
Hujan turun rintik - rintik sepanjang pagi itu, Yue duduk sambil mengesap teh di kediamannya sambil membaca buku. Kemudian kasim Ha datang. Yue bangkit kemudian dia membungkuk hormat. "Yang mulia kaisar memanggil."
"Baiklah saya akan ke sana," jawab Yue dia pergi bersama kasim Ha. Yue harap - harap cemas apa kaisar tahu tentang jati dirinya.
Yue memasuki lorong panjang, tidak berubah lantai marmer hitam, dan pintu itu pun terbuka. Kaisar Long wei duduk sambil membaca laporan. Di terangi Lilin.
Kasim Ha membungkuk hormat,"Nona Yue sudah datang," Kaisar Long wei meletakan gulungan di atas meja.
Dia melirik gadis dengan ekspresi datar." Duduklah."
Yue duduk mereka berdua saling berhadap - hadapan. "Apa gerangan yang mulia memanggil hamba."
Mata Long wei fokus kepada mata Yue, entah apa yang ada di pikiran kaisar, Yue tidak bisa menebak isi hatinya.
"Aku ingin kau menjadi pengawal pribadiku," Long wei menurunkan tangannya dia mengaduk tinta kemudian memasukam kuas kedalam cairan hitam pekat itu.
"Hamba menolak!"
"Ha ha... Kaisar tertawa. "Baru kali ini ada yang menolakku. Apa kau mati nona.." Mata Long wei terus memperhatikan ekspresi Yue yang tidak berubah. Long wei menulis satu huruf bulan di atas kertas.
"Tugasku hanya menjaga putri Ming xing. Dan lagi saya bukan dari kerajaan Tan."
Long wei sudah menyodorkam surat dari kaisar Huo. Yue mengambil surat itu dan membacanya. Ia meremas surat itu dan berusaha menahan amarahnya.
"Bagaimana?"
Yue menghela napas."Saya tidak bisa."Long wei bangkit mendekati Yue. "Nona kau tidak bisa menolak perintah kaisar pilih mati atau menjadi pengawalku.
"Baiklah!" dengan ekspresi datar,, dia bangkit menghambur menuju pintu.
Long wei memperhatikan Yue yang keluar. Dia mengangkat kedua tangannya sambil menguap. Dia berjalan menuju beranda dia mendekati ayam yang di kurung dalam sangkar emas."Besok aku akan menguji kemampuan gadis itu."
Kasim Ha mendesah lagi - lagi kaisar bicara dengan ayam.
* * *
Pagi hari kaisar sudah siap dengan pakaian berburu para prajurit sudah bersiap - siap. Yang paling di tunggu adalah sosok wanita mengenakan pakaian pria Yuan yue. Kaisar ingin mengujinya. Dia didampingi sejumlah prajurit beserta panglimanya, Quanheng dan Fulun. Beberapa bangsawan muda juga ikut.
Long wei memberi semangat kepada para bawahannya - terutama yang muda-muda: "Ayo! Perlihatkan kemampuan kalian! Ingat bahwa Dinasti Tan kita menaklukkan dunia dari atas punggung kuda! Keluarkan seluruh keahlian memanah dan berkuda kalian!"
"Baiklah Yang Mulia! Hamba tak akan sungkan menunjukkan keahlian hamba!" sahut jendral Quanheng.
"Siapa yang menyuruhmu untuk sungkan?" Long wei menunjuk. "Di depan ada rusa."
"Rusa itu milikku!" Yuan yue memacu kudanya.
"Tunggu ! aku tidak akan kalah darimu!" Long wei ikut memacu kudanya.
"Hari ini kita lihat, siapa yang akan mendapat rusa itu!" Juan bersemangat dan penuh percaya diri. Menunjukkan kharisma seorang pangeran.
Ketiganya mengejar rusa itu yang melesat masuk ke dalam hutan. Qiu paling depan, bersiap membidik.''Maaf kaisar, rusa itu akhirnya menjadi milikku!"
Long wei tiba-tiba berteriak, "JUAN! Di sana ada beruang!"
"Mana?" panah Juan langsung melesat ke arah yang ditunjuk Long wei.
Pangeran melempar pandangan penuh pengertian pada Long wei Mana ada beruang? Hari ini dia kalah cekatan dari sang kakak.
* * *
Yue menarik busur dan panahnya terlepas. Rusa yang merasa terancam itu meloncat, digantikan sesosok wanita yang mencoba memanah kearahnya, sebilah panah meluncur ke arah Yue. Dan Yue membalasnya dengan membusur panah penyusup itu sebelum kesadarannya hilang.
"Aaah!"
Yue tidak sempat menghindar. Dia menjerit begitu mata panah yang tajam menancap dadanya. Dia terjatuh dari kuda.
Ke dua pemuda terkejut. Mereka memacu kuda ke arah Yue yang kini terkapar. Long wei segera turun dari kuda dan mengangkat tubuh Yue yang berlumur darah. Wajah long wei seketika pucat dia teringat Qiuyue . "Cepat bawa dia ke istana panggil tabib Ming ju.
"Baik yang mulia!"
"Siapa yang melakukan ini," dengan penun emosi Long wei menggendong Yue menuju kuda.
"Ada penyusup..." dengan suara lemah Yue terus mengigau.
Tabib Ming ju yang mengikuti rombongan berburu segera menghadap. Long wei mengeluarkan perintah.
"Segera periksa dia baik-baik! Aku menginginkannya dalam keadaan hidup! Jika kau tak dapat menyembuhkannya, kepalamu akan menjadi taruhannya!"
"Baik yang mulia," Tabib Ming ju segera memeriksa keadaan Yue.
* *
Kesadaran Yue timbul-tenggelam. Lukanya mulai meradang sehingga membuatnya demam. Dalam tidurnya pun, Yue mengigau.
Pada suatu kesempatan, saat Yue sadar dan tidak, dilihatnya sosok agung mendekat. Sosok itu menepuk pipinya dengan lembut.
"Kau dengar suaraku?"
"Long wei!
Sosok itu kembali menepuk pipi Yue lalu berkata, "Yue sadarlah, jangan tinggalkan aku."
Beberapa hari kemudian, kesadaran Yue perlahan-lahan kembali.
Dia membuka mata, mengerjap-ngerjap dan menatap ruangan yang berisi pelayan yang tak terhitung jumlahnya. Pelayan - pelayan itu ada yang mengipasinya, memijit tangan dan kakinya serta mengganti kompresnya. Dia melihat ke bagian lain dalam ruangan. Asap tipis keluar dari pembakaran dupa. Yue serasa melayang. Alangkah nyaman ranjangnya. Kasurnya empuk. Kamarnya mewah. Dia membuka matanya melirik ke samping sambil menahan rasa sakit di bahu. Kaisar tidur di samping Yue. "Yang mulia," Yue menyentuh rambut Long wei. "Yang mulia kenapa aku begitu sulit untuk melupakanmu, " air mata keluar dari kelopak matanya. Sambil menahan rasa sakit di bahu. Long wei membuka matanya. "Kau sudah sadar." Long wei langsung memeluk punggung Yue syukurlah, aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai." Ada gurat kesedihan di mata Long wei. "Maksud yang mulia?"
"Kau mirip dengan orang yang aku cintai. Dia sangat berarti bagiku," Long wei mengelus cincin giok yang tersemat di jari manisnya. "Aku bukan kaisar yang baik, di masa lalu aku seorang pria kejam dan tidak punya perasaan. Tapi seseorang merubah hidupku."
"Siapa?"
Log wei tersenyum. Dia mengulurkan tangan memegang. Jari - jari mungil Yue. "Semoga kau cepat sembuh." Long wei mencondongkan badannya dia mengecup pipinya. Dia bangkit keluar dari kamar. Yue tidak menyangka kalau dia masih belum melupakanya.
* *
Long wei meradang, dia memerintahkan kepada pasukan untuk mencari penyusup itu. Siapa yang berani membunuhku. Long wei meras tangannya. Long wei memasuki kediamannya.
Seorang gadis memasuki ruangan dengan luka di bahunya akibat terkena anak panah." Sial kenapa dia datang padahal sedikit lagi aku bisa membunuh kaisar. Ia menahan rasa sakit di bahunya berusaha mencabut anak panah. Darah keluar, keringat keluar dari pelipisnya sambil menahan sakit dia menyumpal mulutnya.