
Marsya yang sedang kasmaran sama Dino benar-benar melupakan segalanya, dunia penuh dengan Dino, seakan kepentingan nya sekarang hanyalah Dino semata. Telpon Ahmad benar-benar dia abaikan dia fokus pada maksudnya saat ini keinginannya untuk segera mendapatkan Dino, maka oleh karena itu dia tidak ingin fokus nya terganggu kalau dia meribetkan kondisi saat ini (maksud Marsya adalah kalau dia membiarkan dirinya berkomunikasi dengan 2 orang cowok itu akan merusakkan rencananya, dia tidak ingin memberi celah yang membuat Dino tidak bisa dia dapatkan).
Marsya terlihat sedang sibuk dengan telpon genggamnya, dia diam-diam sibuk memainkan jari tangannya, dari tadi fokusnya Hanya berpusat pada telpon genggam nya, walaupun ditutup-tutupi namun wajah nya tidak bisa dia sembunyikan dari kesenangannya ketika memainkan telpon genggamnya, apalagi yang dibuatnya kalau bukan SMS an dengan Dino. Marsya nampak menyembunyikan telpon genggamnya dibawah meja dia sedikit hati-hati jangan sampai guru les nya menyadari kelakuannya saat ini.
- gak ganggu les nya kamu kan
+ gak kok kak, kakak lagi ngapain ni
- kakak lagi nungguin kamu pulang les
+ kakak lagi di tempat les marsya
- bukan, kakak kan masih dirumah sakit, kalau Marsya sudah pulang les nya kan kita bisa telponan, kakak kangen sama Marsya
+ ayah kakak belum sembuh ya, Marsya juga kangen sama kakak, mudah-mudahan ayah kakak cepat sembuh ya, biar kita bisa ketemu lagi, rindu huhuhuhu ðŸ˜
- makasih ya sya doanya, kalau malam Masya gak bisa keluar ya
+ gak bisa kak ðŸ˜
- yaudah gak apa-apa, nanti kalau ayah kakak sudah sembuh kita jalan-jalan yuk
"MARSYA". suara Miss Fey begitu nyaring terdengar di perdengarannya Marsya, sangking kaget nya dia, benda itu jatuh dari tangannya, dia terlihat gugup ketika Miss Fey mulai mendekatinya, muka Miss Fey kini tepat di hadapannya,
" sini Hp nya Miss simpan dulu". Miss Fey mengulurkan tangan nya memerintahkan Masya menyerahkan telpon genggam miliknya,
Marsya tidak dapat bergutik, dia terlalu takut tidak menuruti miss Fey, sudah disekolah galak wali kelasnya lagi, abis itu jumpa lagi di tempat les, seperti menguji adrenalin dalam rumah setan 😈, Miss Fey sangat terkenal galak, dia sangat tegas dan disiplin, padanya lah Marsya agak sedikit tidak berani melakukan apa-apa. walaupun Miss Fey sedikit galak dan tegas, sejujurnya dia memiliki kehangatan yang baik kepada peserta didiknya, buktinya mereka bisa sangat akrab sama beliau walaupun waktu mengajar Miss Fey sangat mengerikan begitu fokus dan serius. Miss Fey adalah satu-satunya wanita yang Marsya kagumi, kalau Miss Fey lah yang menggali potensi Marsya sampai mengikuti lomba melukis sampai ke kabupaten dan mendapatkan juara, baginya hanya Miss Fey yang memahaminya walaupun sering marah juga.
Marsya langsung nurut menyerahkan telpon genggam nya pada Miss Fey, miss Fey yang meraih telpon genggam Marsya langsung melangkah kakinya kembali ke papan tulis dan kembali menjelaskan pembelajaran nya.
inilah yang dia sukai dari Miss Fey, Miss Fey tidak pernah keterlaluan marah membuat malu peserta didik nya, hanya saja Miss Fey sangat serius bila beliau sudah memegang kendali mengajarnya,
"Marsya ini hp nya". Miss Fey menyerahkan kembali hp Marsya setelah les nya selesai
"makasih Miss Fey". ucap Marsya memanjakan dirinya menggelayut ditangan Miss Fey, Miss Fey hanya menggeleng kan kepalanya sambil membiarkan saja tingkah Marsya yang manja padanya.
"pacaran Mulu yang fokus, belajar juga harus fokus dong sya".
"iya Miss maaf, maaf, tadi keasyikan sampai lupa deh lagi ada Miss Fey di depan".
"besok jangan diulangi lagi ya, hmmm Marsya gimana sudah minta izin belum sama orang tuanya buat ikut lomba lukis di tingkat provinsi". tanya Miss Fey sambil jalan beriringan dengan Marsya meninggalkan ruangan les
"belum Miss". jawab Marsya singkat, nada suaranya tersirat sesuatu, meskipun Miss Fey tidak memalingkan wajah nya menatap Marsya dia mengerti gadis disebelahnya sekarang tidak baik-baik saja
"katakan yang jujur, ini sudah seminggu loh sya, tidak mungkin kamu belum minta izin kan". tanya miss Fey mulai bisa menebak perasaan Marsya
Marsya sangat bahagia aku tidak sabar untuk kembali meminta izin dan bergegas siap-siap. dengan kebahagiaan berbinar-binar dia melangkahkan kakinya dengan riang pulang kerumahnya, dia sudah merencanakan membawa baju apa dan melakukan apa saja nanti sampai di sana.
ya saja Marsya tidak senang, selama ini dia terlalu di batasi langkahnya oleh ibunya, ini adalah kesempatannya untuk lepas dari batasan ibunya, dia begitu menginginkan kebebasan.
Begitu dia sampai dirumah, dia melihat ayahnya sedang tertawa bersama kedua teman-temannya, dia nampak memanjakan anak dari teman-temannya, terlihat dipandangan Marsya ayah nya begitu terlihat bahagia mencandai anak temannya, yang hal itu tidak pernah terjadi padanya
Tidak ada Salam yang dia ucapkan pada ayahnya, dengan perasaan acuh tak acuh yang terjadi diantaranya, seakan ada tembok pembatas diantara ayah dan anak itu yang membuat mereka saling tidak menyapa, ayah yang sibuk dengan bercandaannya kepada anak orang lain dan anak yang terlihat cuek melepas tali sepatunya kasar
Setelah melirik kesana-kemari akhirnya dia mendapati ibunya yang berdiri didekat jendela ruang tamu, jelas terlihat ibu sedang memperhatikan ayah dibalik jendela rumahnya.
ibunya langsung menoleh ketika Marsya memanggil dirinya, wajah itu ya wajah itu terlihat tanpa ekspresi datar begitu saja, Marsya tidak dapat membedakan dibalik wajah ibunya, mau dalam keadaan apapun Marsya selalu melihat ekspresi yang sama diwajah ibunya, dia mengingat kapan dia terakhir melihat wajah itu tersenyum, hmmm seperti nya tidak pernah sama sekali, Marsya tidak pernah melihat wajah itu tersenyum selama hidupnya.
" ada apa" tanya ibu nya datar
"Bu, Marsya terpilih mewakili sekolah buat ikut lomba melukis di tingkat provinsi". jawabnya antusias menceritakan kepada ibunya, ibu nya terlihat memperhatikan nya dia diam tanpa ekspresi
"jadi Miss Fey suruh ibu buat tanda tangan ini sama orang tua, kata nya ini surat izin orang tua Bu". Marsya menyerahkan upload coklat yang diberikan Miss Fey kepada Marsya
" katakan sama Miss Fey ganti orang lain saja". ucap ibu tiba-tiba sambil meraih umplop coklat ditangan Marsya
" loh kok gitu buk, Marsya mau ikut". tanya Marsya
" jauh sya, ibu gak izinin kamu pergi". ucap ibu kemudian
"kenapa gak boleh buk, Marsya mau ikut pokoknya". paksa Marsya,
" tapi kenapa buk, ibu kan tau melukis satu-satunya yang Marsya bisa, Marsya ingin ikut lomba itu buk". Marsya membujuk ibunya air mata nya mulai menetes
" Marsya kalau kamu kesana, gimana dengan ngaji kamu, ibu gak berani minta izin lagi, ibu sudah sangat malu minta izin 2 hari buat les kamu, sudah cukup buat mengejar dunia, jangan banyak libur ngaji lagi". ibu mulai memberi alasan nya
"cuma 2 hari buk, marsya mau ikut lomba pokoknya, Marsya gak mau tau pokoknya Marsya tetap mau ikut". Marsya bersi keras
ibu hanya diam matanya tajam melirik Marsya, lalu mengalihkan pandangannya saat mendengar gelak tawa keras yang dihasilkan oleh ayah marsya dan teman-temannya, wajah ibu semakin dingin lalu dia mengucapkan kata terakhir yang menjadi keputusan nya dengan tegas.
"kalau ibu bilang tidak berarti ya tidak".
Marsya yang kalah telak dengan keputusan ibunya sudah tidak dapat melakukan apa-apa, semua akan percuma ibunya sangat berpegang prinsip kalau dia sudah berkata tidak, itu tidak akan ada perubahan walaupun merayu bagaimanapun. Marsya sangat kecewa dengan keputusan ibunya, dia tidak dapat memahami ibunya kenapa sangat keras kepadanya, apa-apa tidak boleh.
Marsya mendekati ayahnya dia mengadu sambil menangis, namun dia tidak dapat jalan keluar apapun disana, malah hanya mendengar ejekan dari teman-teman ayahnya yang meledeknya dan ibunya yang selalu berantem. Marsya melihat ayahnya dia semakin marah dan kecewa olehnya, Marsya pun meranjak pergi memang satu-satunya kebahagiaan nya adalah menenggelamkan dirinya dalam game,. tidak ada seorang pun yang dapat dia andalkan.pikirnya
(sebenarnya Marsya tidak pernah menceritakan kesedihannya pada siapapun, dia mampu menyembunyikan semua itu, dibalik topeng wajah tersenyumnya yang manis, diluar sana dia terlihat sempurna dibalik wajah cantiknya dan sikap cerianya, adapun semua topeng itu hilang ketika dia kembali kerumah).