Heart Emperor

Heart Emperor
Bab 7



Qiu yue bersujud di depan sang ayah memintanya untuk tidak bunuh diri. Sang ayah akhirnya luluh dengan  sanga anak "Berdirilah," Ia tahu perbuatannya bisa menghancurkan keluarganya terutama sang anak, Jendral Bao   melempar pedang itu  ke lantai,


Jendral Bao melirik pria yang berada di belakang  punggung  anaknya. Qiu yue melirik Bojin  yang berdiri di belakang  puterinya


"Ah, aku lupa, ia prajurit baru dari istana namanya Bojin."Pria itu berdiri dengan  dengan sopan ia memberi hormat, gerak langkah kakinya pelan.


"Nama saya Bojin jawabnya dengan sopan.  "Ting bawa nona pergi jalan - jalan aku ingin bicara dengan prajurit muda ini."


"Baik tuan." Ting membawa Qiu yue ke ke luar. Gadis itu melirik ke arah Bojin. Merekaak berdua tampak serius. Setelah tubuh sang anak menghilang dari balik pintu. Jendral Bao berdiri mengepalkan kedua tangannya memberi hormat. "Apa yang membuat pangeran ke dua datang ke tempat hamba."


Pangeran Yuan bersujud di hadapan Jendral Bao. "Aku minta maaf atas nama kakaku," ucap sang pangeran." Yang mulia aku mohon jangan berlutuk tegakan kepalamu," jawab Jendral Bao.


"Aku tidak akan  bergerak jika anda memafkan kaisar."


"Aku sudah maafkan tapi  luka hati puteriku tidak akan bisa hilang, ia harus menahan malu dan gunjingan semua orang  walaupun begitu keputusan saya  sudah bulat aku akan keluar dari militer."Jawab sang jendral membuat rasa bersalah pangeran Yuan bertambah.


"Kenapa anda harus keluar dari militer padahal anda jendral yang kuat dan cerdas negara masih memerlukan anda."


"Jika kau bisa mengisi lubang di hati puteriku, hamba akan kembali ke militer."Ucap perdanan mentri.


Qiu yue berjalan menuju ruangan tamu  gadis itu  sudah mengenakan pakakan hanfu biru dengan rambut terurai panjang. Wajah pangeran Yuan seketika tidak bisa berpaling dari kecantikan gadis itu.


"Qiu yue antar tuan Bojin keluar,"


"Baik ayah," jawab Qiu yue. Pangeran Yuan berdiri ia menghampiri Qiu yu.  Kemudian berjalan menghadap jendral Bao. "Hamba akam mengisi hatinya," ucap Pangeran Yuan. Qiu yue  tidak mengerti apa yang di katakan Bojin.


Qiu yue mengantar Bojin keluar, di depan rumah kuda putihnya sudah menunggunya. Mereka berdua berjalan di antara bunga sakura.  Pangeran Yuan mendekati Qiu yue.


"Apa kita akan bertemu lagi," ujar Bojin. "Mungkin tidak karena minggu depan kami akan pindah ke desa tempat kelahiran ayah. Guam." Jawab Qiu yue.


"Aku harap kit bisa bertemu lagi."


"Bukankah kau akan ikut dengan ayah ke desa Guam. Wajah pangeran Yuan jadi salah tingkah," Benarkah." Hatinya menari - nari.  Pangeran Yuan mengulurkan tangan, menarik tangan Qiu yue. Mendekati bibirnya mencium gadis itu. Saat terdengar ringkikan kuda itu ternyata hanya khayalannya ia mencium kudanya sendiri. Qiu yue tertawa kecil dengan tingkah konyol Bojin.


"Apa yang kau lakukan."


"Maafkan aku," pangeran Yuan menjadi salah tingkah.


Mereka berpisah di jembatan pemisah antara desa. Qiu yue melambaikan tangan. Sang pangeran membalas lamabaian Qiu yue.


Pangeran Yuan memacu kudanya cepat. Ia berpapasan dengan — saat seorang gadis mengenakan pakaian pengantin menuju ke arah sang pangeran. Ia pun menarik tali kekang untuk menghentikan kudanya.


Pangeran Yuan turun dari kuda menghampiri perempuan itu.


* * *


Pangeran Yuan terkejut bahwa ada yang di hadapannya adalah Lan fen. Ia masih mengenakan pakaian pengantin  berwarna merah, serta  mahkota emas di kepalanya. Gadis itu turun dari kuda. Dia berlari menghampiri pangeran Yuan.


Pangeran Yuan bingung dengan ucapan Lan fen,"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."


"Selama ini aku mencintaimu."


"Tapi aku tidak  menyukaimu. "


"Aku  sudah lama semenjak kita kecil, tapi ayahku malah menjodohkan diriku dengan kaisar."


"Maafkan aku tapi kau sudah menjadi milik kakaku." Yuan  pergi meninggalkan Lan fen. Gadis itu mengambil pedang yang ada di pinggang Yuan. "Jika kau tidak menerima cintaku, aku akan membunuh diriku sendiri."


Yuan mendekati Lan fen menepis pedang itu hingga terjatuh ke tanah."Kau kembalilah ke istana. "Ucap Yuan mengambil pedang. Terlihat wajah kecewa di matanya. "Bagiku kau hanya teman masa kecil."


Lan fen berlari mengejar Yuan gadis itu terjatuh, menangis keras. "Aku benci padamu, pangeran Yuan." Lanfen mencopot assecoris yang ada di kepalanya hingga rambutnya kusut. Dia bangkit  menuju jembatan  berjalan lambat. Saat suara kaki kuda berlari kearahnya. Dua orang mengenakan penutup wajah turun dari kuda menghampiri Lan fen.


"Bawa gadis itu. "


Wajah Lan fen pasrah ketika ia di bawa hatinya sudah hancur, seiring rasa cintanya kepada Yuan. "Lepaskan aku!"


"Maafkan aku tuan putri anda harus ikut kami," dua orang  itu memukul bahu Lan fen hingga gadis itu pingsan.


* * *


Paviliun Merah, Dua jam sebelum penculikan.


"Pergi semuanya dari sini!" teriak selir Maya, ia membanting perabotan, sambil memakai baju tidur rambutnya di biarkan terurai,  Semua dayang istana dan kasim  keluar kecuali dayang istana Rong, ia mendekati majikanya.


"Kenapa kau masih di sini, bibi rong!"


"Ampuni hamba yang mulia," bibi Rong bersujud, hamba punya rencana." jawab sang dayang. Dengan senyum licik. Selir Maya menaikaan  sebelah alisnya, "Apa kau bisa membantuku, ibu." ucap selir Maya pelan kemudian ia menurunkan nada suaranya. Berusaha untuk bersikap tenang. Yang ada di depannya adalah ibu kandungnya, selir Maya terlahir dari hubungan tidak sah dengan perdana menteri   Zhi wei. Karena perdana menteri tidak akan bisa punya anak maka ia di pungut dari jalanan oleh sang ayah. Ambisinya adalah menjadi permaisuri kerajaan Tan.


"Apa rencanamu."


"Kita culik Lan fen buat seolah ia di rampok di jalan pernikahan  kaisar akan di lakukan  dua hari lagi. Rombongannya akan datang hari ini."


Selir Maya tidak terima kalau Lan fen menjadi permaisuri bagaiamana tidak ia sudah lama menjadi selir tingkat dua kini posisinya harus di gantikan dengan wanita yang baru saja yang mulia kaisar temui.


Selir Maya tersenyum."Kali ini rencana ibu hebat, aku akan menyuruh kakak tiriku untuk menculik Lan fen."   Ia menghambur menuju meja


"Bukannya kita sudah biasa membunuh permaisuri terdahulu dan aku melakukan ini demi putriku agar kau bisa naik ke tangga paling tinggi." Ucap dayang Rong.


"Jaga bicaramu, ingat ini rahasia kita berdua." Selir Maya mengambil kertas dan tinta,ia menulis surat untuk kakak tirinya Li. Ia memberikan surat kepada dayang istana Rong. "Berikan surat ini dan jangan ada yang tahu semua ini."


"Baik yang mulia." Dayang istana Rong pergi dari kediaman selir Maya.[]