Fucek Girl

Fucek Girl
Biarkan aku yang memberimu kebahagiaan



PLAK... Plak... PLAK


Setelah mendapatkan tamparan berkali-kali dipipi nya, Marsya tersungkur disudut dinding, dia tidak dapat lagi menyentuh pipinya, karena rasa perih yang diderita nya. Dia menunduk menatap nanar lantai dihadapannya, tidak berani dia mengangkat wajahnya untuk menatap wajah yang sedang bengis didepannya.


"siapa yang suruh kamu pacaran". tanya ibu dengan suara datarnya


Lidah Marsya terasa kelu dia tidak dapat menggerakkan lidahnya tubuhnya saat ini bergetar dia takut hanya untuk membuka mulutnya. air matanya terasa perih mengalir di pipinya.


"siapa yang suruh kamu pacaran". kembali suara ibu terdengar namun kali ini terdengar sedikit keras seolah mempertegas kan ucapannya.


"mm-ma ma ma af buk". ucapnya kelu


"untuk apa dia datang kesini".


"ngapain dia datang kesini, sudah berani ya kamu bawa lelaki pulang ke rumah".


PLAK


"berani-beraninya kamu, siapa yang ajarin kamu pacaran, siapa yang ajarin kamu bawa-bawa lelaki ke rumah, siapa". tanya ibunya bertubi-tubi.


"mm-ma ma ma af buk". hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Marsya, tubuhnya semakin bergetar.


"jawab jujur sama ibu, apa saja yang sudah kalian lakukan selama berpacaran". tanya ibu kemudian


"ti ti ti dak ada buk". jawab Marsya takut


PLAK


"jangan Bohong, jawab".


"ti ti ti dak ada buk".


dengan kasar ibu merobek baju Marsya, bertubi-tubi dia menampar Marsya dan mencubit pangkal pahanya sampai membiru, Marsya hanya menerima itu sambil meringis kesakitan, sampai akhirnya dia memilih untuk berpura-pura pingsan agar ibu nya mengakhiri menyiksa tubuhnya.


tapi tanpa terduga ibunya masih melanjutkan aksinya, tangan nya tidak lepas dari pangkal paha Marsya, Marsya mencoba pasrah dan melanjutkan akting pingsan nya dengan terus menahan dan mengharap bala bantuan.


"kurang ajar kali, bisa-bisanya kamu bawa pulang lelaki ke rumah, bukan hanya pacaran, malah berani bawa pulang lelaki, sudah berapa kali ini, beruntung hal ini cepat kepergok". ibu Marsya terus mengomelinya berjam-jam.


sampai akhirnya pengumuman meninggal nya Siti salah satu teman SMP nya menjadi syukur yang teramat besar untuknya. ketika pengumuman meninggal nya Siti diumumkan dimasjid, ibu langsung melepaskan Marsya dia langsung bergegas membersihkan diri dan langsung melayat ke rumah temanya tersebut yang kebetulan satu kampung. Marsya yang dibiarkan terletak disitu langsung tidak diindahkan nya, dia masih geram pada anak gadisnya yang masih kecil sudah berpacaran dan membawa pulang pacarnya ke rumah.


"Siti, makasih Siti semoga kau diterima disisinya". ucap Marsya lirih.


dia meranjak bangun, dia meringis kesakitan, dilihatnya baju nya yang sudah berantakan tak berwujud sudah, ditatap pahanya yang sudah berubah berwarna ungu, pipinya sudah merah, dia menyentuh nya pelan terasa sangat perih.


"sakit". aduh nya saat dia menyentuh pipinya


lalu dia merenung ditempat nya. merantapi nasibnya, kenapa ibunya sangat kejam kepadanya, padahal dia tidak melakukan apa-apa, kenapa ibunya melakukannya seolah-olah dia sudah berbuat dosa besar, dia meringis dalam rantapannya ketika rasa perih sesekali terasa di bekas pukulan ibunya tadi.


Keadaan rumah terasa sepi, setelah ibunya pergi, hanya dia sendiri disana, ayah dimana adik-adiknya pun dimana, orang-orang yang dia butuhkan saat ini tidak ada, dia semakin merasa kesepian, dilangkahkan kakinya pelan, dia melempar kan diri di atas kasur nya, ditatapnya langit-langit kamarnya, bayangannya diawang jauh, aku sungguh tak sanggup lagi Tuhan


Marsya meraih handphone nya ketika ditatapnya ada puluhan panggilan tak terjawab dari Dino. Marsya tidak sanggup lagi untuk berucap rasa sakit itu semakin perih ketika dia melihat nama Dino. diletakkan kembali handphone nya disebelahnya lalu dia kembali memejamkan matanya. dia sangat lelah, sangat lelah dia butuh istirahat.


***


keesokan nya.


Marsya menatap keluarganya, diliriknya ibunya yang kaku sedang membereskan dapur dengan wajah datarnya, dan dilihatnya si kembar yang sudah beres dengan sarapannya, diliriknya ayahnya yang pagi-pagi sudah disamperin oleh kedua sahabatnya, dan mereka sedang bercanda tertawa gelak dengan secangkir kopi dan sebatang rokok ditangan mereka masing-masing.


Marsya menatap mereka lengah, dia hari ini tidak nafsu makan, dia meraih sepatu sekolah nya hendak memakai nya, dia ingin segera keluar dari rumah yang terasa seperti neraka dunia di hidupnya. dia sudah terasa sangat sesak ingin buru-buru untuk keluar.


"Makan dulu". suara datar itu tiba-tiba terdengar samar di pendengaran nya. dia menoleh kebelakang ditatapnya ibunya masih sibuk mengelap dapur dengan wajah datarnya.


tak yakin apa yang dia dengar, Marsya terus melanjutkan memakaikan sepatunya


"kamu tuli ya, makan dulu". teriak ibunya makin ketus, dia melempar kain labnya, lalu menarik lengan Marsya kasar diarahkannya ke meja makan, Marsya hanya diam saja menurut apa yang dilakukan ibunya.


Tadi dia sempat melirik sekilas pada ayah nya yang acuh tak acuh pada nya, awalnya mereka semua sempat terdiam ketika mendengar teriakan ibunya, namun setelahnya kembali dalam pembicaraan mereka.


"Tuhan ini kah Hidupku". 😭😭😭


"Marsya are you oke sayang". tanya Dino khawatir yang melihat wajah pucat Marsya, Dino yang terus khawatir dan merasa bersalah pada Marsha terus datang lebih pagi kesekolah dan menunggu Marsya tepat didepan gerbang sekolahnya.


Marsya menatap Dino dalam, dia tidak menjawab apapun, tapi matanya terlihat menceritakan semuanya, kabut kesedihan tidak dapat dia tutupi disana, Dino yang menatap penderitaan gadisnya terus merasa iba padanya, tanpa bertanya apapun lagi segera dia membawa gadisnya dipelukan nya. Marsya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dino, dia seperti mendapatkan pegangan hidupnya, Marsya langsung menangis, dia menumpahkan semua kesedihan.


"cup cup cup, menangis lah sayang, gak apa gak apa-apa". ucap Dino sambil terus mengelus punggung dan kepala kekasihnya.


"maafin aku sayang, maafin aku, mulai dari sekarang aku janji akan terus berada di sisimu, tidak akan membiarkan kamu menangis lagi, adapun biarkan ku buat kau bahagia lagi". ucapnya masih setia memeluk gadisnya. Marsya hanya mengangguk dan terus menangis.


" hei kalian, apa yang kalian lakukan, pencemaran lingkungan baik namanya ini, sudah sudah lepas lepas cepat masuk, kalau tidak bapak kunci nih pagarnya". ucap pak satpam sedikit berteriak-teriak untuk mengakhiri perbuatan asusila atau hal tidak pantas di lakukan oleh siswa-siswi didepan sekolah dengan memakai seragam lagi


"maaf maaf pak, iya iya iya". ucap nya kemudian sambil melepas pelukannya. saat dari jauh dia melihat ada tatapan tajam yang menatap mereka siapa lagi kalau buka pak Dani Abang kandungnya dari Dino.


"sayang jangan nangis lagi ya, masuk sekolah dulu belajar ya, semangat oke, nanti kita jumpa lagi". ucapnya kemudian sambil mendorong tubuh Marsya agar masuk gerbang sekolah, dia melambaikan tangan nya sambil terus menatap punggung gadis itu.


"aku janji sayang, biarkan aku yang memberikanmu kebahagiaan". gumamnya dalam hati sambil menatap Marsya yang semakin menjauh.


"Ah sial". ucapnya kemudian saat dia masih menyadari pak Dani masih menatapnya tajam seakan mengusir nya pergi.


Dino tersenyum cengengesan, dia melambaikan tangannya kearah Dani, yang dibalas cuek oleh Dani, kemudian dia segera berlari kecil kearah sekolahnya yang kebetulan tidak terlalu jauh dari sekolah Marsya.


****


πŸ’œπŸ’œπŸ’œkenapa ibunya Marsya kejam kali ya sama Marsya, ****tetap semangat**** ya Marsya πŸ’ͺ


Tenang masih ada Mas Ahmad dan kak Dino yang selalu support dan sayang sama dedek Marsya kok πŸ€—