan sosok diri nya sekarang malah datang untuk menjemput nya ke sekolah.
Sarah selaku sahabat dari viola juga tak habis pikir ternyata rayuan maut sahabat nya juga berhasil di pria sedingin itu, mengingat bagaimana Mikel Albern memperlakukan viola di supermarket, rasa nya mustahil akan termakan oleh rayuan remaja manja dan keras kepala itu,
"viooooo.. kamu mendapat kan nya, kok gak cerita? ucap Sarah merasa di curangi oleh sahabat nya itu,
"aku juga tidak percaya ini sar, apa dia sedang kesurupan?
mikel segera menghampiri viola dan Sarah,
"Hai, kamu teman viola? viola nya aku pinjam sebentar gak apa-apa kan?"
Sarah hanya mengangguk tanpa sanggup berkata-kata, ia menyadari saat di lihat dari dekat wajah pria itu terlihat 5 kali lebih tampan.
mikel segera menggenggam tangan remaja yang berusia lebih muda 10 tahun dari nya dan membawa gadis itu memasuki mobil mewah yang ia bawa, di ikuti tatapan siswi lain yang terlihat iri.
"Apa aku sedang bermimpi?"
"Tentu saja tidak, ini nyata ,aku seorang Mikel Albern telah menjemput viola ke sekolah"
"kalau begitu buktikan"
"Buktikan apa?"
"Buktikan kalau ini bukan mimpi"
"Baik lah" tanpa ragu mikel menepuk keras kepala bagian belakang wanita mungil itu "Plakk"
"Awww sakittt, kamu sudah gila ya?"
"Maaf, apa itu menyakiti mu? aku hanya mencoba membuktikan kalau ini bukan mimpi"
"kamu bisa melakukan hal lain, seperti memeluk ku, atau mencium ku, itu lebih baik daripada menepuk keras kepala seorang wanita, lagi pula apa kamu tidak tertarik melihat bibir ku, lihat ini?"
viola memanyun kan bibir nya ke arah pria 27 tahun tersebut,
"Hei hentikan, jaga sikap mu, aku sudah seperti paman bagi mu, jadi jangan bertindak seperti kita ini seumuran"
"Aku tidak mau menjadi kan mu paman, bagaimana kalau kita berpacaran saja?"
"Apa itu yang kamu mau??"
"Tentu saja, kamu tau sendiri bagaimana aku sangat mengharap kan hal itu"
"Baiklah, jika itu kemauan mu, mari kita berpacaran?"
viola menatap wajah pria di samping nya, hati nya seperti akan meledak namun seketika berpikir itu hanyalah lelucon seroang Mikel Albern.
"Apa kamu sedang bercanda??"
"Apa aku terlihat bercanda? mari berpacaran? tolong berikan jawaban mu, aku berharap Jawaban itu tidak mengecewakan"
viola masi tak percaya akan ucapan mikel Albern, ia menepuk wajah nya, seperti berusaha membuktikan diri nya sedang tidak bermimpi, namun tindakan itu segera mikel hentikan, "jangan lakukan itu, wajah mu bisa terluka" ucap mikel sambil menghentikan kan mobil nya,
"jika kamu tak bisa menjawab nya sekarang, jawab lah nanti"
mereka tiba di sebuah taman bermain skateboard, ada banyak orang disana, semua terlihat berlomba-lomba mengasah kemampuan yang mereka miliki, sementara viola dan mikel hanya bisa menonton setiap atraksi yang mereka lakukan.
"Tidak ikut bermain?" tanya viola kepada CEO yang sekarang berdiri di samping nya,
"Aku ingin, tetapi aku tidak bisa menggunakan nya, sejak kecil aku sudah berusaha namun menurut ku ini lebih sulit dari pekerjaan pilot"
wanita itu tertawa mendengar pengakuan pria 27 tahun tersebut, ia tak menyangka pria yang terlihat begitu sempurna juga memiliki banyak kekurangan, "tunggu lah disini" ucap nya sambil beranjak dari duduk, tak berselang lama viola membawa sebuah skateboard dan mulai memperlihatkan kebolehan nya menggunakan benda itu, benar saja remaja 18 tahun ini mencoba Setiap wahana yang ada tanpa rasa takut, mikel yang menyaksikan nya terlihat begitu kegirangan ia sangat kagum dengan bakat yang di miliki viola, ternyata bocah yang terlihat nakal ini juga memiliki banyak kelebihan,
"Aku tidak bisa"
"Ayolah, aku akan mengajari mu"
mikel Albern perlahan menaiki skateboard, namun ia terlihat kesulitan untuk mengimbangi tubuh nya, sementara viola terus berusaha membantu dengan memegangi tangan nya.
"kamu tidak bisa langsung menaiki kedua kaki mu, mulai lah dengan satu kaki dan kaki satu nya untuk menopang tubuh mu agar seimbang"
"Ini sangat sulit, aku terlihat bodoh dalam hal ini, sudah lah aku tidak ingin berlama-lama terlihat bodoh"
"Ayolah, lakukan saja apa yang aku katakan,"
mikel mencoba nya sekali lagi, hingga akhir nya ia berhasil mengendalikan tubuh nya, skateboard mulai berjalan, "Wahhh. kamu lihat aku membuat nya berjalan? wow keren, mikel terlihat sangat kegirangan , ia mulai ketagihan akan permainan itu, seperti anak kecil yang kecanduan sebuah permainan, di momen ini ia terlihat begitu menggemaskan, viola hanya tersenyum melihat sisi lain dari seorang mikel Albern tersebut.
setelah lelah bermain keduanya duduk beristirahat di bawah pohon sambil menikmati ice cream itu adalah moment yang benar-benar mengalir secara alamiah.
"lalu bagai mana keadaan pacar mu yang di bandara?" ucap mikel Albern berusaha mencari topik pembicaraan.
Sementara viola terlihat tak mengerti, dengan apa yang dikatakan pria di samping nya,
"aku tidak punya pacar"
"Bukan kah, kamu memanggil nya dengan kata ayanggkkk"
seketika viola mengingat kejadian di bandara sebulan yang lalu,
"Apa maksud mu jakson? pria yang mencuri dompet mu di bandara? jadi kamu melihat semua nya??"
"Tidak juga, aku hanya melihat remaja memanggil pacar nya dengan panggilan yang menggelikan, seketika aku serasa ingin muntah, padahal itu hari pertama ku tiba di Indonesia, tapi malah melihat hal-hal yang menurut ku sampah"
"Aku tidak sembarang melakukan nya, ada alasan di balik itu"
"Apa alasan mu?"
"suatu saat akan ku beri tahu"
mikel menatap gadis mungil di hadapan nya, ia merasa sudah saat nya untuk bertindak
"viola?"
"ya !" ?
"mau makan ice cream di villa ku?"
tak di sangka viola tanpa ragu langsung menolak tawaran itu, seketika mikel tersentak tak percaya dengan keputusan gadis nakal ini, bisa-bisa nya dia menolak diri nya namun dengan mudah memacari pria brandal yang tak setara dengan sosok nya, selain itu kalimat yang ia ucap adalah kalimat yang telah berhasil meluluh kan hati banyak wanita sebelum viola, sebuah kalimat andalan yang biasa ia gunakan untuk memikat wanita sewaktu di Amerika.
kembali ke 10 tahun yang lalu, Saat pertama kali ia tiba di USA sesungguh nya mikel telah melewati banyak pengalaman pahit mau pun manis, kesuksesan yang ia peroleh saat ini adalah buah dari perjuangan nya yang sangat luar biasa.
Saat itu usia Mikel baru menginjak 16 tahun, di USA ia di pertemukan dengan banyak remaja pria yang seumuran dengan nya, ternyata keluarga Albern adalah penyelenggara sebuah lembaga yang di mana mereka menyediakan pria muda dari berbagi negara, lembaga itu di sebut Albern club'.
Remaja yang bisa bergabung di club' itu bukan lah sembarangan orang, mereka di sleksi berdasarkan beberapa kriteria, diantara nya setiap pria wajib memiliki wajah menarik, pintar dan berjiwa tangguh serta yang terpenting harus berusia muda.
mereka di latih untuk menjadi bodyguard berkelas yang berbasis International, Lembaga ini memiliki 2 kelas, yakni kelas ekonomi menengah di sebut medium club' bertugas menjaga para artis terkenal, atlet dunia atau orang kaya tanpa gelar, sedang kan elite club' bertugas mengawal para pejabat negara seperti persiden, wakil persiden dan petinggi lain nya.
Di lembaga ini setiap pria yang belum memasuki usia 18 tahun di harus kan memiliki popularitas terlebih dahulu, mereka boleh bekerja dengan siapa saja selama 3 bulan untuk mendapatkan popularitas, jika kontrak telah selesai penyewa akan memberikan penilaian terhadap bodyguard yang mereka sewa, begitu seterus nya hingga usia mereka mencapai 18 tahun, dan dari penilaian itulah team penyeleksi akan menentukan tergabung dalam group manakah si peserta, medium club atau elite club'.
Sementara saat itu mikel adalah satu-satunya nya remaja yang berasal dari Indonesia, ia memiliki pesaing dari negara-negara luar, seperti Thailand, Korea, Australia, dan Amerika, semua memiliki kriteria yang memadai membuat mikel sempat merasa putus asa.
Mereka hanya di beri waktu selama 5 bulan untuk belajar. baik itu pelatihan fisik atau psikis,
waktu yang cukup singkat namun semua peserta berhasil menjalankan dengan lancar, hal itu di karenakan setiap peserta adalah orang- oranag terpilih dengan kelebihan di atas rata-rata.
...----------------...
Bersambung...
mari ke episode 11
cari tau bagaimana kehidupan Mikel Albern saat di Amerika serikat.