
"hari ini kamu bolos les lagi, gak apa-apa". tanya Dino langsung saat mereka hendak berboncengan.
"jangan ditanyain kenapa". jawab Marsya sambil menaikkan sepeda motor Dino
"yaudah terus kakak tanyain nya gimana". tanya Dino sambil membalikkan tubuhnya menatap wajah Marsya, wajahnya tersenyum menatap wajah Marsya tanpa ada sikap canggung sedikitpun, Marsya nampak berfikir dengan pertanyaan Dino, yah sebab Dino sangat tau bagaimana ketatnya orang tua Marsya terhadap pendidikan marsya dan kehidupan Marsya.
Marsya tidak pernah membicarakan nya selama ini, tapi Dino sering mendengar dari tetangga Marsya gimana kehidupan keluarga Marsya, pribadi marsya dirumah dan diluar sangat berbeda. Tetangga nya banyak membicarakan keburukan Marsya dengan keluarganya dan banyak hal lainnya. kehidupan keras yang dilewati gadis nya tak membuat perasaannya memudar untuk Marsya.
dimatanya Marsya cukup spesial dengan apa yang dia ketahui.
"kalau gak sekarang kita gak akan ada waktu lagi buat kencan". jawab Marsya kemudian dengan wajah lugunya menatap bola mata Dino.
Jantung Dino berdegup kencang ketika kata kencan keluar dari mulut Marsya, wajah Dino memerah seketika, ketika mata mereka bertemu mereka tersipu malu dalam senyuman mereka.
"benar, hari ini kencan pertama kita". ucapnya kemudian membuang rasa canggung diantara keduanya
"ayo". sambung Dino kemudian sambil membalikkan badannya dan mulai mengendarai sepeda motornya.
setelah menempuh perjalanan 10 menit akhirnya mereka memutuskan pantai menjadi pilihan tempat kencan pertama mereka.
mereka telah masuk kesebuah cafe yang berada di dekat pantai, setelah menaruh tas dan melepas sepatu mereka dan setelah memilih ikan untuk makan siang mereka, mereka memilih menunggu dengan berjalan-jalan dipinggir pantai.
"Marsya duluan aja, nanti kakak nyusul ya". Dino mengarahkan Marsya untuk tidak menunggu nya
"loh kakak mau kemana". tanya Marsya sambil merencanakan menunggu Dino
"kakak ke kamar mandi dulu". Dino beralasan dengan memegang perut nya mengisyaratkan sakit perut, Marsya tersenyum tanda mengerti lalu dia terus berjalan dalam senyumnya meninggalnya Dino ditempatnya.
Sementara Dino yang menatap tubuh Marsya mulai menjauh, dia langsung berlari kearah sepeda motornya, membuka bagasi motornya di sana sudah ada Kado yang dia siapkan buat Marsya.
Kring.. kring.. 📞
kalian dimana ". tanya Dino kepada temannya
oke aku tunggu diparkiran". sambungnya lagi lalu mematikan tanda panggilan nya.
5 Menit kemudian
"sok romantis loh". ucap Panji sambil menyerahkan kue ulangtahun dan juga karangan bunga mawar.
"makasih ya". ucap Dino cengengesan sambil mengambil barangnya.
"Siska makasih juga ya, maaf merepotkan kalian". sambungnya juga kepada Siska pacar Panji
"sama-sama kak, semoga sukses ya kak". balas Siska ramah sambil mengangkat dua jempolnya
"kalian mau kemana nih, gabung yuk". ajak Dino
"kemana lagi udah jauh-jauh kesini, kami pacaran juga lah disini, Lo kira Lo aja yang bisa kencan disini". Nada Panji ketus tapi Dino tau hati temannya tidaklah sesuai dengan apa yang ditampilkan, buktinya dia mau membantu dirinya dengan membawakan kue dan bunga buat kejutan buat Marsya.
Sementara itu ...
Marsya terus berjalan di pesisir pantai, dia memutuskan duduk dipinggiran pantai, kakinya dibiarkan terkena air pecahan ombak, dia menatap lurus ke pehujung laut yang dapat ditatapnya. tempat paling menenangkan bagi Marsya adalah laut, dia begitu mencintai laut, Dino benar-benar tidak salah memilih tempat kencan pertama mereka.
pandangan laut biru dengan sentuhan langit yang cerah, dan suara ombak dan cicitan burung yang menenangkan serta terpaan angin sepoi-sepoi yang menyentuh wajahnya membuatnya larut dalam kenikmatan.
"Disini aku tidak perlu memikirkan apapun, tentang ketidakadilan dunia dan ketidak kepuasan nya, ah semua masalah hidupku seakan tenggelam di sapu ombak, disini begitu menenangkan". dia memikirkan nya dalam hati sambil menatap lurus kedepan
"maaf lama". suara Dino menganggetkan Marsya yang sedang larut dalam lamunannya. Dino sudah duduk disisi Marsya. wajah Marsya yang kaget langsung tersenyum begitu dia melihat wajah Dino
"kamu suka laut ya". tanya Dino lagi, matanya menatap lekat wajah Marsya, Marsya hanya mengangguk tanpa berniat menjawab pertanyaan Dino, Dino memahami itu begitu gadis didepannya menikmati sekali berada disini, matanya nampak tak lepas dari apa yang membuat nya berfikir panjang, tentang apa yang difikirkan Marsya, pikiran gadis ini sungguh sulit untuk dia terka, Dino membiarkan Marsya menikmati suasana saat ini, dia pun mengikuti arah pandang Marsya menatap laut yang begitu indah dan menenangkan.
marsya benar-benar larut dalam lamunannya, air matanya menetes tanpa dia sadari, dia tidak mengeluh dan tidak terlihat lemah selama ini, melihat wajahnya Marsya seperti melihat wajah orang beruntung karena senyuman yang tak lepas dibalik wajahnya, akan tetapi saat ini apa yang dilihat Dino tidak lah sama, mata gadis itu terlihat seperti seorang yang sangat kesepian, tanpa sadar Dino menyentuh pipi Marsya dia menghapus air mata yang menetes itu, Marsya yang kaget spontan memegang tangan Dino, menjegahkan untuk melakukan itu.
"maafkan karena tidak berkedip air mata Marsya jadi jatuh". ucapnya menjelaskan dengan wajah tersenyum nya.
"iya, kakak cuma bantu meyekanya saja, maaf ya kakak tidak sopan".jawabnya Dino lembut sambil membelai lembut tangan Marsya.
ingin rasanya dia memeluk gadis itu memaksanya menceritakan apa yang dia rasakan padanya, tapi dia tau marsya sedang menutup rapat dirinya dalam ruang yang tak terbatas, dia membiarkan dirinya tersesat sendirian didalamnya.
"balik yuk, ikan kita mungkin sudah siap disajikan". ajak Dino sambil bangun dari duduknya dia meraih tangan Marsya membantu nya untuk bangun dengan lembut.
***
"Kakak". teriak Marsya terharu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, wajahnya tersenyum dengan ekspresi yang lucu.
"ini apa". tanya nya lagi sambil menunjuk kearah tempat duduk mereka, disana sudah disajikan menu ikan bakar dan juga minuman dan kado berserta kue ulang tahun lengkap dengan lilin menyala diatas nya, tersusun rapi memberikan kesan romantis dimana tempat duduk yang mereka pilih memberikan pemandangan yang terkesan apik dengan latar laut lepas.
"selamat ulang tahun cintaku". ucap Dino sambil menyerahkan bunga yang berada ditangannya, membuat Marsya semakin terlihat menganga mulutnya karena keterkejutan nya, sejak kapan bunga itu sudah berada ditangannya.
"kakak". Marsya memanggil Dino dengan nada halus dan manja, dia tidak dapat mengapresiasi perasaan nya saat ini.
"terimakasih kak". sambungnya lagi sambil mengambil karangan bunga di tangan Dino
Dino hanya tersenyum lembut dia meraih tangan Marsya menuntunnya mendekat ke meja mereka, lalu dia mengambil kue ulangtahun itu dan memegang nya dengan kedua tangannya lalu mengarahkan nya kehadapan Marsya.
lalu tiga suara serentak menyanyikan lagu ulang tahun untuknya sambil menepuk-nepuk tangan mereka, membuat Marsya kembali kaget dan juga terharu.
Lalu dia meniup lilin itu, dengan wajah tersenyum nya, dia begitu terharu dengan semua yang Dino lakukan, air matanya kembali menetes, dia belum pernah merasakan semua hal ini sebelumnya, keluarganya tidak hanya kaku, tapi benar-benar melupakan hari ulang tahunnya, mengingat semua itu air matanya semakin deras menetes, Dino langsung memeluk tubuh Marsya mendekapnya lembut.
"jangan menangis". ucap Dino sambil membelai lembut rambut Marsya dalam pelukannya yang menangis sesenggukan, Marsya mengangguk sambil mengobrol dirinya.
"apa kamu bahagia". sambung Dino lagi ketika dia merasa Marsya sudah bisa tenang, Marsya mengangguk mengiyakan dengan wajah tersenyum sambil menatap wajah Dino. Dino pun membalas senyuman itu dengan gemas sambil mencubit pipi Marsya
"hmmm hmmm". suara deheman Panji dan Siska membuat mereka menghentikan adegan Romantis mereka dan mengalihkan pandangannya menatap Siska dan Panji bersamaan dengan wajah tersenyum
"lupa deh ada orang lain juga yang hidup disini". ucap Panji ketus lalu tersenyum
"hehehe, sayang kenalin ini Panji sahabat kakak, dan ini Siska pacarnya , Siska Panji kenalin ini Marsya pacarku hehe". Dino saling mengenalkan mereka, dan mereka saling menjabat tangan.
siang itu mereka berempat menikmati makan siang mereka dengan suasana pantai sambil bercanda dan tertawa bersama. sampai sore hari dimana mereka harus terpisah dan pulang kerumah masing-masing.
Marsya tidak dapat melupakan hari ini dimana bertubi-tubi kebahagiaan datang padanya, dia menikmati sensasi ini dia tersenyum dalam tidurnya.
"rupanya begini rasa bahagia". gumamnya sambil membawa dirinya ke alam mimpi.