
Sepanjang perjalanan pulang, baik ayah Maupun Marsya sama-sama memilih diam, tidak ada topik yang menarik untuk mereka bicarakan, Marsya memilih membuang wajahnya kearah samping jendela mobilnya, kemacetan di jalanan semakin membuat suasana didalam mobil semakin dingin.
memang seperti itu, hubungan Marsya dan ayahnya memang terkesan dingin, ayahnya bukan tipe yang akrab dengan anaknya, maksudnya hanya dengan Marsya. Entah karena apa suasana canggung semakin kentara terasa diantara mereka
"ekhem". Terdengar deheman ayah Marsya, Marsya reflek kaget lalu kemudian melirik ayahnya sekilas.
Terlihat raut wajah ayah nya yang nampak dingin, tanpa berekspresi, melihat tidak ada gelagat ayah nya ingin bicara, Marsya kembali membuang mukanya menatap keluar jendela, dia lebih mengasyikkan diri menatap lalu lalang kendaraan yang melintas daripada harus terlihat kaku saat berhadapan dengan ayahnya.
"Marsya". Panggil ayah nya kemudian
Marsya kembali kaget dia tidak dapat menyembunyikan ekspresi wajah kagetnya ketika mendengar ayahnya menyebutkan namanya.
"ayah mau mengatakan sesuatu kepadamu". Ujar ayah dengan mimik wajah serius
"iya ayah". Jawab Marsya lembut
"kamu masih ingin dengan kejadian beberapa hari yang lalu, di mall ?". tutur ayah nya membuka percakapan
"pasti lah yah, Marsya ingat sekali, itu kejadian memilukan dan paling sial yang pernah Marsya alami, diludahi dan dimaki didepan umum seperti itu". Gumam Marsya dalam hati dengan tetap mengontrol ekspresi kesalnya, bila mengingat kejadian itu
"iya ayah, masih". Jawab Marsya pelan, sambil menundukkan kepalanya.
"nama orang itu Arsyad, dia teman ayah dan juga om kamu, dan dia juga teman dekat ibu kamu dulu". tutur ayah terdengar jelas di pendengaran Marsya saat menyebutkan teman ibumu dulu suara ayah melemah seperti ada sesuatu dibalik kata teman itu.
"Apa". pekik marsya kaget
"kalau om itu teman ayah sama ibu, tapi kenapa sepertinya dia sangat membenci kita ?". Ujar Marsya tidak percaya
Ayah nampak kembali mendehem dapat dilihat oleh Marsya ada kekhawatiran yang disembunyikan oleh ayahnya, keringat dingin meluncur di dahinya padahal AC mobil nyala.
"itu cerita nya sangat panjang, ada kesalahpahaman terjadi antara kami". Ujar ayah dengan menyembunyikan ekspresi wajah gugupnya. Marsya menatap tajam wajah ayah nya dia sungguh tidak se polos itu untuk mempercayai cerita ayahnya, pasti ini bukanlah kesalahpahaman kecil, ada sesuatu yang terjadi diantara mereka sehingga membuat om arsyad itu sangat membenci ayah dan ibu sebegitu nya.
"yang ingin ayah sampaikan kepada kamu adalah, apa yang dikatakan oleh dia saat itu semua nya tidak benar". Tutur ayah sambil menatap wajah Marsya tegas
"perkataan yang mana ayah". tanya Marsya sengaja memancing ayahnya agar membicarakan tentang persoalan ini dengan jelas tidak ambigu.
ayah nampak menarik nafas panjang dia terlihat gugup
"tentang anak haram". Tutur nya kemudian dengan menggenggam stir mobil kuat seakan menutupi amarah yang ingin keluar.
Marsya tentu saja mencoba tenang dia berpura-pura tidak paham kondisi tersebut, terlihat polos dan tanpa sedikitpun menunjukkan rasa penasarannya, padahal sedari tadi dia mencoba memancing ayahnya untuk berbicara.
"terus kenapa om itu memanggil Marsya anak haram?". Tanya Marsya dengan mata berkaca-kaca. Dia tentu sedih seumur hidupnya baru merasakan penghinaan yang begitu dahsyat. Di maki anak haram dan diludahi dengan kasar nya di tempat umum.
"itu sebuah kesalahpahaman, ada hal yang membuat dia berfikir kalau ibu mu hamil duluan sebelum menikahi ayah". Ucap ayah jujur
"kenapa seperti itu". Ucap Marsya
"kelahiran mu yang prematur semakin meyakinkannya bahwa kamu anak diluar nikah, pada kenyataannya tidak, tanyakan nanti sama kakek mu di sana, kakek sebagai saksi saat ibumu harus dilarikan kerumah Sakit dan terpaksa melahirkan mu pada saat usia kandungan nya memasuki 7 bulan". tutur ayah menceritakan tentang kisah masa lalu nya
"apa yang terjadi , kenapa Marsya tidak tau kisah ini". Tanya Marsya kaget dia baru mendengar kisah memilukan ini dari mulut ayahnya
"kamu pasti tau cerita pernikahan ayah dan ibu kan, ayah dan ibu terpaksa dinikahkan karena kesalahpahaman orang tua yang menganggap kami berpacaran, dan kamu tau sendiri kan saat itu ayah dan ibu sangat muda, kami sebagai remaja pasti tidak lah memiliki pribadi yang baik. Saat itu ayah tidak berada di rumah, Arsyad datang ke rumah menemui ibumu, entah apa yang mereka bicarakan, ibu mu menangis mengejarnya dan kemudian dia tersandung dan terjatuh, untung saat itu kakek berkunjung jadi langsung dapat membantu ibu mu dan dilarikan ke rumah Sakir, karena pendarahan yang cukup parah, sehingga membuat ibu mu melahirkan mu dengan cepat". Tutur ayah menceritakan tentang kisah masa lalu nya dengan amarah yang disembunyikan.
Marsya mencoba menahan emosinya, matanya tidak berkedip sedikitpun mendengarkan cerita ayahnya, yang hal baru baginya, karena dia selama ini tidak pernah tahu menahu mengenai permasalahan yang menerpa keluarganya.
"itu kisah masa lalu kami nak, tidak perlu menjadi beban untuk mu, dan tidak perlu juga untuk kau contohi, sekarang ayah dan ibu sudah ikhlas dan menerima takdir kami, ayah tau ayah seorang suami dan ayah yang tidak baik, tapi percayalah ayah mencoba memperbaiki semuanya". ucap ayah sambil memandang sedih wajah Marsya.
"tolong lupakan segalanya ya nak". ucap ayah sambil memandang wajah Marsya
"lupakan ? Bagaimana bisa yah? tentu Marsya sangat sakit hati ayah, seumur hidup Marsya baru kali ini Marsya menerima penghinaan yang begitu menyakitkan hati Marsya, hal itu terjadi ditempat umum ayah, tidak mungkin ayah tidak merasakan bagaimana rasanya menjadi Marsya, malu, marah dan terhina menjadi satu, padahal Marsya tidak pun mengenal dia, dan itu bila itu kesalahpahaman biasa mengapa sampai segitunya dia membenci kita , dan apa salah Marsya sehingga Marsya menjadi korban kesalahpahaman kalian". tutur Marsya mengeluarkan uneg-uneg nya, dia begitu berani mengungkapkan perasaan kepada ayahnya, ini adalah kalimat terpanjang pembicaraan Marsya dengan ayahnya.
Wajah ayah nya terlihat cengo saat mendengarkan ungkapan hati Marsya, dia sedikit terasa disentil hatinya, dia juga merasakan hal yang sama, marah, sakit hati dan terhina saat Arsyad dengan kejam menyerang Marsya anak gadisnya.
Sedingin dingin dan sekejam-kejam orang tua, saat anak nya diperlakukan tidak sopan oleh orang lain, dia pasti tidak akan terima, pasti rasa keegoisannya keluar, dia merasa terhina dan juga marah.
" ayah tau, Marsya sangat malu ayah, semua orang lihatin Marsya, mungkin ayah seorang teman lama melakukan itu untuk menyapa anak teman lamanya yang sudah lama tidak bertemu hik hik hik". sambung Marsya lagi dalam isaknya.
ayah nampak mengerakkan giginya, telinga dan wajahnya memerah, dia terdiam tapi pikiran berkecamuk dipenuhi oleh amarah.
"seharusnya sedari dulu ayah menyelesaikan kesalahpahaman ini dengan dia, ayah pikir dengan cara menghindari, semua akan baik-baik saja, tapi tidak semudah itu Marsya, kau tau mental ibumu, semua karena ayah menghindari masalah itu bukan menyelesaikan nya". Ucap ayah nya dalam dia seperti terlihat tidak sadar dengan ucapannya.
Marsya ikut melirik pandangan ayahnya menatap lurus kejalan, sambil mengontrol tangisannya.
"apa kau tau nak, ayah mu ini sungguh pengecut". Ucap ayah dingin, mata nya kosong menatap lurus perjalanan.
"Beri kami kesempatan untuk memperbaiki diri sebagai orang tua ya Marsya". Ujar ayah sambil tersenyum penuh arti kepada Marsya
Setelah itu tidak ada percakapan lagi yang mereka bicarakan, mereka terlihat sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.