
"mampus, kenapa aku harus duduk di deretan pertama sih, berhadapan pula tu dengan meja pengawas, gimana aku nyonteknya coba". gumam Marsya dalam hati sambil memperhatikan mejanya. kemudian dia melirik ke Fita dan Aisyah yang duduk di deretan paling belakang.
"enak banget kalian ya". pekik Marsya manyun ke arah kedua sahabatnya yang terlihat cekikikan mendengar pekikan Marsya.
"enak apanya Marsya". terdengar suatu berat menegurnya dari arah pintu ruang.
Marsya melirik pucat kearah suara tersebut,
"pak Doni". sapa Marsya salah tingkah lalu dia buru-buru menempatkan diri di meja nya.
"sudah siap ujian kan semuanya". suara pak Doni kembali terdengar lantang
"SIAP Pak". jawab siswa-siswi ruang Marsya serentak
"baiklah sebelum kita mulai ujian kita, mari kita berdoa terlebih dahulu menurut agamanya masing-masing, berdoa dimulai". suara pak Doni kembali menggema
"ya Allah aku mohon lancarkan sedikit aja otakku, betulkan semua jawaban aku, AMIN".Syahrul membaca doa nya terdengar oleh semua nya yang membuat semuanya mengamini pula doa Syahrul untuk diri mereka sendiri, setelah itu mereka ngakak berjamaah.
"hmm". deheman pak Doni membuat kelas kembali hening.
"doa nya dalam hati aja ya Syahrul". tegur pak Doni, Syahrul Hanya tersenyum malu sambil mengangguk polos.
"baiklah anak-anak sekarang kita akan memulai ujian kita, seperti jadwal yang sudah dibagikan, hari ini kita akan ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia bla bla bla". pak doni mulai memberikan aba-aba, dan terus menjelaskan pengertian dan aturan kepada kami tentang proses melaksanakan ujian.
"Marsya semangat ya". ucap pak Doni saat memberikan lembar ujian kepada Marsya, Marsya melirik kaget kearah pak Doni, yang nampak biasa saja tanpa ekspresi.
"apa aku salah dengar ya, gak mungkin lah pak Doni kasih semangat buat dia". gumamnya dalam hati.
15 menit kemudian..
Marsya nampak celingak-celinguk memperhatikan teman disebelahnya, dia mencuri pandang pada setiap kertas jawaban teman-temannya, dia membulatkan matanya dan memasang wajah kasar kepada temannya saat temannya mencoba menyembunyikan kertas jawaban darinya.
walaupun begitu Marsya sukses mencontek 2 jawaban dari teman sebelahnya.
"sedang apa Marsya". suara pak Doni menegur dengan tegas
Marsya tidak menjawab dia hanya menunduk pura-pura kembali fokus membaca soalnya.
pak Doni terus berdiri menyandarkan sedikit bokongnya di meja Marsya, dengan tangannya dilipat ke perut, dia nampak serius memperhatikan setiap siswa yang mencoba curang dikelasnya.
"pak Doni kenapa berdiri disini sih". gumam Marsya kesel dalam hati.
namun kemudian marsya mencium aroma khas dari tubuh pak Doni, bau parfum pak Doni memabukkan penciuman Marsya,
" ya ampun wangi banget". gumam Marsya sambil menghirup dalam-dalam parfum pak Doni sambil menutup matanya.
Tuk..
"aduh". pekik Marsya sambil memegang dahinya yang barusan disentil pak Doni. Marsya memasang wajah kesal ke pak Doni sambil menggosok kasar dahinya yang kena sentil
"fokus". ucap pak Doni tegas dengan wajah dinginnya, kemudian dia pindah ke mejanya.
"kenapa sih pak Doni pakai parfumnya sama banget dengan parfum mas Ahmad, hmmm jadi rindu". gumam Marsya dalam hati, dia tidak dapat mengontrol perasaannya seketika dia mewek di kelas.
pak Doni yang kaget melihat Marsya langsung berdiri panik dan mendekati Marsya.
"kamu kenapa sya". tanyanya panik.
"huhuhu huhuhu". Marsya semakin menjadi-jadi nangisnya dia juga tidak mengerti mengapa dia cengeng ini, apalagi semakin pak Doni disampingnya dia semakin mewek karena mencium bau parfum itu.
pak Doni semakin panik, dia mencoba memeriksa dahi Marsya, terlihat merah.
"apa sesakit itu". gumam pak Doni. sambil jongkok di depan Marsya.
Marsya menggelengkan kepalanya untuk memberitahu bukan itu penyebabnya. namun karena perasaannya yang tak karuan, membuatnya tidak dapat menjelaskan maksudnya. bau parfum pak Doni semakin tercium di Indra penciuman nya, Marsya menenggelamkan pikirannya dia kembali larut menikmati aroma yang sangat dirindukannya itu.
pak Doni dan teman-temannya menatap aneh kepadanya. seketika pak Doni menyentuh lembut pundak Marsya menyadarkannya dari lamunannya.
"kamu gak apa-apa kan sya". tanya pak Doni khawatir.
"bapak jangan dekat-dekat, awas". usir Marsya kasar, dia mendorong tubuh pak Doni tak sengaja, karena reflek kaget dan salah tingkahnya.
"sudah gak apa-apa ". ucap pak Doni menolak uluran tangan Marsya dan dia langsung berdiri tegak.
"ini sedang ujian, kamu jangan buat onar di dalam kelas, semua kembali fokus kerjakan soal ujiannya, dan kamu Marsya sekali lagi membuat onar, bapak cabut soal ujian kamu". ucap pak Doni tegas, teguran pak Doni membuat kelas kembali tegang dan serius.
mereka nampak kembali larut dalam bacaan soal ujian.
Kwek Kwek Kwek
"Marsya". pekik semua teman-temannya panik, soalnya tiba-tiba Marsya muntah ditempat.
Marsya yang kaget karena tidak dapat menahan gejolak yang terjadi diperutnya langsung saja memuntahkan isi perutnya tanpa aba-aba, dia pun kaget dengan dirinya, dia tidak merasakan mual sebelumnya.
Marsya membulatkan matanya kaget, dia melihat syok pada kejadian itu seketika matanya terlihat panik menatap sekelilingnya.
"ma ma maaf". ucapnya panik dia mencoba berdiri dari kursi lalu kemudian tiba-tiba gelap dia langsung tidak sadarkan diri. pak Doni yang melihatnya mau jatuh langsung sigap berlari kemudian menopang tubuh Marsya agar tidak terjatuh kelantai. seketika sekelas menjadi panik, teriakan teman-teman Marsya mampu mencuri perhatian kelas lain, suasana depan kelas Marsya menjadi riuh seketika, semua menjadi mencari tau apa yang terjadi.
Marsya dilarikan ke UKS kemudian dari pihak sekolah terus menghubungi wali Marsya.
tidak ada penanganan serius yang terjadi di UKS , Marsya hanya ditidurkan disana, dan diberikan minyak untuk membuat Marsya sadar, air gula hangat juga sudah disediakan disana jika Marsya sadar maka dia akan diberikan minuman itu.
"Marsya". panggil seseorang saat Marsya membuka kan matanya perlahan.
"ibu". ucap Marsya lirih, dia memandang sosok ibunya.
"kamu masih pening". tanya ibunya sambil membantunya bangun.
"gak buk Marsya gak pening". ucap Marsya jujur dengan keadaannya yang memang dia tidak merasakan pusing sedikitpun.
"sepertinya Marsya tadi lupa sarapan ya, makanya besok sebelum sekolah sarapan dulu ya nak, kasihan kan perutnya masuk angin jadi begini kan jadinya". ucap buk Devi menegur Marsya yang menjadi petugas piket hari ini,
Marsya hanya mengangguk lemah, dia mengiyakan saja teguran itu. Marsya melirik ibunya, yang menatapnya bingung, bukan tanpa sebab Marsya tidak pernah terlewatkan sarapan paginya, tadi pun dia sarapan dengan sangat baik, itu bukanlah alasan dan penyebab anaknya pingsan.
"kamu kenapa sya, kok bisa sampai muntah dan pingsan gitu, apa kamu salah makan". tanya ibunya curiga
"Marsya cuma sarapan dirumah doang kok". jawab Marsya lagi.
"tidak ada yang salah dengan sarapan kita, itu kan yang sering kamu makan, biasanya gak kenapa-kenapa". ucap ibu nya semakin bingung
"gimana ceritanya kamu sampai muntah dan pingsan". selidik ibu nya Kembali
"gara-gara parfum pak Doni". ucap Marsya polos dengan memanyunkan mulutnya
"apa". pekik ibu kaget dan gak percaya
"i i itu buk parfum pak Doni wangi banget". ucap Marsya kikuk
"wangi kok buat kamu muntah dan pingsan, jawab jujur jangan mengada-ada". suaranya ibu terlihat keras dan tegas
"beneran buk, gara-gara parfum pak Doni, Marsya suka banget wanginya, terus tiba-tiba Marsya merasa muntah, tidak ada aba-aba muntah aja gitu, terus ma mar Marsya dorong pak Doni". ucap Marsya menjelaskan namun saat menceritakan kejadian dia mendorong tubuh guru nya dia terlihat kikuk.
"ya Allah Marsya, gak enak banget dengan pak Doni". ucap ibu Marsya geram ke anaknya
" habis bau nya wangi banget buat Marsya lupa ingatan, kalau pak Doni terus-menerus dekat Marsya, bisa-bisa Marsya peluk". ucap Marsya polos dan keceplosan lalu dia langsung saja menutup mulutnya saat dia menyadari kebodohannya, mata ibu membulat sempurna saat mendengar penuturan anaknya.
Tuk
ibunya memukul kepala Marsya, bersamaan dengan itu terdengar sesuatu terjatuh, dengan itu mereka serentak menatap arah yang sama dimana disana terlihat sosok pak Doni yang menunduk sambil mengambil sesuatu yang tidak sengaja dia senggol.
"Pak Doni". panggil Marsya dan ibu nya serentak dengan mimik wajah kaget mereka.
pak Doni terlihat tersenyum masam menatap Marsya dan ibunya. dia terlihat salah tingkah dengan wajah memerah yang tidak dapat dia tutupi.
",waduh sejauh mana tu, pak Doni dengarnya". 😁😂
****
Bantu like dan komentar ya teman-teman, plissssssssss 😭😁😇💪