
Ahmad berhasil mengejar Marsha.
"sayang lari mu cepat banget sih". Keluh Ahmad sambil melonggarkan dasinya.
"abis Marsha malu banget mas". Keluh Marsya sambil mengerucutkan bibirnya.
"mas berapa hari lagi Disini". Tanya Marsya sambil memperhatikan Ahmad. Tak di pungkiri lelakinya ini memang sangat tampan, dia memiliki tubuh yang profesional dengan pahatan wajah yang sangat sempurna, alis tebal tatapan mata yang tajam , dan juga bibir nya yang tidak kecil atau pun tebal, membuat Ahmad sangat kontras ketampanan nya, siapapun yang melihatnya akan terpesona. wajar banget Sofi begitu mengagumkan dirinya.
"tidak tau sayang, sebentar mas cek dulu jadwal kegiatannya". jawab Ahmad sambil mencoba meraih tangan Marsya untuk digenggam nya, sebelah tangan nya lagi dia meraih hp nya dia memeriksa jadwal kegiatannya.
"Harusnya sih hari ini kegiatan terakhir sayang, tapi sepertinya akan ditambah jadwalnya". Ucap ahmad menjelaskan
Ahmad saat ini sedang melakukan perjalanan dinas paket meeting di luar kota, makanya saat ini dia berada di kota yang sama dengan Marsya.
"kamu kok di RS yang, siapa yang sakit". Tanya Ahmad sambil menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku celananya.
"Zahra dan Zahran mas, mereka tadi kejang-kejang". ujar Marsya menjawab pertanyaan Ahmad
"ya ampun, sekarang gimana mereka sayang, apa kata dokter". tanya Ahmad khawatir
"kondisi mereka sekarang sudah baikan, kata dokter sih tadi karena demamnya terlalu tinggi maka nya kejang-kejang". tutur Marsya memberi tahu Ahmad
"ya ampun kasihan banget sikembar". Ucap Ahmad kemudian sambil menyamakan gerakan kakinya menyesuaikan langkah kaki Marsya.
Ahmad melirik Marsya intens setelah dirasa tangan Marsya terlihat gemetaran dirasakannya.
Ahmad begitu kaget melihat wajah pucat Marsya yang menahan sesuatu, keringat bercucuran di wajahnya.
"sayang kamu kenapa". Pekik Ahmad sambil memegang kedua bahu Marsya dia sangat khawatir dengan kondisi Marsya.
Marsya memeluk perutnya, dia terduduk di lorong rumah sakit semua mata tertuju pada mereka , melihat Marsya terduduk membuat Ahmad seperti khawatir pada Marsya.
"Ayo yank, kita periksa". Ucap Ahmad sambil menggendong Marsya.
"mas gausah". Ucap Marsya menahan gerakan Marsya
"kamu pucat kali sayang, kita periksa dulu". ucap Ahmad khawatir.
"mas Marsya cuma sakit perut doang, ini karena Marsya belum makan aja". Ucap Marsya lagi kemudian,
"belum makan". Tanya Ahmad kaget
"iya mas, ini Marsya turun karena mau beli makanan, kami belum pada makan semua". ujar Marsya sambil bertumpu ditubuh Ahmad mencoba bangkit.
"kamu yakin sayang, karena belum makan?" . Tanya Ahmad memastikan ucapan Marsya.
Marsya mengangguk yakin, kemudian Ahmad terus memaksa Marsya agar mau dia gendong, akhirnya Marsya pasrah dan mau di gendong Ahmad.
Ahmad melepaskan jas nya dan memasangkan jas nya ditubuh Marsya. Kemudian dia membawa Marsya kedalam gendongannya ya.
"sayang kamu beneran sakit perut karena lapar kan". Tanya Ahmad memastikan kembali, setelah Marsya di dalam gendongan nya.
"iya mas". Jawab Marsya kembali dengan nada kesalnya. Pasalnya dia pun yakin penyebab dia sakit perut karena dia belum makan. Pasalnya ini sering terjadi padanya.
"kenapa perut kamu terasa keras sekali". Tanya Ahmad sambil semakin merasakan sentuhan perut Marsya di punggungnya, dia semakin menggoyang-goyangkan pinggulnya menyakinkan dirinya itu perut Marsya.
"itu angin mas, perut Marsya kembung". ujar Marsya sambil menertawai Ahmad.
"kekhawatiran kamu terlalu berlebihan deh mas". Sambung nya sambil tersenyum
Ahmad hanya tersenyum simpul dia masih terlihat mengerutkan keningnya
***
Di tempat makan.
Ahmad menyibukkan dirinya dengan bermain telepon genggamnya, dia terlihat sibuk mengecek atau sesekali terlihat seperti sedang mengetik di telepon nya. Sebelah tangan Ahmad mengelus perut Marsya sedari tadi.
kram diperut Marsya sudah pun menghilang, dia sudah merasa mendingan, tapi dia membiarkan saja Ahmad mengelus perutnya dia merasa nyaman dengan nya.
"kembung banget yank perut kamu, besok jangan telat-telat makan lagi". Tegur Ahmad mengingatkan.
"mas SMS an sama siapa ?". tanya Marsya dengan mulut penuh dengan makanan, wajah nya terlihat masam saat bertanya, membuat nya begitu terlihat menggemaskan di mata Ahmad , dengan gemasnya dia menekan pipi Marsya yang terlihat gembung karena makanannya
"ini dikunyah dulu sayang". Kata Ahmad dengan menggigit bibir nya gemas .
"Untung ditempat umum, kalau tidak ingin gigit saja rasanya". Gumam Ahmad dalam hati sambil membelai pipi Marsya.
Marsya menepisnya dia terlihat kesal melihat Ahmad tidak memberi jawaban yang diinginkan nya. Melihat Marsya udah mulai mengaktifkan mode on drama nya . Ahmad cepat-cepat meraih hp nya kemudian memperlihatkan layar nya kepada Marsya.
"ini yang, mas lagi SMS an sama teman-teman mas yang lift tadi". Ujar Ahmad sambil menarik tangan Marsya, takut Marsya merajuk dan menangis pula di tempat umum. Marsya meliriknya sekilas lalu kemudian dengan cueknya dia melahap kembali makanan nya.
"sayang mas ke mobil dulu ya, teman-teman mas mau ambil barangnya di dalam mobil mas". Ujar Ahmad sambil memperlihatkan kepada Marsya isi SMS an temannya.
"oke". Jawab Marsya cuek dia sibuk dengan aktivitas makannya.
"tunggu mas disini ya". Ujar Ahmad kemudian lalu dia melangkah cepat menuju parkiran.
***
Diparkiran
Ahmad terlihat sedang mengantar kepergian teman-temannya, mereka terlihat saling melempar ejekan ke Ahmad yang terlihat tersipu malu oleh godaan mereka.
Saat melihat mobil yang ditumpangi oleh teman-temannya sudah mulai menjauh, Ahmad hendak kembali melangkahkan kakinya menuju ke tempat Marsya.
"Ahmad". Terdengar seseorang memanggil namanya. Ahmad menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menyapa ramah orang yang telah memanggil namanya.
"Silvi". Panggil Ahmad sambil tersenyum ramah, dia mendekat lalu bercengkrama dengan nya.
"Apa kabar". Tanya Ahmad ramah
"aku baik, tadi aku pikir salah orang, ternyata beneran kamu". Ujar silvi sambil tersenyum ramah
"sedang apa disini". Tanya nya kembali
"tadi kolega ku terjadi insiden kecil di kantor". Ujar Ahmad memberi informasi
Silvi adalah mantan pacar Ahmad dulu, mereka putus saat Silvi sedang koas, penyebab mereka putus sebenarnya adalah pilihan Silvi sendiri yang ingin fokus pada masa depannya, bukan tanpa sebab dia melakukannya, Silvi tidak dapat mengontrol rasa cemburunya pada Ahmad, hal itu membuat dia tidak bisa fokus tiap kali melakukan aktivitas nya. Karena itu dia mengakhiri hubungannya dengan Ahmad untuk fokus dengan pendidikannya, karena tekanan keluarga nya pun sangat gencar saat itu, yang dimana notabene keluarga Silvi adalah keluarga dokter semua. Silvi menatap rindu wajah Ahmad, lelaki yang pernah mewarnai hidupnya dulu.
"tadi itu pacarmu? " tanya Silvi kembali memastikan, Ahmad mengerutkan dahinya,
"yang mana satu". tanya nya untuk memastikan.
"di lift ". Ucap Silvi , yang membuat Ahmad menggaruk-garuk tengkuknya salting saat mendengar jawaban Silvi, bagaimana tidak dia Marasa malu pasti Silvi juga melihat adegannya dengan Marsya tadi di lift
"iya". Jawab nya malu-malu dengan pipi merona,
"kamu bekerja disini". Tanya Ahmad kemudian
"iya aku berkerja disini". jawab Silvi kemudian.
Silvi yang melihat itu menatap wajah Ahmad penuh kesedihan. Dia mencoba tersenyum kecut.
"ada hal yang ingin kutanyakan padamu". Ujar Silvia kemudian
Silvi dia terlihat sangat kaget dan langsung menuju ke mobilnya hendak meninggalkan Ahmad.
"selamat ya". Ujarnya sebelum berlalu
"jaga dia baik-baik jangan dibuat stress ". Sambung nya kembali, lalu dia sudah berhasil pergi dari Ahmad.