
Marsya menatap jam didinding kamarnya, sesekali dia melirik layar handphone nya. Jam sudah menunjukkan pukul 23:50 Menit, namun Marsya belum juga memutuskan untuk tidur, bukan tanpa alasan Marsya melakukan nya, dia sedang menunggu panggilan dari Dino, hari ini adalah hari spesialnya Marsya, Marsya ingin orang pertama yang mengucapkan nya adalah Dino berharap hadiah pertama yang dia dapatkan pula adalah pernyataan cintanya Dino. Beberapa kali Marsya sudah melirik jam dindingnya dan tak lepas matanya menatap layar handphone nya. Perasaannya sudah tidak karuan lagi dia sudah merasa tidak dapat menunggunya lagi.
"wah sudah jam segini, sah aku ulang tahun namun aku masih jomblo, sebentar lagi usiaku 14 tahun,kemana sih kak Dino, kenapa dia tidak menghubungi aku". gumam Marsya mulai cemas sambil melirik angka jam di balik layar ponselnya
Marsya meraih handphone nya kasar dia menekan tombol panggilan ketika nomor Dino tertera dikontak hp nya, WHAT nomornya menunggu, Marsya spontan kaget dan tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
" Telepon siapa kak Dino jam segini, biasanya j segini dia selalu menelpon ku". gerutunya kesal sambil masih menatap nama Dino yang tertera dilayar HP-nya.
Tidak lama kemudian HP nya Marsya bergetar, sebuah panggilan masuk, benar saja Dino langsung menghubungi nya,
"hmmm kak Dino". sambil memencet tombol menolak panggilannya
Marsya masih kesal dengan Dino, makanya beberapa kali panggilan Dino dia abaikan, sampai akhirnya masuk panggilan lain yang tak lain adalah panggilan dari Ahmad.
"hallo kak" ucapnya dengan nada lemas bak bangun tidur
Ahmad langsung memulai percakapannya dengan nyanyian lagu selamat ulangtahun
"selamat ulangtahun marsya, kakak selalu berharap semoga Marsya selalu bahagia dan selalu menjadi pacar terbaik buat kakak, selamat ya sayang". sambung nya setelah menyanyikan lagu ulang tahunnya
Marsya membunyikan senyuman nya dengan memberikan kesal kaget yang dibuatnya,
"terima kasih kakak". balasnya dengan nada yang manja
"mau hadiah apa dari kakak sayang". tanya Ahmad tak kalah manja, dia betul-betul memposisikan dirinya seperti remaja sekolahan bila sedang bersama Marsya, tidak ada sedikitpun sikap sok dewasa dan wibawanya.
"ih kakak kalau mau kasih hadiah kok tanya-tanya segala sih, gak ikhlas mau kasih ya". ucap Marsya dengan nada yang dibuatnya sedikit marah tapi dengan suara yang imut
"hehehe ikhlas dong sayang". jawab Ahmad dengan nada gemes sambil tertawa
"yaudah gak usah ditanyakan dong, langsung buat supraise gitu dong, biar romantis". masih dengan nada yang sama suara marah yang imut
"iya,ya sayang, besok hadiah nya kakak titip sama Aisyah ya". ucap Ahmad dalam nada sedih
"Loh kok gitu, kenapa bukan kakak sendiri yang kasih". tanya Marsya dengan nada penasaran
"maaf sayang, tadi sore kakak lupa ngabarin, soalnya ini dadakan dan kakak harus buru-buru buat packing dan langsung berangkat keluar kota, kakak harus melalukan perjalanan dinas untuk 2 hari ini, ada masalah yang harus kakak langsung pergi". Ahmad mulai menjelaskan berharap ada pengertian dari gadis kecilnya, yang dia sangat tau, untuk gadis sekecil Marsya tidak mudah buat memahami nya
"kakak kok gitu sih, kenapa pas hari spesialnya Marsya sih perginya, kakak gak sayang lagi ya sama Marsya". Marsya mulai merengek
Ahmad mulai membujuknya, merayu gadisnya yang marah-marah, dia memahami gadis seusia Marsya masih sangat labil dia harus bersabar pada sikap yang di tunjukkan Marsya saat ini, walaupun dia merasakan marah nya Marsya kali ini sangat berlebihan, namun dia mencoba mengerti mungkin hari ini hari ulangtahunnya, ada beberapa hal yang dia inginkan mungkin tidak terpenuhi, gadis seusia Marsya masih sangat suka menghayal dan egois. sepanjang malam Ahmad melakukan itu membujuk dan bertingkah konyol untuk mengembalikan mood Marsya, mestipun badannya sangat lelah karena menyetir selama 2 jam perjalanan, seharunya saat ini dia istirahat, namun dia ingat gadisnya hari ini sedang berulang tahun, dia tidak mungkin melewatkan itu karena letihnya.
***
esoknya....
Marsya mengusap kasar matanya, tidurnya benar-benar terganggu oleh getaran hp nya sendiri, panggilan ini telah berkali-kali mengganggu tidurnya yang entah sampai jam berapa semalam dia berbicara dengan Ahmad, hari ini adalah hari Minggu, dia bisa melakukan kegiatan bangun siangnya di hari liburnya, tanpa ada gangguan ibunya dan sikembar.
"hallo". ucapnya dengan suara khas bangun tidur
"Marsya maafin kakak ya". ucapan itu terdengar jelas di pendengaran Marsya, spontan Marsya kaget dia semalam memang benar-benar melupakan Dino benar saja dia kesal tapi dia bermaksud akan menghubungi Dino setelah mengakhiri panggilan telepon Ahmad, tapi tidak disangka nya, dia melupakan Dino semalaman.
"hmmm". Marsya mendehem sambil mengumpulkan nyawanya, dia sudah diposisi duduk di atas kasur nya menyikap selimutnya dan memegang kepalanya yang masih merasa kan pusing diantara kenyataan dan mimpi.
"semalam kakak sibuk main game, hp kakak dipinjam kawan kakak". Dino menjelaskan semuanya, Marsya cuma hanya menanggapi nya dengan dehemannya saja, dia benar-benar kecewa pada Dino setelah apa yang dilakukannya semalam
"Marsya kenapa diam, Marsya maafin kakak ya, kakak bukan sengaja mau buat begitu, besok-besok kakak gak akan kasih pinjam lagi hp kakak deh, tapi please maafin kakak, please". Dino membujuk Marsya dengan suara mengiba nya
Marsya menarik nafas panjang dia mulai mendamaikan pikirannya, akhirnya dia memaafkannya.
"janji ya besok-besok Jangan diulangi lagi". ucap Marsya dengan suara marah yang imut
'iya Yaya kakak gak akan ulangin lagi, kakak janji hehehe". jawab Dino lega dengan suara tertawanya.
"semalam ada apa sya telpon kakak". tanya Dino kemudian
"what ada apa". Gerutu Marsya kesal
"sudahlah ini tidak bisa dibiarin, aku harus melakukan sesuatu".
dia bergeming sambil memikirkan ide untuk membuat Dino peka kalau hari ini ulang tahunnya.
Memasang suara manis dan sedih
"kak Marsya sedih deh".
"sedih kenapa".
"sepertinya benar yang dikatakan orang, Marsya tidak spesial dihati kakak, mereka menertawakan Marsya mengatakan Marsya kepedean sama kakak, mereka mengejek mengatakan kalau Marsya hanya kepedean berfikir kakak suka sama Marsya". bersuara pelan dan sedih
"kata siapa kamu kepedean, kata siapa kamu tidak spesial dihati kakak". suara Dino terdengar meninggi dan marah, Marsya tersenyum simpul
"eh maksud kakak, kamu itu sangat spesial Dimata kakak, kamu tidak kepedean kakak memang suka sama kamu, tapi .. " suara kak Dino tertahan membuat rasa penasaran timbul di Marsya
" tapi kenapa kak". tanya nya cepat dan tak sabar menunggu jawabannya, hati Marsya saat ini merasakan perasaan deg degan ada rasa gundah disana
"tapi kakak merasa tidak pantas saja dengan Marsya, kakak merasa mungkin sikap baikmu selama ini bukan karena menyukai kakak, kakak tidak berani kakak takut kalau kakak kasih tau perasaan kakak, kamu malah jauhi kakak". Dino menjelaskan panjang lebar, terdengar suara tarikan napas panjangnya, Marsya tersenyum lega penuh kemenangan mendengarnya.
Bukan tanpa alasan Dino menjadi ragu begitu, dia sangat tau siapa saja yang mendekati Marsya selama ini, mantan nya Marsya pun arnord dan indra siapa yang tidak tau lelaki itu sangat tampan dan populer dengan segudang prestasi, belum lagi bg Ahmad ABG di baim, Fahrul kawannya, dan dia menolak mereka semua, dia merasa tidak mudah meluluhkan hatinya Marsya, karena itu dia sangat ragu, kalau Marsya juga akan meninggalkan nya seperti dia meninggalkan arnord dan menolak nya seperti teman-teman nya yang pernah menembak Marsya.
Dino tidak begitu kenal dengan Arnold tapi dia beberapa kali pernah melihat lelaki itu ketika dia menonton pertandingan bola, saat itulah dia pertama kali melihat wajah Marsya saat itu yang merintih kesakitan karena terkena bola yang tidak sengaja ditendang oleh arnord.
setelah itu dia menjadi sering melihat wajah Marsya tanpa sengaja, seperti saat menjemput bang Dani disekolah, ataupun saat dia ke makam ayahnya yang kebetulan dekat dengan tempat les nya Marsya, dan itu tanpa disadari oleh Marsya saat itu, mbak sambung tersambut dia sangat kaget saat Marsya sendiri yang dengan berani mengulurkan tangannya sendiri untuk berkenalan dengan nya, pertemuannya dirumah sari bukan pertama kalinya untuknya, gadis yang selama ini dikagumi nya dari jauh kini tepat berada dihadapannya. Aku kalah selangkah dalam hal ini dari Marsya, aku sudah lama mencari tahu tentang nya ketika aku melihat dia dirumah sari aku sangat bahagia. Kini aku juga kalah selangkah oleh ragu ku, sekali lagi Marsya melakukan nya menuntun kami dalam cinta. Bukan dia yang pertama jatuh cinta tapi AKU.