Fucek Girl

Fucek Girl
Posesif



Marsya menatap lurus ke depan, ditatapnya hujan mulai deras turunnya.


"apa mas tidak cukup untuk mu Marsya". tanya Ahmad kembali dengan nada kesalnya, dia tidak dapat mengontrol laju emosinya ketika gadis itu berekspresi dengan datarnya.


"katakan sesuatu Marsya". bentak Ahmad menuntut penjelasan


"bukanya mas sudah tau semua nya, apalagi yang harus Marsya katakan". balas Marsya dengan ketusnya, dia berbalik ekspresi nya dengan Ahmad


"Hah". pekik Ahmad jengah, Marsya kembali membuang wajahnya.


"wow jadi kamu tidak perlu mengatakan apapun lagi, luar biasa kamu Marsya, lihat kesini Marsya mas sedang bicara dengan kamu". bentak Ahmad dengan nada perintahnya.


"Dino cuma teman Marsya mas". ucapnya kemudian masih dengan wajahnya yang berpaling dari wajah Ahmad


"teman kamu bilang Marsya, kamu pikir mas sebodoh itu, hah ". ucap Ahmad geram


"seperti itu kamu anggap teman, terus hubungan kita juga kau anggap sebagai apa, teman juga". sambung Ahmad semakin tersulut emosinya.


"kamu itu sadar gak sih Marsya, apa yang kamu lakukan". kembali dia meluapkan uneg-unegnya , dia memukul stir mobilnya kasar melampiaskan amarahnya.


"terus mau mas apa, Marsya cuma teman doang mas sama dia". Masya masih kekeh dengan pernyataan nya.


"Marsya tolong kalau kamu tidak bisa jujur maka diam saja". ucap Ahmad sambil menggertakkan giginya, dia mengeram kesal.


"kamu memang tidak bisa dibiarkan". ucapnya sambil mengebut mobilnya, wajah Ahmad benar-benar memerah, dia tidak dapat lagi mengontrol emosinya, Ahmad terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya dia memarkirkan nya di apartemennya.


"Turun". perintah Ahmad kasar


Marsya menggeleng dia tidak akan menuruti keinginan Ahmad, Ahmad yang sudah geram, menarik lengan Marsya kasar, dia terus menarik tubuh Marsya sampai kaki itu melangkah kedalam apartemen nya.


"kamu benar-benar membuat kesal Marsya, terimalah hukuman kamu". ucap Ahmad dengan seringai iblisnya, dia mencium kasar bibir Marsya, dengan cepat melepas kancing baju Marsya.


"mas lepas mas lepas". ucap Marsya memberontak, dia tidak ingin Ahmad menyentuh nya, tubuhnya sudah sangat sakit sebelumnya.


namun Ahmad seakan dibutakan oleh semua itu, dia sudah buas dalam permainan nafsunya, air mata Marsya seketika menetes dia tidak kuat melawan, tubuhnya benar-benar remuk sudah.


"sakit mas". ucapnya masih terus mengiba


Ahmad sudah gila dengan nafsunya, dia terus melakukan nya dengan kasar, dia sudah di atas alam sadarnya, mata nya kini sudah berkabut nafsu.


"diam Marsya, kau harus tau kenapa kau tidak boleh bersama lelaki lain, ingatlah ini kau hanya milikku". ucap Ahmad posesif semakin cepat menggoyangkan pinggulnya. sebelum cairan kepuasan itu mengalir deras di dalam rahim Marsya.


"hik hik hik mas kamu jahat, aku benci kamu". tangis Marsya histeris, dia terus merintih kesakitan tubuhnya seakan terasa remuk sekarang.


"Marsya kita sudah terlanjur sayang, mas sangat takut jika orang tau kondisi mu orang akan memanfaatkan tubuhmu, kamu tau kekhawatiran mas kan, kamu paham kan". ucap Ahmad sambil menempelkan dahinya ke dahi Marsya, dia memegang kedua pipi Marsya, dengan sesekali mencium kepala Marsya.


"jangan tambahkan beban mas padamu Marsya, belum mas selesaikan penyesalan karena merampas kesucian mu, kali ini karena tindakan kamu mas kembali lagi melakukan ini, Marsya jangan tambahkan berat beban lagi ya". ucapnya lagi yang diangguk pelan oleh Marsya, Marsya tidak lagi menjawab apa-apa , dia sedikit mencondongkan tubuhnya keatas, kedua tangan nya memeluk leher Ahmad, dia menenggelamkan wajah nya diceruk leher Ahmad.


lama mereka dalam posisi itu, sampai akhirnya


Gruk gruk gruk..


Ahmad menundukkan kepalanya kebawah, dia tersenyum simpul.


"kamu lapar sayang, nyaring kali suara perutmu berbunyi". ucap Ahmad dengan nada jenakanya dia tertawa nyaring mengejek Marsya.


muka Marsya sudah ditekuk cemburut, ahmad yang melihatnya dengan gemas menciumi seluruh muka Marsya.


cup cup cup cup cup


"apa-apaan sih mas, geli, awas". tolak Marsya masih dengan nada sok merajuknya.


Kemudian dia meraih handphone nya, yang tidak jauh tergeletak dengan tubuh keduanya, Ahmad langsung mengulik mencari nama yang bisa dia tuju, Marsya melihat Ahmad jengah.


"apa". tanya Ahmad yang kebetulan melirik dan melihat ekspresi wajah jengah Marsya.


Marsya memajukan bibirnya, menunjukkan senjata pemungkas Ahmad masih bersarang di loyang nya,


"hehehe biarin aja lah yang". ucapnya kemudian yang dibalas wajah jengah oleh Marsya, dia tidak mempedulikan ekspresi tidak nyaman Marsya, dengan sikap masa bodohnya tentang apa yang dirasakan Marsya, dia dengan sengaja mengecup singkat bibir Marsya, setelah itu memperlihatkan rentetan barisan giginya kemasrya.


"hallo pak Jaka, masih ditempat, oh oke tolong antarkan nasi 2 porsi ke apartemen saya, segera ya pak". ucapnya saat telponnya nya mulai tersambung, setelah mengucapkan urusannya dia terus mematikan telepon genggamnya, lalu kembali mendarat kan bibirnya di pucuk pa****a Marsya, dia kembali memilin dan ******* aset kesayangan dengan nikmat.


"siapa". tanya Marsya disela sela kegiatan


"hmmm, satpam dibawah". jawab Ahmad yang tidak melepaskan panutannya.


"mas stop, kamu suka kali melakukan ini padamu, lihat ini semakin condong gara-gara kamu". ucap Marsya yang kesal menunjukkan pucuk pa****ra nya yang sangat lancip akibat hobi Ahmad yang suka bermain disana.


Ahmad hanya tersenyum, tapi dia tetap tidak melepaskan pangutan dari tempat favoritnya,


"awas aja kalau sampai keluar susu ya". ucap Marsya kembali dengan nada gemes dan mencubit pipi Marsya.


"enak sayang". jawab Ahmad dan terus melanjutkan meny**s* seperti bayi.


iya bayi besar Marsya.


***


Hari ini adalah hari kenaikan kelas Marsya, Ahmad yang mendampingi Marsya mengambil rapor, terus mengutuk gadis nya karena melihat nilai rapor gadisnya merah semua, dia mengutuk kebodohan Marsya, dia sungguh tidak habis pikir dengan nilai yang dimiliki Marsya.


"apa yang ada di kepala kamu sayang, kenapa nilai kamu merah semua, lihat ini". ucap Ahmad yang selalu mengulang perkataan yang sama setiap dia melirik rapor Marsya.


"udah lah mas yang penting naik kelas". jawab Marsya yang mulai kesal


dia sengaja tidak memberitahu kan orang tua nya perihal pembagian rapor nya karena dia takut kalau ibu dan ayahnya mengambil rapor mereka akan disidangkan oleh wali kelasnya, Marsya tidak ingin orang tuanya tau dan dia cukup ketakutan saat ini jikalau orang tuanya tau perihal nilainya.


"sayang tidak bisa begini, kamu harus belajar, mulai dari besok kamu harus belajar, tidak bisa begini". ucapnya semakin jengah.


Marsya membalikan bola matanya, dia tidak sadar Ahmad sedang memperhatikan nya, diketuk nya kepala Marsya dengan tangannya, Marsya meringis kesakitan, sedang kan Ahmad tersenyum tanpa dosa.


"Hy Abang sepupu Marsya". sapa anak-anak disekolah Marsya dengan centilnya, ahmad hanya tersenyum simpul membalas sapaan mereka.


"aduh ganteng banget". kembali pekikan suara seperti keledai itu memekik ditelinga Marsya, dia melirik tajam wajah Ahmad, dia memandangnya kesal


"Centil, gatel". maki Marsya ketika pandangan mereka bertemu, Ahmad hanya tersenyum geli saat melihat ekspresi cemburu diwajah Marsya, ingin kali dia mencubit dan mencium Marsya saat ini, karena disini tempat umum, dia mencoba sekuat tenaga menahan gejolaknya.


"Ayo pulang". ucap Marsya sambil menarik tangan Ahmad.


"Disini banyak kali nyamuk". sambung Marsya kemudian sambil melirik kewajah teman-temannya yang menganggumi ketampanan wajah Ahmad.


"cie yang cemburu". goda Ahmad yang bahagia dicemburui Marsya. Marsya membalikan bola matanya jengah.


"eh ABG sepupu Marsya, mau pulang ya". ucap buk Susi dengan nada centilnya.


"ya Allah gak murid gak guru Sama aja sikapnya". batin Marsya dalam hati, dia semakin kesal dengan semua ini.


"ia nih buk, kata Abang sepupu Marsya Disini banyak kali kecoak". ucap Marsya ketus sambil tersenyum pahit, lalu terus menarik tangan Ahmad kasar dan membawanya mengikutinya keparkiran.


***