Fucek Girl

Fucek Girl
Hilangnya kesalahpahaman



"Mas" tegur Marsya yang membuat Ahmad kaget seketika.


"Marsya" ucapnya kaget


"kok kesini". tanya nya lagi


"mas lama kali makanya Marsya samperin, lagipula ibu sudah menelpon". Jawab Marsya lagi.


Ahmad terlihat berdiri di tempat, dia tidak pun terlihat mendekati Marsya ataupun sedang memperhatikan ucapan marsya. Pandangan nya terlihat kosong dia larut dalam pikirannya.


"mas" panggil Marsya berkali-kali, akan tetapi Ahmad terlihat tidak menyadari panggilan Marsya.


Marsya mendekati Ahmad dia terlihat khawatir melihat ekspresi wajah Ahmad.


"mas". Panggil Marsya sekali lagi sambil menyentuh lengan Ahmad


"eh apa yang, eh apa". Jawab Ahmad gelagapan dia kaget saat Marsya menyentuh nya.


"kamu kenapa kek ke samber syaitan". tanya Marsya sambil menatap Ahmad, Ahmad nampak menggaruk tekuk nya tidak gatal. Dia mencoba tersenyum.


"tadi kamu bilang apa yang? " . Tanya Ahmad kembali terlihat dia menyembunyikan ekspresi wajah kikuknya


"itu kan kamu gak dengar tadi aku ngomong apa, lagi mikirin apa sih?". Tanya Marsya kesal sambil memperhatikan wajah Ahmad intens.


"maaf sayang, tadi mas melamun". Jawab Ahmad jujur. Kemudian tanpa aba-aba Ahmad memeluk Marsya erat, dia menenggelamkan wajahnya di leher Marsya , Marsya yang awalnya menolak ketika merasakan tarikan nafas Ahmad berat membiarkan saja tindakan Ahmad yang memeluknya.


"kamu kenapa". Tanya Marsya khawatir


Hik hik hik terdengar tangisan Ahmad. Dia semakin memeluk Marsya erat ketika Marsya bertanya.


Marsya mencoba menepuk-nepuk punggung Ahmad dia mencoba menenangkan Ahmad, yang dia sendiri tidak mengerti kenapa Ahmad menangis. Ahmad semakin larut dalam tangisan nya tubuhnya terlihat bergetar.


"mas, kamu kenapa, jangan buat khawatir deh". Tanya Marsya sambil menarik diri dari pelukan Ahmad, terlihatlah wajah sembab Ahmad, dia menundukkan wajahnya dia mencoba menyembunyikan sesuatu.


melihat diam nya Ahmad membuat Marsya membiarkan saja dulu Ahmad menenangkan dirinya, bila Ahmad ingin bercerita dia akan bercerita.


"sayang mas minta ma". Belum sempat Ahmad menyelesaikan kata-katanya, suara hp ibu Marsya memekik keras.


Marsya langsung panik dan segera mengangkat HP-NYA.


"Halo, iya buk, Marsya sedang menuju keatas, udah siap". ujar Marsya ketika dia mengangkat HP-NYA.


"mas ibu udah kelaparan banget, mas gak apa-apa kan Marsya tinggal, pulang terus ya, jangan nangis lagi, cengeng amat". Tutur Marsya sambil menggunakan tangannya untuk mengelap sisa air mata Ahmad, dia juga merapikan tatanan rambut Ahmad yang sempat berantakan tadi. Ahmad mengangguk manja sambil mengelus pipi Marsya penuh kasih sayang.


"sayang mas gak akan ninggalin kamu". Ucapnya kemudian, dan kembali terlihat sedih


Marsya hanya mengangguk dan tersenyum manis menatap wajah Ahmad menatap nya penuh kasih.


Ahmad meraih tangan Marsya kemudian menciumnya, dia membawa Marsya dalam pelukannya kemudian mencium dahinya dalam-dalam.


"yok, mas antar kamu sampai lift". Ajak Ahmad kemudian


"tidak usah mas, mas harus kembali ke kantor lagi kan". Tolak Marsya


"masih keburu sayang, mas cuma mengambil tas saja ". Jawab Ahmad kekeh


"tidak usah mas". Tolak Marsya tetap.


"tidak bisa sayang, kamu harus hati-hati, jangan lari-larian ". Ucap Ahmad tegas dia memperlihatkan kekhawatiran nya.


"hahaha, mas aneh deh, marsya bukan anak kecil". Jawab Marsya malah terkekeh


Ahmad tidak memperdulikan lagi penolakan Marsya, dengan cepat dia menangkap tangan Marsya dan mengantarnya ke lift. Marsya mengikuti saja langkah Ahmad tanpa mau berdebat lagi. Sepanjang perjalanan menuju lift Ahmad terlihat lebih pendiam, dia terlihat tidak banyak berbicara, Marsya membiarkan saja sikap Ahmad sambil terus berfikir mungkin Ahmad ada masalahnya sendiri. Samar-samar Marsya memikirkan dengan siapa tadi Ahmad berbicara, karena dia tidak terlalu memperhatikan sosok itu karena terhalang dengan tubuh Ahmad, dia ingin bertanya tapi dia ragu untuk bertanya karena Ahmad terlihat sangat tertekan saat ini, dia ragu untuk bertanya kepada Ahmad. Marsya menyadari ini bukanlah sikapnya seperti biasa tapi entahlah dia tidak ingin ambil pusing.


Ahmad menghentikan langkahnya, terlihat wajah bingung Marsya saat melihat Ahmad menghentikan langkahnya.


"sayang, kamu kenapa diam aja". Tanya Ahmad kemudian


"bukannya mas". Jawab Marsya menampilkan wajah bingung


"sayang besok sore sebelum mas balik, kita jumpa, boleh". Tanya Ahmad kemudian.


"mas langsung balik besok". Tanya Marsya bingung


"iya sayang, tadi bos mas bilang kami balik besok sore". Ujar Ahmad


"oke yasudah, kita jumpa di dekat sini aja ya". Saran Marsya


"oke sayang, yasudah hati-hati ya". Ucap Ahmad berpamitan ketika pintu lift terbuka


"oke mas, mas juga ya". Ujar Marsya sambil melambaikan tangannya ke Ahmad kemudian dia masuk ke lift.


***


Dikamar ruang inap sikembar.


Saat ini kedua adiknya sudah ditempatkan didalam ruangan, tadi saat Marsya membeli makanan kedua adik-adiknya sudah dipindah tempat kan dari ruang IGD ke ruang inap.


Terlihat ayah dan ibu sedang menyantap makanan nya, keduanya asyik dengan makanan nya.


Marsya terlihat duduk sambil melihat keluar jendela, terlihat suasana malam gelap yang tidak berbintang di langit nya, langit terlihat kosong malam ini, terasa begitu hampa dan sepi, entah apa yang dipikirkan Marsya namun dia terlihat larut dengan pikirannya.


Mungkin dia memikirkan perkataan orang tuanya tadi, yang akan membawa sikembar juga bersama mereka ke Singapura.


"sebenarnya ibu sakit apa ?". Tanya Marsya tiba-tiba


Terlihat kedua ayah dan ibunya saling menatap.


"Sindrom Asherman" ujar ayah


"Mas". Panggil ibu tidak ingin suaminya menjelaskan pada Marsya


"gak apa-apa sayang, Marsya harus tau, kita sudah janji kan tidak ingin lagi terjadi kesalahpahaman didalam keluarga kita". Ucap ayah membuat ibu menunduk


"apa itu ? " tanya Marsya bingung dengan nama penyakit ibunya.


"kamu masih ingat saat sikembar masih setahun, ibu pernah masuk rumah sakit". Tanya ayah sama Marsya


Marsya mengangguk ingat, dia saat itu masih sangat kecil tapi dia sangat mengingat kejadian itu, awalnya dia tidak menyadari tapi dia sadar sikap ayah dan ibunya mulai berubah setelah kejadian itu. Marsya masih ingat itu pertama kali dia melihat dan mendengar ayah dan ibu nya berantem hebat, mereka saling berteriak dan melempar barang, Marsya tau permasalahannya, mereka saat itu saling menuduh dan melempar makian. saat itu berbulan-bulan dia tidak melihat kedua orang tuanya, dia tinggal bersama kakeknya, setelah lama kemudian kedua orang tuanya menjemput nya kembali dan sikap ibunya semakin dingin terhadapnya, dulu ibunya terlihat acuh terhadapnya sekarang ibunya terlihat membenci dirinya. Alasannya mudah ditebak, wajah Marsya yang terlihat mirip ayahnya. Ketika marah pada ayahnya, Marsya pasti akan menjadi pelampiasan ibunya. Dan sayangnya saat itu ayah terlihat hanya diam saja seakan membiarkan saja tindakan itu.


"dulu ibu setelah punya sikembar pernah hamil lagi dan ibu mengalami keguguran, ibumu mengalami pendarahan hebat saat itu". Ujar ayah terlihat sedih dia seperti membuka luka lama. Saat itu ayah tidak tau kondisi ibu hamil, dia baru tau setelah berbulan-bulan ketika keluarga menyatukan kembali mereka, maksudnya hubungan mereka bukan hati mereka.


"ibu mu harus segera dioperasi kembali, penyakit ini tergolong langka, selama ini ibu menyembunyikan penyakit nya dari kita, ayah juga baru tau kemarin, ketika ibumu tiba-tiba pingsan di toko nya, A a ayah tidak tau selama ini dia begitu menderita karena keegoisan yang masih marah dengan ibumu". Ujar ayah sambil menunduk dia menyembunyikan air matanya yang menetes.


Marsya berlari dan memeluk ibunya, dia menangis di pelukan ibunya


"maafkan Marsya buk". Ujar Marsya dalam pelukan ibunya


"ibu juga minta maaf, sama kamu juga mas, seharusnya aku jelasin bukan membuat kamu semakin curiga denganku". Ucap ibu nya kemudian


"jadi selama ini kalian diam-diam karena ayah curiga ke ibu dan ibu menyembunyikan penyakit ibu, terus ayah balas dendam dengan sengaja memancing kemarahan ibu terus karena gak bisa marah dengan ayah, ibu malah lampiaskan ke aku gitu". ujar Marsya cengo dan juga kesal


"100 buat kamu". Ucap ayah kemudian tertawa


"enak aja, masak Marsya sih yang jadi korban kisah percintaan kalian". Ucap Marsya merenggut


"siapa suruh wajah kamu cetakan bapakmu". Ujar ibu sambil tersenyum kemudian mengelap air matanya, dan mereka tertawa bersama.


Dendam itu semua nya luntur, untung mereka menemukan titik kesalahpahaman nya. Selama ini ayah terus curiga ibu masih menyimpan hati dengan masa lalunya dan belum menerima ayah, dan masih diam-diam bertemu dengan masa lalunya, ayah yang cemburu memancing amarah ibu dengan sengaja berselingkuh dan berfoya-foya dengan teman-teman nya.


keadaan ini patut disyukuri entah tidak kita juga tidak dapat mengatakan nya.


Sindrom Asherman adalah kondisi ketika jaringan parut terbentuk di dalam rahim atau leher rahim. Kondisi yang juga dikenal sebagai perlengketan rahim ini tergolong kasus yang langka dan paling sering dialami oleh wanita yang baru menjalani operasi pada rahim, termasuk kuret