
Di depan pintu Lan fen kesal karena Yue sudah mendahuluinya, selama dua tahun ini dia tidak pernah di sentuh oleh kaisar seujung jari pun, ini semua gara - gara selir Yue. "Yang mulia tidak boleh kalah oleh seorang selir anda harus memdapatkan dia apa pun caranya."
Permaisuri menatap ke arah si pelayan."Bagaimana caranya bisa kau jelaskan." Si pelayan berbisik ke telinga permaisuri. Sebuah senyuman di wajah permaisuri. "Aku ikuti rencanamu."
Selang beberapa lama Yue keluar dari kediaman kaisar. Permaisuri Lan fen menghadang Yue di tengah jalan. Yue memberi hormat kepada permaisuri Lan fen. Lan fen mengacuhkan selir Yue. "Jangan senang dulu hanya karena kau selir kesayangan raja kau bisa naik ke posisi tertinggi."
Yue tidak bicara dia mengangguk kemudian pergi dari hadapan permaisuri. Yue tidak ingin terpancing dengan omongan permaisuri. Yue kembali menuju kediamannya saat dia berpapasan dengan pangeran Juan yang sedang duduk memainkan dizi di Gazebo. Dia pasti sedih harus kehilangan sang ibu. Yue tidak berani mendekatinya. Dia pun pergi.
* * *
Bulan terangkat ke langit, kaisar
Long wei duduk sambil bermain catur sendirian di temani angin malam. Seorang pria mengenakan baju zirah mendekati dirinya.
Dia mengepalkan kedua tangannya, "Hormat yang mulia Long wei meletakan pion di tengah, kemudian dia melirik kearah sang jendral, "Jendral Fang hua apa kau sudah menemukan orangnya. "Tidak yang mulia tapi polanya sama yang menyerang anda dua puluh lima tahun yang lalu."
"Siapa? apa dia orang di masa laluku, " Long wei terus mengigatnya. "Jangan - jangan dia orang yang saman yang mengendalikan selir - selirku."
"Maksud yang mulia selama ini selir -selir yang hendak membunuh yang mulia di kendalikan seseorang."
"Ya, bukan hanya selir Maya bahkan selir - selir sebelumnya mereka mencoba membunuhku. Aku harus pura - pura lumpuh hampir dua tahun lamanya untuk mengetahui siapa dalang semua ini, jika bukan karena Yue mungkin aku tidak akan mengakhiri sandiwara ini."
"Bukannya yang mulia hanya menyukai permaisueri Lan fen."
"Dari awal aku tidak pernah menyukainya, yang aku sukai adalah Qiu yue, walau pun aku terus menyakiti gadis itu. Asalkan dia selamat dari konspirasi seseorang yang sampai sekarang aku tidak tahu siapa dia." jawab Long wei membayangkan awal pertemuan pertama kali di sebuah hutan saat umur gadis itu baru sepuluh tahun. "Tolong kau jaga Yue baik - baik menyamarlah jadi kasim jangan sampai ada orang yang berusaha menculiknya."
"Baik yang mulia, akan hamba laksanakan perintah yang mulia." ucap sang jendral.
* * *
Di sebuah ruangan seorang pria mengenakan topeng menyalakan dupa. Di papan nama sang ibu. "Akhirnya kau mati juga, ibu. Bertahun - tahun kau hanya menyayangi dia di bandingkan anakmu sendiri," jawabnya dengan kesal. " Akan aku rebut semuanya."
Setelah selesai berdoa seorang gadis masuk," Yang mulia hamba turut berduka cita, " gadis itu menyinggungkan senyumannya. Sang pangeran menghampiri sang gadis kemudian dia memangut bibir gadis itu. Membuka bajunya hingga kelihatan dadanya. "Terima kasih kau sudah membunuh wanita ****** itu,Ting."
"Demi yang mulia hamba rela melakukan apa pun."Jawab Ting sambil ******* bibir sang pangeran setelah mereka berciuman gadis itu memakai kembali bajunya. "Yang harus hamba lakukan adalah pembunuh selir Yue melalui permaisuri."
"Lakukanlah yang terpenting kau bunuh orang yang dekat dengan Long wei." Pria itu kembali memakai topengnya. Dia menuju ke kediamannya. Dia membuka perlahan pedang dari sarungnya matanya nyalang penuh emosi. Dia mengarahkan pedang ke sebuah lukisan yang dia lukis. Kekasih masa lalunya.
"Aku tidak akan memaafkanmu, berani sekali kau mengkhianatiku." Sambil melempar pedang ke lantai.
* * *
Sejak kaisar mengetahui masa lalunya. Yue ragu apakah kaisar masih mencintainya. Tapi yang mulia mau menerimanya setelah dua tahun dengan segala kelemahannya. Belakangan ini Yue selalu bermimpi burukny,masa lalunya selalu terbayang.
Saat dia menggerakan kepalanya menghirup tepat di atas garis batas rambutnya, Yue memutuskan hanya akan mencintai kaisar seumur hidupnya.
"Kau tahu kapan terakhir aku sebahagia ini?" pria itu bertanya.
Yue beringsut mendekati Yuan di atas selimut kami, berusaha untuk tetap hangat dinginnya malam.
"Nggak tahu."
"Saat..."
---
Yue terbangun dari mimpinya. Dia langsung membuka matanya keringat membasuh pelipisnya, tangannya dingin membeku. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Beberapa hari ini Yue sakit kepala bahkan dia sulit bangun.
"Yang mulia anda harus istirahat,' kata si pelayan membawakan obat untuk Yue. "Aku baik - baik, tubuh Yue sudah tidak tahan dia hampir saja ambruk kalau saja kaisar tidak datang dan menopang tubuh Qiu yue. "Cepat panggilkan tabib"
Tabib Ming ju meneriksa keadaan Permaisuri Yue, "Selamat yang mulia anda akan segera mempunyai anak." Aura kebahagiaan terpancar di wajah Yue. Anak Yue tidak berpikir bahwa dia akan memiliku anak dari kaisar Long wei. "Yang mulia, air mata jatuh di pipinya. Kaisar menghapus air mata Yue. "Kau harus makan." Long wei menyuapi Yue bubur. Perasaan Yue berbunga - bunga sekaligus cemas, jika ada terjadi sesuatu dengan bayinya. Yue mengelus perutnya yang masih rata. Long wei menyentuh tangan Yue. Tapi ada rasa cemas di hatinya. Seolah tahu apa yang di pikirkan selirnya, Long wei tersenyum samar. Dia memegang jari mungil Yue. "Kita rahasiakan kehamilanmu demi keselamatan bayi kita.
Yue mengangguk dia akan menjaga bayi dalam perutnya. Tanpa mereka sadari diam - diam seorang pelayan mendengar perbincangan mereka.
Kasim Rou mengikuti si pelayan yang pergi dari kediaman kaisar, diam - diam. Dia menuju paviliun permaisuri.
"Apa yang sedang dayang istana lakukan di kediaman permaisuri."
* * *
Di kediaman permaisuri, pelayan masuk kemudian membungkuk hormat.
"Apa kau punya berita bagus untukku."
"Yang mulia permaisuri sedang mengandung." kata si pelayan. Seketika wajah permaisuri di tekuk. Dia meremas gaunnya. "Kau yakin." Sambil menggertakan giginya. Selir Yue akan menurunkan posisinya sebagai permaisuri jika dia melahirkan anak laki - laki.
"Yang mulia saya dengar sendiri."
Rahang Lan fen mulai terasa sakit karena menggertakan giginya. Jika semua orang tahu kehamilan Selir Yue, mereka semua bisa melengserkan dirinya terutama para mentri. Sebelum semuanya tahu dia harus menghabisi selir Yue.
"Hamba tahu cara membunuh selir Yue. Kata Ting menghampiri permaisuri . "Apa?"
Ting memberikan kan sebuah pil hitam kepada permaisuri Lan fen. "Racun."
"Racun penggugur kandungan," Ucap ting. Lan fen mengambil
Pil itu. "Kau yakin?"
"Tentu saja yang mulia."jawab Ting dengan senyum Licik
Mau tidak mau kedatangan Yue di kehidupan kaisar membuat kecemburuan Permaisuri Lan fen. Seharusnya dia wanita yang di cintai kaisar. Kaisar jarang menyentuhnya. Kaisar selalu menghabiskan bersama Yue, Lan fen marah dan punya rencana untuk menghabisi Yue.
---
Di sebuah ruangan besar pria bertopeng sedang duduk di atas meja kayu hitam berumur ratusan tahun dia sedang menggambar wajah Qiu yue. Kertas - kertas berserakan di mana - mana. Lukisan sang mantan kekasih. Mata yang dingin penuh nafsu membunuh. Dia melakukan itu hampir tiap hari.Semua demi dendam kepada Qiu yue.
Seorang pelayan masuk membawakan teh. "Yang mulia saya bawakan teh, "Si pelayan meletakan teh di atas meja. Pria itu mengambil cawan teh. Dia menyuruputnya. Dia menumpahkan teh di atas lukisannya.
"Kau harus mati,Qiu yue. " Sambil meremas gelas itu sekuat tenaga membuat cangkir teh itu retak.
Ting masuk dengan langkah pelan tidak ingin mengganggu sang pangeran. "Aku dapat kabar berita permaisuri hamil."
Seketika pria itu mematahkan kuas itu hingga patah," Apa kau bilang."
"Permaisuri sedang hamil." ucap Ting dengan wajah pucat melihat sang pangeran dengan ekspresi membunuh. Dia berjalan mendekati Ting," Coba kau sebutkan Yue hamil." Mata sang pangeran memicing dengan amarah yang melup - luap dia mencekik Ting. "Bunuh bayi dalam kandungannya." Sambil melepaskan cekikan Ting. Dia tidak menyangka sang pangeran masih mencintai selir Yue. Ting cemburu kenapa semua lelaki yang di cintainya harus di rebut Yue.
* *
Di istana Long wei geram dengan para mentri yang tidak becus mengurusi wabah kekeringan yang melanda desa Chen.. Dia memecat para mentri yang tidak becus. Long wei melempar gulungan di depan para semua orang yang di aula Agung terhenyak.
"Haruskah aku turun sendiri kelapangan!" Long weu tidak bisa meninggalkan Yue yang sedang hamil sendirian.
Long wei masuk ke dalam kamar melihat Yue yang berbaring lemah, kandungan Yue sangat lemah. Long Wei duduk di sisi ranjang. Dia menyuapi Yue makan. Dengan berat hati dia harus meninggalkan istrinya di istana. Mata Long wei berkaca - kaca napasnya seolah berat. Yue melihat raut kecemasan di mata yang mulia dia mengulurkan tangan memegang telapak tangan kaisar yang halus. Bibir Yue mengatup.
"Yang mulia apa yang anda cemaskan."
"Aku harus pergi meninggalkanmu sendiri."[]