
Ahmad terduduk frustrasi dia mengutuk semua kebodohannya yang tidak dapat mengontrol dirinya, dilirik nya Marsya yang tertidur dalam isaknya, gadis itu menangis diantara rasa penyesalan nya dan rasa perih yang dideritanya.
Ahmad menarik celananya yang terletak di lantai diraihnya kemudian dia segera memakai kan nya, diraihnya juga baju gadis nya yang tercecer dilantai, setelah itu didekatinya tubuh gadisnya yang masih bergetar dan terisak di kasurnya.
Dibelai nya penuh sayang tubuh gadisnya, dia menatap penuh penyesalan atas apa yang telah dia lakukan pada tubuh itu.
"sayang, maafin mas". ucapnya sambil menarik tubuh Marsya kedalam pelukannya, dibelainya rambut itu dan dikecupnya berkali-kali dahi itu.
Marsya semakin terisak.
"sayang pakai dulu bajunya ya". ucapnya pada Marsya setelah melepas pelukannya namun tangan nya masih memegang pundak Marsya, Marsya hanya mengangguk menurut.
"sayang, mas janji mas akan bertanggungjawab pada mu, mas janji tidak akan meninggalkan kamu, maafin mas ya sayang, kamu mau kan maafin mas". ucap Ahmad meraih tangan Marsya ketika gadis itu sudah lengkap kembali dengan pakaiannya
"mas aku mau pulang". ucapnya lirih dia tidak ingin menatap wajah Ahmad, Ahmad semakin diliputi dengan perasaan bersalah nya.
"antar aku pulang mas, aku mau pulang". ucapnya semakin menyedihkan.
kemudian dia terus berusaha bangkit dan langsung berjalan merintih sambil menahan perih yang dia rasakan.
Ahmad langsung meraih tubuh Marsya, dia memeluk tubuh itu dari belakang.
"maafin mas sayang". ucapnya sambil memeluk tubuh Marsya dari belakang, dia membenamkan wajah nya diceruk leher Marsya
"sayang jangan marah, please maafin mas". rengeknya masih dengan posisi yang sama,
"mas". panggil nya lirih
"iya sayang". jawab Ahmad sambil mendongak kan sedikit kepala nya menatap wajah Marsya.
"perih". ucapnya lagi sambil menahan rasa perihnya, wajah nya memerah dan pucat meringis kesakitan nya.
Ahmad tersenyum simpul, dia menertawakan Marsya sekaligus merasa lega karena gadisnya memaafkannya.
"mas jangan diketawain Marsya". ucap Marsya sembari memukul pelan tubuh Ahmad
"ya ya ya maafin mas, bisa jalan kan sayang". ucapnya terkekeh sambil melirik tubuh Marsya dari atas sampai bawah.
Flashback off
***
Sesaat setelah suara Bel pulang sekolah berbunyi, Marsya bergegas merapikan bukunya dan meraih tas nya, dia terlihat terburu-buru ingin segera pulang.
Fita dan Aisya mereka berjalan beriringan disebelah nya hari ini mereka tidak banyak berceloteh, mereka hanya fokus pada langkahnya masing-masing , Fita merangkul kan tangan nya di lengan Marsya, sebelah tangan nya sibuk memeriksa telepon genggamnya, dia berceloteh geram sendiri tanpa dikepoin oleh kedua sahabatnya, Marsya dan Aisya.
"Marsya". panggil seseorang, ketika mendengarkan ada yang memanggil namanya, serentak mereka bertiga melirik ke arah yang sama
"kak Dino". ucap Marsya masam, berbanding balik dengan wajah Dino yang sumringah menatap wajah Marsya kekasihnya, dia berjalan semangat mendekati marsya, Marsya melirik kedua sahabatnya, yang tidak juga bergerak meninggalkan nya, Marsya mencoba tenang dan bersikap biasa saja, sebenarnya hatinya deg deg ser juga sih. π€ͺπ
"pulang bareng". ucap Dino dengan pesona senyuman yang dia miliki.
Marsya melirik kedua wajah sahabatnya, yang dia yakini kedua sahabatnya tidak mengetahui hubungannya dengan Dino. kedua sahabatnya kompak menggeleng-gelengkan kepalanya, mengkodekan agar Marsya tidak menerima ajakan itu.
Dino mengerutkan dahinya ketika melihat kedua sahabat Marsya.
"kenapa mereka seakan tidak suka padaku". pikirnya dalam hati. namun Dino mencoba ramah tersenyum bersahabat dengan mereka.
"aku duluan ya". ucap Marsya kemudian, dia memainkan mimiknya seolah mengatakan ITS oke aman kok. ππ³ kepada kedua sahabatnya itu.
namun langkahnya tak juga bebas, sebab Fita semakin mengeratkan pelukannya dilengan Marsya.
Marsya menariknya dan melepaskannya paksa. dia tersenyum kecut menatap wajah pias sahabatnya itu π
Marsya terus membonceng di sepeda motor Ahmad, dia sedang menggunakan helm nya, sambil matanya tak lepas memandang tidak enak kepada kedua sahabatnya itu, dia tidak tau akan apa yang terjadi nanti, ketika mereka akan mengadu pada mas Ahmad, saat ini dia hanya ingin cepat sampai rumah, betis nya masih perih bekas cubitan ibunya, semakin terasa perih ketika tergesek dengan rok sekolahnya, dia tak sanggup menahan perih saat lukanya bergesekan dengan rok sekolahnya .
dia berharap cepat sampai rumah, Dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
" loh kenapa gitu sayang, kan biasanya ibumu tidak ada dirumah siang-siang gini, ibu mu masih ditoko kan". jawab Dino sambil mengerutkan dahinya
" mas jangan menyela". ucap Marsya dingin, dia tidak ingin seseorang mengadu kepada ibunya, untuk saat ini dia sangat lelah dan ingin menghindari komplik pelik dengan ibunya.
"eh, kenapa kak Dino". ucap Marsya ketika Dino mengerem dadakan sepeda motornya.
Dino tidak menjawab namun dia melirik mobil yang mengerem dadakan didepannya, dia menatap tajam kearah mobil yang tak beraturan itu. Marsya yang menatap wajah Dino mengikuti arah pandangnya, betapa terkejutnya Marsya ketika melihat mobil Ahmad didepannya.
Ahmad turun dari mobilnya, dia menatap tajam kedua wajah didepannya.
"Marsya kemari". ucapnya kemudian dia memanggil suara Marsya penuh tekanan, aura dingin menjalar di sekitar mereka.
Marsya langsung menurut, dia melepaskan helm nya lalu begitu saja berlari mendekati Ahmad, Dino yang menatap Marsya terlihat syok dan bingung dengan apa yang terjadi, lama sikap itu membuat dia kaku di tempatnya, sampai akhirnya dia melirik Marsya menggenggam erat tangan lelaki didepannya.
"masuk". perintah lelaki itu kepada marsya, sambil melirik dingin kearah Dino.
"mas kita pulang dulu ya". ucap Marsya merayu sambil menarik tubuh Ahmad menjauhkan dirinya dengan Dino. namun tubuh Ahmad tidak bergerak sedikitpun, mereka masih terus saling menatap tajam kearahnya masing-masing.
"mas ayo". ucap Marsya sambil menarik lengan Ahmad, yang berhasil diikuti oleh Ahmad, dia menurut pada gadis nya, sepertinya tidak etis dia melakukan tindakan kekerasan ditempat umum seperti ini, apalagi masih banyak anak-anak sekolah yang berlalu lalang disana.
"hufff". Ahmad menarik nafas nya dalam seperti nya dia meredakan amarahnya, saat melihat lengan dan wajah Marsya yang tidak baik-baik saja sebelum akhirnya dia mengikuti langkah Marsya masuk kedalam mobilnya.
"kak Dino duluan ya". ucapnya pamit pada Dino, Dino hanya mengangguk dengan senyum kecutnya. dia benar-benar tidak memahami kondisi yang diterimanya saat ini, membingungkan untuk Dino cerna.
"apa itu om Marsya, atau Abang sepupunya". pikirnya dalam hati, kemudian ikut pergi dari tempat nya.
***
Didalam mobil..
Ahmad memarkirkan mobilnya didepan sebuah Apotik, dia keluar dari mobilnya begitu saja tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulutnya dengan begitu kasar membanting pintu mobilnya. Marsya bergidik ngeri melihat yang dilakukan oleh Ahmad.
Tak lama dari itu Ahmad sudah Kembali lagi dengan membawa kertas kresek putih ditangannya, dia memasuki kembali mobilnya dibukanya plastik itu, yang ternyata dia telah membeli obat untuk mengobati luka Marsya, dia tidak membicarakan apa-apa tapi tangannya telaten mengoles salap untuk menghilangkan luka lebam dan biru ditubuh Marsya.
"ada lagi yang lain". tanya Ahmad sambil memeriksa tubuh Marsya.
"dibetis mas". ucapnya manja, sambil menunjukkan lukanya,
Ahmad menyikap rok yang digunakan Marsya dengan pelan, dia meringis saat melihat luka lebam yang berada di kaki Marsya, dengan telaten dia menyapukan salap ditangannya dibetis Marsya.
Marsya meringis pelan ketika tangan Ahmad menyentuh lukanya.
"mas pelan-pelan mas, sakit". rengeknya manja
Ahmad terus melakukan pelan-pelan mengoles Salap di tubuh Marsya. dia menatap iba kearah Marsya, kemudian meraih tubuh itu membawanya kedalam pelukannya. (sepertinya dia meredakan ego nya )
dia memejamkan matanya membiarkan wanita nya merasakan pelukannya.
"Marsya ada apa denganmu". tanyanya pelan sambil menggertakkan giginya geram.
Marsya melepaskan pelukannya kasar, dia kaget dengan ucapan Ahmad.
"mas aaa aaa aaaku". ucapnya kelu
"apa hubungan kita ini tidak cukup untuk kamu". tanya Ahmad lagi dengan nada ketus dan geram, sebenarnya dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Marsya.
Marsya hanya menggeleng kan kepalanya, pada dasarnya dia merasa cukup dengan hubungannya dengan Ahmad, Ahmad cukup dari segalanya, tempat paling ternyaman saat ini. tapi sensasi dan tantangan mendapatkan seseorang lebih memuaskan baginya, dia yang merasakan kesepian, haus akan rasa diperhatikan, menjadi pusat perhatian adalah kepuasan tersendiri yang menenangkan jiwa nya ditengah porak poranda hidupnya yang kacau. Diusia nya saat ini, kasih sayang pacar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan jiwanya (mungkin karena dia masih kecil juga ya, ya wajarlah kebiasaan anak seperti Marsya pacar cuma sebatas pelarian saja, seusia dirinya, yang sangat dia butuhkan adalah perhatian orang tuanya, bukan hal lainnya, wajarlah dia tidak begitu puas dihatinya ya kan) πΆπ
Karena jauh dalam hatinya kasih sayang orang tua nya yang sangat dia rindukan, dia terus merasa kurang, karena kurangnya belaian dan perhatian kedua orang tuanya. Marsya menatap datar kearah Ahmad, dia jauh tenggelam dalam pikirannya, yang kalut dan berliku yang baginya tidak ada seorang pun yang memahami posisi nya.
***
hai teman-teman jangan lupa support dan kasih like ya sayang-sayang ππ€ππΌ