
Suara pedang beradu, Qiu yue dan Bojin sedang bertarung, mereka sedang berlatih di halaman. Sudah dua minggu ini Qiu yue belajar pedang dari Bojin. Walaupun pengawalnya itu melatihnya dengan keras.
"Hari ini cukup, kita istirahat," Bojin menurunkan pedangnya, ia berjalan menuju meja kayu. Ting datang membawakan minuman. Keringat keluar dari pelipis Qiu yue tiap hari ia harus belajar kosentrasi,berlari keliling desa. Pria ini mengajarinya keras.
"Kau mau menyerah," Bojin menuangkan teh sambil melipat kakinya. " Tidak akan," ucap Qiu yue berjalan gontai dengan napas tersengal - sengal. Ia menghambur menuju meja. Qiu yue meletakan kepalanya di atas meja." kau monster."
"Itulah kenapa aku tidak suka mengajari wanita mereka cerewet dan cengeng."
Ting mengerutkan dahinya melihat kearah nona muda dan pengawalnya mereka berdua saling menatap seharian. Ia meninggalkan mereka berdua.
Perkataan Bojin membuat gadis itu tersinggung, ia kemudian melihat wajah Bojin putih mulus, tinggi ia tidak terlihat seperti rakyat biasa, "Wajahmu tidak mirip prajurit, jangan - jangan," Qiu yue berpikir sejenak."kau mirip pangeran Yuan."
Bojin tersedak, mendengar perkataan Qiu yue. "Menurutmu aku lebih tampan dari pangeran Yuan." Sambil meletakan cangkir teh.
Qiu yue menekan kedua bibirnya terus menatap Bojin membuat pria itu risih. "Tidak, aku pikir pangeran Yuan itu lebih tampan walaupun aku belum pernah bertemu dengannya."
Wajah Bojin bersemu merah, "Bagaimana kau bisa tahu,bertemu dengannya juga belum." gumam Bojin.
"Kau bilang apa tadi."
"Tidak ada." Bojin beranjak dari tempat duduk."Aku akan pergi ke ibu kota pimpinan memanggilku," kata Bojin. Pergi dari hadapan Qiu yue. "Kau akan kembali "
Bojin mendekati Qiu yue, ia tersenyum dan sikapnya hari itu tenang. Ia mengulurkan tangan memegang pipi Qiu yue.
"Aku pasti kembali," Dia mengecup kening Qiy yue. Dia pergi menaiki kuda sambil melambaikan tangannya.
Qiu yue menghela napas, kenapa ia harus menyamakan Bojin dengan pangeran Yuan. Mereka sebelas dua belas seperti bumi dan langit.
Yuan melirik ke arah Qiu yue haruskah dia bongkar identitas aslinya kalau ia seorang pangeran. Yuan berbalik pergi meninggalkan kediaman memacu kudanya menuju istana.
Kasim Bohay menyambut sang pangeran, "Bagaimana keadaan kaisar,"
"Beliau masih sama, baru saja tabib datang memeriksa kaisar," jawab Kasim Bohaya. Pangeran Yuan menuju kamar kaisar, ia menyingkap kelambum
"Bagaimana keadaanmu, yang mulia," Pangeran duduk di sisi ranjang sang kakak. "Hari ini aku akan melamar, gadis yang aku cintai." Yuan memperhatikan cincin giok hijau untuk di hadiakan kepada Qiu yue. "Aku harap kakak bisa datang ke pernikahanku, tapi melihat kondisi kakak membuatku sedih."
Kaisar Long Wei membuka matanya, ia menatap wajah adiknya Yuan. Membuat Yuan berusaha menahan kesedihannya ia tidak tahan dengan kondisi sang kakak yang menyedihkan.
"Yang mulia," kasim Bojin datang menghadap,"Ada panglima Wei ia ingin menghadap. "Suruh dia masuk," jawab Yuan.
Panglima Wei datang menemui Pangeran Yuan di kediman kaisar, ia melihat Pangeran Yuan sedang bersama sang kakak. "Maafkan hamba yang mulia, menggangu istirahat anda "
"Ada apa," kata Yuan melihat wajah jendral Wei yang serius.
"Panggil jendral Bao aku akan pergi berperang."
"Tapi bagaimana dengan istana,"
"Ada pangeran Juan yang akan menjaga istana, persiapkan pasukan hari ini juga,"
"Baik yang mulia," Jendral Wei pergi dari kediaman Kaisar.
Pangeran Yuan mendekati sisi ranjang kaisar. Ia mengambil cincin giok yang sama untuk Qiu yue. "Tolong jaga cincin ini sampai aku kembali, Yuan menyematkan cincinya di jari tengah kaisar Tan ( Nama asli kaisar).
Pangeran Yuan pergi memacu kudanya pergi ke tempat Qiu yue
hari itu juga. Hari itu penghujung musim gugur cuaca sangat dingin.
Qiu yue menyalakan lampion di depan kamarnya. Gadis itu kemudian masuk ke dalam kamar ia sedang membaca beberapa buku dari cendikiawan terkenal. Qiu yue memandang langit malam. Perasaan Qiy yue tidak enak.
Suara kaki kuda terdengar di depan gerbang, dua orang pelayan membuka pintu. Bojin turun dari kuda. "
"Aku ingin bertemu dengan nona,Qiu yue." Kata Bojin. Pelayan itu pergi memanggil Qiu yue, selang beberap lama gadis itu keluar menghambur menuju Bojin.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat, Bojin menggengam tanganku,"kau akan membawaku ke mana?"
Bonjin tersenyum simpul. "Danau."
Bojin membawa Qiu yue menuju danau. Kami saling berhadapan Qiu yue melihat mata cerah Bojin. "Aku menyukaimu, walau raga ini terpisah hatiku hanya untukmu.
"Dan kamu alasanku untuk hidup, kau yang membuatku bahagia," wajah Qiu yue memerah. Bojin meletakan tangannya ke tangan Qiu yue. "Aku ingin menikah denganmu,"ucap Bojin ia mengulurkan tangannya memberi Qiu yue cincin giok. Dia memajukan wajahya untuk mencium bibirku.
Bojin meremas tangan Qiu yue. Remasan terakhir di tangan dan melepaskan tangan Qiu yue. "Aku akan pergi berperang tunggulah aku, saat aku kembali kita akan menikah," Kata Bojin. Ia pergi dari hadapan Qiu yue. Hari itu terakhir Qiu yue melihat Bojin.
* *
Selir Maya menghampiri kaisar yang sedang berbaring tidak berdaya di tempat tidur, "Selamat malam yang mulia semoga harimu menyenangkan," Selir Maya memasukan obat ke dalan mulut kaisar," minumlah obat ini akan membuatmu seperti boneka hidup. Satu hal lagi yang mulia, aku sudah menyuruh orang untuk membunuh pangeran kedua, tidak aku ijinkan ia menggantikan possisimu sebagai kaisar." Selir Maya menyelimuti tubuh kaisar, mengecup pipinya sebelum ia pergi dari kamar. Selir Maya keluar dari peraduan kaisar, ia menemui seorang gadis mengenakan pakaian serba hitam.
"Ting aku ingin kau membunuh pangeran Yuan." perintah selir Maya.
Ting menuruto Selir Maya dan ia bangkit dengan berkata. "Akan hamba laksanakan," Ting bangkit sambil mengepalkan kedua tangannya kemudian ia pergi dari hadapan selir Maya.
selir Maya mengambil apel dan memakannya. " Kali ini kau akan mati pangeran." Sambil tertawa keras.