Fucek Girl

Fucek Girl
EGOIS



Marsya masih tetap mendiamkan Dino, Marsya tau dia terlihat sangat egois, tapi tetap hati kecilnya menolak diperlakukan seperti ini, ada perasaan dimana ada rasa ketidak terimaan nya ketika permasalahan itu hadir dihadapan mata nya, dia tau dan sadar bahwa masalah ini yang paling sangat disalahkan disini adalah sikap keegoisan nya, Marsya masih tidak dapat menerima dan masih tetap mendiamkan Dino karena rasa keegoisan nya.


"gila aja dia selingkuh nya didepan gue". ucap Marsya pada Ami


"aku gak terima dia mempermainkan aku seperti itu, selama beberapa jam di pesta sepupunya aku telah menjadi badut didepan mata-mata temannya, mereka ketawain aku, aku sakit hati banget, apa coba maksud dia undang aku dan undang pula si Rita". Marsya terus meluapkan uneg-unegnya dia masih tidak habis pikir akan diperlakukan serendah itu oleh Dino, lelaki yang begitu memspesial kan dia, dengan semua pesona yang dia miliki.


sudah seminggu lelaki itu kewalahan menghadapi sikap dingin Marsya yang tak kunjung meredam, lelaki itu terlihat kusut dengan wajah baju dan rambut yang berantakan, dia benar-benar sangat frustasi menghadapi sikap dingin Marsha yang tak dapat dia tebak.


Dia masih berdiri di depan rumah gadis itu, disebelahnya Siska dan Mbak Erni berdiri kaku dan tegang ditengah frustasi Dino.


Bukan karena apa, aksi nekat Dino dengan berani mengambil langkah seperti sekarang memang bukan hal yang baik untuk menyelesaikan masalah, malah akan menciptakan masalah baru dimana akan semakin merumitkan semuanya. Bukan karena apa orang tua Marsya sangat mengerikan, mereka tipe orang tua yang kaku dan sangat keras pada aturan dan prinsip, mereka tidak mungkin tidak akan bertindak bila tau Marsya berpacaran.


Setelah mendapatkan telpon dari Marsya Siska dan Mbak Erni bergegas menghampiri Dino, mereka mencoba membujuk Dino agar tidak melakukan hal bodoh didepan rumah Marsya.


"Dino, sebaiknya kamu pulang ya". ucap Mbak Erni lembut mencoba membuka kembali ucapannya setelah sejam lebih mereka mencoba merayu Dino untuk berhenti melakukan tindakan bodoh ini.


"er, aku harus bicara dengan Marsya sebelum bertemu dengan dia aku tidak akan pulang". ucap Dino kekeh


"besok kan bisa kamu bicarakan ditempat lain, jangan dirumahnya".


"dia tidak ingin menemui ku"


"besok aku bantu deh kak, aku bawa Marsya jumpa kakak, kak Dino gak kasihan sama Marsya, kalau orang tuanya tau, kalian bukan tidak akan balikan, tapi tidak akan pernah ketemu lagi, kakak mu lihat Marsya semakin sedih, kak please jangan egois dong". ucap siska memburu, saat melirik jam sudah mau jam 5, yang berarti sebentar lagi ibu Marsya akan pulang dari tokonya.


"Dino benar apa yang dikatakan Siska, ayo kita pergi dari sini". ucap Erni sambil menarik tangan Dino menjauh dari perkara gan rumah Dino.


Marsya terus mengintip dari balik golden jendela rumahnya, wajahnya sudah pucat keringat dingin sudah mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya ketika dia tau Dino dengan nekat datang kerumahnya,


"gimana nih kalau ada yang lihat terus ada yang lapor ke ibu, ya ampun bagaimana ini". Marsya terus bergumam panik sambil terus mengintip kearah luar.


kaki nya sudah bergetar dia semakin panik ketika melihat jam sudah menunjukkan jam 5 sore.


kring .... kring ....


(Mbak Er) calling ..... 📞


"mbak er,, tolong cepatlah bawa kak Dino pergi, plizzzzzzzzzz". ucap nya berkali-kali ketika menerima panggilan itu dia sangat panik sekarang.


"Marsya tenanglah dulu, mbak udah coba bujuk Dino, tapi dia masih kekeh, cepatlah kamu sendiri yang bujuk dia". ucap Mbak Er dengan nada kesel


" Marsya panggil Dino lirih


"kamu gila ya,, kamu mau bunuh aku ya". ucapnya panik


"sayang kakak gak ada maksud gitu, kakak cuma ... ".


"kak please kakak pulang ya, please Marsya mohon". ucap Marsha memotong ucapan Dino


"Marsya kakak baru pulang kalau Marsya janji dulu mau bertemu dengan kakak". ucap Dino kemudian


"kak tolonglah cepatlah pergi, ".


"jawab dulu Marsya, kalau gak kakak gak akan pulang". Dino terus mendesak Marsya, dia tau ini ada kesempatan yang harus dia gunakan sebaiknya


"ya ya besok kita jumpa". jawab Marsha dengan nada panik


"janji". ucap Dino dengan senyum penuh kemenangan.


"iya ya ya janji". teriak Marsya kemudian


Dino tersenyum kemenangan saat mengakhiri telponnya dengan marsya.


"kalian pasangan gila, sama-sama gila". maki mbak er sambil meraih handphone nya, Dino yang dimaki oleh mbak er hanya tersenyum cengengesan menimpali omongan mbak er.


ketika melihat Dino sudah meranjak pergi dia sedikit merasa lega, dilab nya keringat yang mengalir di dahinya


"hufff akhirnya". ucapnya lega sambil mengelus dadanya


"Erni, Siska lagi ngapain kalian".


jeng ..jeng...jeng...


Mbak Erni dan Siska langsung kaku ditempat, hati mereka berdegup kencang seperti dentuman drum, tak karuan seakan tempat mereka berdiri sedikit bergetar.


Dino yang berada ditengah-tengah nya juga merasakan dentuman yang sama di hatinya, sebisa mungkin dia optimalkan gayanya, mencoba sebisa mungkin tersenyum ramah kepada perempuan paruh baya yang menatap datar kearah mereka bertiga.


"Marsya". teriak ibunya.


dengan segera bayangan gadis itu muncul dihadapan ibunya.


"ini siapa". tunjuk ibunya Marsya kearah Dino


semua tertunduk takut menatap wajah datar ibu Marsya yang tak berepresi, semua merasa ketakutan untuk membuka mulutnya hanya sekedar memberikan alasan. ibu Marsya tidak mudah untuk menipunya, dia sangat mudah membaca kebohongan, seolah-olah sudah tertulis didahi kita bahwa kita sedang menipu.


"gimana ini mbak". bisik Siska sambil menggigil ketakutan


sedangkan Marsya sendiri sudah pasrah, dia sudah tau apa yang terjadi selanjutnya.


"kalian semua bisu ya, ibu tanya dia siapa". tanya ibu Marsya sekali lagi dengan nada tegasnya.


"i ...i..itu buk, te..te..man nya mmmmbak err". jawab Marsya terbata-bata matanya sudah berkabut, dia terus menundukkan wajahnya tak berani menatap wajah ibunya.


PLAK


Tamparan keras itu nyaring terdengar, Marsya langsung terduduk lemas sambil memegang pipinya, Dino yang kaget melihat keadaan Marsya refleks meraih dan merangkul tubuh Marsya


"sya kamu tidak apa-apa kan". ucap Dino khawatir, tangan lemah gadis itu terus melawan dan menolak perhatian Dino, dia terus mendorong tubuh Dino menjauh dari tubuhnya.


"pulang kamu". ucap ibu Marsya, dia menarik tubuh anaknya menjauhi Dino, Siska dan Mbak Er semakin tak dapat melakukan apa-apa, mereka mengutuk kebodohan Dino.


"buk tolong jangan kasarin Marsya, dia tidak melakukan apapun, daritadi dia tidak menjumpai saya". ucap Dino kemudian


"anak saya tidak saya ijinkan berpacaran". ucap ibunya tegas


"kamu jangan pernah datang lagi untuk bertemu dengan anak saya, dalam keluarga kami, tidak ada yang boleh berpacaran, kami tidak mentoleransi hal tersebut, saya harap kamu dapat memahami prinsip keluarga kami, jangan temui anak saya". tekan ibu Marsya semakin mempertegas kan ucapannya.


"ta ta ya tapi buk". ucap Dino tidak terima


sebelum hendak dia menjawab, tangannya ditarik oleh mbak er dan Siska, seterusnya ibu Marsya dan Marsya langsung meninggalkan mereka dan masuk dalam rumah.


"Dino, jangan dulu, tolong, jangan semakin memperumit kan keadaannya ya, kasihan Marsya". ucap Mbak Er


"tapi Marsya tidak akan kenapa-kenapa kan". ucap Dino khawatir dan merasa bersalah pada gadis itu


"ayo kita pergi dulu dari sini". kembali mbak er terus menarik tangan Dino untuk menjauh dari rumah Marsya


PLAK..PLAK..PLAK


***


Bagaimana nasib Marsya dan dino selanjutnya, apa yang terjadi seterusnya akan berada dilanjutkan kisahnya, semua kisah Marsya sangat rumit selalu setia menunggu update nya ya,, support me yang banyak banyak ya love you all 💜💪🤗