
suatu pagi
seluruh keluarga Awaji duduk di meja makan untuk sarapan, jefira yang duduk di depan mikel menggeser sebuah menu ke hadapan mikel,
"Aku pikir kamu akan menyukai nya"
ucap wanita 29 tahun itu tersenyum, mikel terlihat ragu tentang apa yang harus ia lakukan, jefira telah membuat nya berada di posisi yang serba salah, viola yang melihat kejadian itu mendorong menu itu jauh-jauh dari suami nya,
"Kamu makan saja sendiri, suami ku tak menyukai sesuatu yang berminyak" Jawab nya ketus membuat emosi wanita 29 tahun itu meradang, namun ia berusaha menahan nya agar tak menimbulkan kan masalah di depan jendra, ia mengambil ponsel dan mengirim sebuah pesan kepada Mikel,
Jefira: cepatlah ceraikan wanita ini, aku sudah sangat muak!!!!
membaca pesan itu Mikel bersikap tenang seperti tak terjadi apa-apa, ia meletakkan kan ponsel nya dan kembali melanjutkan makan, yang ada di pikiran nya saat itu hanya cara untuk menyingkirkan jefira dan Tante Siska, cepat atau lambat kedua orang ini pasti akan menyakiti viola,
...****************...
sarapan pagi telah selesai, viola segera Merapi kan dasi yang mikel kenakan, seperti biasa sebelum berangkat kerja mikel akan mencium kening nya, namun hari ini terlihat berbeda, pria itu seperti melupakan tradisi yang mereka lakukan selam 3 bulan ini, ia langsung saja melangkah meninggalkan viola, tentu saja istri dari Mikel itu tak tinggal diam, dengan segera ia menari kembali tangan suami nya,
"Apa kamu akan pergi begitu saja?"
Mikel terlihat berpura-pura tak memahami perkataan viola, mata nya terus menatap ke arah jefira yang sedang mengawasi drinya,
"Aku sudah telat, aku berangkat ya" gumam nya sambil berlari kecil menuju mobil, hal itu terlihat mencurigakan, viola merasa ada yang aneh dari suami nya. tak biasa nya mikel mengabaikan nya seperti itu sontak saja membuat nya mencari letak kesalahan yang ia laku kan.
...****************...
mengingat bagaimana sosok mikel pertama kali melamar viola, ia telah melakukan nya dengan sabar sempurna, dimana tangan kanan nya memegang sebuah cincin berlian, dengan penuh keyakinan ia meraih tangan viola dan mengenakannya di jari-jari mungil nya.
"Apa kamu bersedia aku nikahi?"
viola tertegun sejenak, tatapan nya tak bisa lepas dari cincin yang melingkar di jarinya, benar kah ini bukan mimpi?, mengapa semua terasa begitu cepat, mengapa pria ini terlihat sangat mantap untuk menikahinya,
"A...aku tidak bisa percaya ini, aku bukan nya menolak mu tetapi pernikahan bukan lah sebuah permainan"
"Aku juga tahu hal itu, namun di usia ku yang sekarang, sudah sepantasnya untuk menikah"
"Tapi aku masi harus bersekolah, masa depan ku masi panjang, setidak nya aku harus memantaskan diri dulu untuk menjadi pasangan CEO sempurna seperti dirimu"
"Di saat aku sudah memiliki segala nya tak ada hal lain yang aku butuh kan, setidak nya jadi lah kekurangan di hidup ku, agar hidup ku terasa lebih lengkap"
Pria itu mencoba meyakinkan viola bahwa ia tak perlu bersekolah ke perguruan tinggi, karena mikel lah yang nantinya akan menutupi segala kekurangan wanita itu.
Di sisi lain jefira juga tak ingin melepas kan pria yang sangat ia sukai, namun ia harus siap dengan segala konsekwensinya, diamana diri nya harus menyelesaikan pendidikan sebatas SMA, sangat sulit bagi nya untuk membuat keputusan, dengan penuh pertimbangan viola meminta waktu agar bisa memutuskan pilihan nya.
Hal itu di setujui Mikel dengan beberapa syarat jika nanti nya viola menolak berarti hubungan mereka selesai mulai saat itu juga,
...****************...
Beberapa hari telah berlalu viola sangat terbebani oleh rencana pernikahan yang telah Mikel buat, ia juga sempat beberapa kali menemui Sarah untuk meminta pendapat, tentu saja Sarah sependapat dengan Mikel Albern, pria itu memiliki segala nya kecuali sebuah kekurangan, mungkin dengan viola menikah dengan nya hidup Mikel akan terasa lebih lengkap.
Ungkapan itu cukup membuat viola yakin, kapan lagi dia di lamar oleh pria setampan itu, dengan kesempurnaan yang ia miliki mungkin akan mudah bagi nya mendapatkan wanita lebih dari nya, namun viola belum tentu mendapat kan lelaki yang lebih dari sosok Mikel Albern.
kini keputusannya telah bulat, tanpa rasa ragu gadis 18 tahun itu menyetujui pernikahan tersebut, keputusan ini membuat Mikel merasa langkah nya sudah mendekati puncak, tinggal menunggu waktu yang tempat untuk membicarakan nya ke Jendra,
...****************...
pukul 20:18 malam, sebuah jas hitam dengan perpaduan dasi bergaris cokelat, terlihat sangat sempurna di postur nya yang jenjang, kali ini penampilan nya harus maksimal, jika ia gagal mendapatkan persetujuan jendra maka proses balas dendam nya akan lebih lama, ia tak punya banyak waktu lagi untuk berlama-lama di Indonesia, dalam waktu dekat rencana balas dendam nya harus segera terlaksana, dengan segera ia mengendari sebuah Lamborghini menyusuri jalanan Jakarta, rumah viola sudah semakin dekat, kata-kata telah ia persiapkan dengan begitu sempurna.
saat tiba di depan Istana yang megah itu, mikel segera menekan bel "Ding Dong", seketika pintu di buka oleh para pelayan berseragam yang langsung membawa nya menuju meja makan, terlihat keluarga besar dari Awaji telah duduk bersiap menyambut kedatangan nya, yang lebih mengejutkan Tante Siska hadir di acara makan malam tersebut, membuat nya sedikit terkejut dan tak sengaja mengatakan sesuatu yang aneh,
"Kita bahkan bertemu lagi setelah sekian lama"
gumam nya sambil menatap wajah wanita 46 tahun di depan itu, sontak saja semua mata tertuju ke arah nya dengan rasa penasaran, mengapa mikel menyapa mertua dari Jendra awaji itu seakan-akan pernah bertemu sebelumnya, mikel yang menyadari tindakan nya segera mencari alasan,
"Ahhh, maksud ku, secara tak sengaja aku pernah berpapasan dengan mertua Anda, saat akan menyapa nya aku malah kehilangan jejak"
"Oh ya?, baiklah kalau gitu lupakan masalah ini kita bisa mulai makan malam nya" ucap Jendra mulai meminta pelayan mempersiap kan hidangan, bersamaan dengan itu viola muncul menuruni tangga, gaun berwarna biru terang terlihat begitu serasi tubuh nya.
semua mata tertuju akan kedatangan nya termasuk Mikel Albern sendiri, seketika membuat nya menyadari ternyata wanita mungil itu sangat lah cantik, viola berjalan menuju kursi yang berada di samping mikel, hal itu membuat jefira terlihat tak menyukai nya, ia mulai mengatur rencana dengan segelas jus di tangan nya, jefira beranjak dari duduk nya yang kemudian berpura-pura tak sengaja menumpah kan minuman itu di pakaian viola, namun rencana itu Gagal saat Mikel dengan sigap menyumbangkan lengan nya sehingga pakaian nya terkena noda dari jus strawberry tersebut, semua terlihat panik akan kecerobohan jefira, tak ragu viola berdiri dari duduknya,
"Mami apaan si, sengaja ya mau buat kekacauan di acara ini"
"Kamu bicara apa sih viola, jelas-jelas mami melakukan nya secara tidak sengaja" jefira mencoba membantah tudingan itu, suasana menjadi kacau kedua nya sibuk saling membenarkan diri
"Cukup...apa kalian tidak bisa menghargai tamu?"
Jendra mengeluarkan suara nada tinggi yang membuat semua nya terdiam kaku, sementara mikel terlihat bingung harus bagaimana menanggapi situasi ini,
"Tuan mikel kamu bisa memakai ruangan di atas untuk membersihkan kan pakaian mu" ucap Siska bersikap bijak.
Pria dengan tinggi 187cm itu segera beranjak dari duduk nya dan mengikuti Siska menuju lantai 2, sesampai nya di sana Siska segera memberi nya sebuah kemeja pengganti untuk pakaian nya yang telah kotor, tanpa banyak berkata-kata ia segera melepas pakaian nya di depan Siska, memperlihat kan sebuah tanda yang tak asing bagi wanita 48 tahun tersebut, ya Siska yang merupakan ibu angkat nya sewaktu remaja sedikit banyak nya mengetahui tentang mikel, dimana di rusuk kiri pria itu memiliki sebuah tanda merah seperti goresan benda tajam, namun itu bukan lah Sebuah luka melain kan tanda lahir yang sudah ada sejak ia masi kecil.
Sontak saja pemandangan itu membuat nya mulai penasaran akan sosok pria di hadapan nya, untuk sementara Siska memilih diam dan tak membahas nya dulu.
Begitulah lah proses dan upaya Mikel Albern untuk mendapatkan viola, namun satu kesalahan yang ia lakukan telah membuat Rencana nya berada dalam ambang kegagalan.
...----------------...
Bersambung.....