Heart Emperor

Heart Emperor
Bab 26



Yue memegang punggung tangan kaisar. "Yang mulia harus pergi, jangan karena hamba yang mulia mengurungkan niat anda."


Long wei bangga kepada Yue. Dia sangat pengertian. "Aku janji akan segera pulang." Kaisar Long mencium puncak kepala Li wei. "Kau harus banyak istirahat."


Perasaan kaisar Long wei cemas membiarkan Yue dalam keadaan hamil muda membuat dia harus mencari orang untuk bisa mengawasi Yue.


Kaisar mengulurkan tangan, memberi Yue belati kecil dengan sarung bertahtakan emas dan permata merah, "Kau simpan belati ini baik - baik jika ada sesuatu terjadi denganmu." Long wei meletakan belati itu di atas telapak tangan Yue.


"Baiklah akan saya simpan," Yue mengambil belati itu dari tangan kaisar. Dia beranjak dari tempat tidur. Menatap wajah Yue. Long wei tersenyum sedih dia berbalik berjalan menuju pintu. Sebelum melangkah pergi dia menghampiri kasim Rong. Sang kasim tertunduk. "Yang mulia. " Long wei memberi perintah kepada kasim Rong.


"Kasim Rong, tolong kau jaga selir Yue."


"Saya akan menjaga yang mulia permaisuri baik - baik."


Long wei mengintip dari celah pintu. Perasaannya tidak enak. Tapi ada kasim Rong yang dapat melindungi Yue.


--



Yue memegang erat belati kecil berukIran naga emas. Belati itu dia simpan dari balik bajunya.


Dia bangkit dari tempat tidur berjalan menuju meja. Matanya menatap ke arah jendela. Matahari mulai turun keperaduanya. Berganti malam,tidak ada yang boleh tahu tentang kehamilannya. Dia tidak ingin apa yang di alami kaisar di alami olehnya. Istana yang tampak indah di luar di dalam penuh kebusukan tidak ada yang bisa di percaya siapat pun yang ada di istana.


Sore hari di istana, Yuan menunggu dari balik pilar di teras utama istana. Tenggorokannya tercekat. Jubah hitamnya tampak menyatu dengan warna rambutnya yang hitam legam. Sinar matahari dan bayang - bayang berseliweran di depan wajahnya. Di kejauhan selir Yue berjalan sendirian tanpa di dampingi dayang istana menuju kediamannya. Setengah sembunyi oleh pilar merah. Rambutnya yang berwarna gelap di gelung dengan hiasan rambut,kulitnya yang putih hampir tambak hangat di bawah sinar matahari. Selir Yue.


Yuan menunggu Yue cukup dekat. Saat Yue lewat. Yuan menarik tangannya dan menariknya lembut ke dalam bayang - bayang di balik pilar.Sang selir terkesiap kaget, mulut Yue menganga ia tidak percaya apa yang Yue lihat."Yuan kau masih hidup."


"Aku kembali untukmu,selir Yue." Yuan mengamati penampilan Yue lekat - lekat. Dia jauh lebih cantik di bandingkan saat bertemu dengannya satu tahun yang lalu. Apakah karena pakalian yang ia kenakan membuat Yuan terpana oleh kecantikan Yue.Dengan perasaan cemburu Yuan tidak rela jika sang kakak mengambil miliknya.


"Aku melihatmu mati dengan mataku sendiri,"Kata Yue dengan suara getir.


Yue tersentak dengan perkataan Yuan. Satu demi satu. Yue merasakan gelombang kesedihan, bahkan kemarahan di hatinya. Betapa cepatnya dia melupakannya. Yuan melepaskan pelukannya dia mundur saat suara langkah kaki prajurit datang ke arah istana.


Aku. Menginginkamu,mencintamu, Yuan menatap wajah Yue yang pucat. Dalam hatinya dia masih menginginkanYue. Jika Long wei mati Yue akan menjadi miliknya seutuhnya sama seperti waktu itu. Yuan menutup wajahanya dengan topeng dia menghilang sebelum prajurit menemukannya.


Wajah Yue pucat tubuhnya lemas dia hampir tidak bisa berdiri. Dia duduk dini depan pintu kamarnya. Kasim Rong datang."Yang mulia anda baik - baik saja."


"Tolong bawa aku ke dalam." Kaki Yue lemas tidak sanggup berdiri lagi. Di limbung dan perlahan - lahan kesadarasanya mulai menghilang.


***


Dalam mimpinya dia bersama Yuan. Saat itu akhir musim semi. Yuan sering datang ke rumahnya. Yuan pun sering melukis wajahnya di Gazebo dekat sungai di hari cerah sebelum dia meninggal.


Yue terbangun, nyaris menjerit. Matanya menyipit dalam gelap. "Dimana aku?" Yue berada di kamarnya dia bangkit dengan perasaan bersalah kepada Yuan.


"Kau sudah bangun." Suara familiar. Yue tersentak. Di hadapannya seorang pria duduk dengan wajah cemas. Hari itu rambut kaisar di gerai panjang hingga jatuh ke bahu mengenakan hanfu putih. Dia bukan kaisar yang biasa mengenakan pakaian kebesarannya. Di hadapannya adalah seorang pria biasa.


"Yang mulia, bukan, Yuan." Gumam Yue dia hampir tertipu dengan penampilan Yuan yang sekilas. Pria tampan dengan tajam dan gelap seolah ingin. membunuh.


"Kau sudah bangun." Ucap Yuan dengan Lembut ia memegang tangan Yue. Gadis itu berusaha menepisnya tangannya. "


"Kenapa aku bisa ada di sini?"


"Aku diam - diam menyusup ke dalam kamarmu.Tidak akan ada yang masuk." Ucap Yuan dia bangkit memakai topeng untuk menutupi wajahnya.


Dia mendaratkan ciuman di kening Yue. "Kau milikku Yue. Tidak ada yang bisa merebutmu dariku."Yuan bangkit dia keluar dari kamar Yue dengan menyamar sebagai prajurit


Terdengar suara kasim Rong di balik pintu. "Yuan bergegas pergi keluar tanpa ada yang menyadari keberadaannya. Penyamaran Yuan cukup sempurna sehingga tidak ada yang menyadari pria itu pergi


Yue diam terpaku dia merasa bersalah apa yang telah terjadi pada Yuan adalah salahnya. Pantaskah dia bersanding dengan kaisar setelah dia menyakiti Yuan dan Zian.