Fucek Girl

Fucek Girl
Karena kamu tanggung jawabku



***


marsya berjalan gontai, sapaan teman-temannya yang menyapanya tidak dapat dia hiraukan, Marsya tidak seperti biasanya, yang selalu terlihat ceria dan semangat, hari ini dia benar-benar terlihat tidak baik-baik saja, wajahnya pucat dan matanya terlihat sangat bengkak.


"Marsya are you oke". tanya Fita saat melihat temannya mendudukkan diri di atas kursi.


"hmmmm". Marsya cuma mendehem pelan sambil melirik sekilas ke arah Fita.


"muka kamu pucat banget, udah makan belum sya". tanya Fita semakin khawatir.


Marsya cuma mengangguk malas, setelah itu dia merebahkan kepalanya keatas meja, dia memejamkan sebentar matanya, yang masih terasa panas.


....... 📞


Fita diam-diam meraih handphone nya dan menelpon mas Ahmad.


"iya Halo Fita, ada apa". ucap Ahmad saat panggilan mereka tersambung


"mas ini soal Marsya". ucapnya kemudian


"kenapa dengan Marsha". tanya Ahmad mulai kepo


"hmmm mas sepertinya Marsya lagi ada masalah deh, tadi sebelum dia masuk, anak-anak banyak yang gosipin dia katanya.. hmmmm". Fita menjadi bingung dan ragu saat akan menceritakan apa yang dia dengar tadi pagi tentang Marsya dan kak Dino yang berpelukan di depan gerbang sekolah.


"Fita". panggil Ahmad semakin tidak dapat mengendalikan kekepoan nya ketika Fita tidak juga melanjutkan lagi ceritanya.


"mmmm iya mas ahmad, sory sory, fi fi Fita dengar Marsya tadi pelukan sama kak Dino didepan gerbang, terus terusss". ucapnya Kembali semakin ragu meneruskan nya.


"terus apa Fita". tanya Ahmad yang sudah terbakar rasa cemburu


"sepertinya mereka ada masalah deh mas". ucapnya lagi


"iya masalah apa, coba kamu ceritakan yang benar Fita". tanya Ahmad semakin tidak sabar


"iya gitu cerita mas, sebab tadi Masya nangis-nangis waktu dipeluk kak Dino, semua anak-anak lihat kok mas". ucap Fita mengakhiri ceritanya


"terus sekarang keadaan Marsya gimana ?". tanya nya memastikan keadaan Marsya


"muka nya pucat mas, matanya bengkak, untuk menjawab pertanyaan Fita aja dia tadi tidak sanggup, dia cuma tidur di meja mas". Fita terus menjelaskan kondisi Marsya pada Ahmad.


(wah kenapa Ahmad tidak menanyakan siapa Dino, apa selama ini dia tau ya )


"brengsek". ucap Ahmad bengis sambil memukul stil mobilnya,


"untung hari ini aku sudah selesai, anak itu sudah tidak tau diri, berani-beraninya dia menyentuh pacarku". ucap Dino semakin emosi


Dia cukup sabar selama ini mencoba untuk tidak merumitkan masalah karena jarak yang menjauhkan mereka, Ahmad terpaksa mendiamkan tingkah Marsya sebab dia tau kalau dia mengedepan kan emosi dan keegoisan didepan maka dia akan kalah.


Dia cukup bersabar dan membiarkan Marsya jalan dengan Dino, dia sudah cukup memasang banyak mata-mata untuk melihat gerak-gerik kekasihnya dibelakangnya, bukan tidak tau dia akan sikap labil Marsya, dan sikap playgirl Marsya sebelum dengannya. Dia sangat tau Marsya masih terlalu muda untuk hubungan yang serius walaupun dia tidak terlalu memaksa sikap Marsya, tapi Ahmad sudah sangat memperjelas hubungan mereka.


Dia tidak mungkin meninggalkan gadis itu, yang sekarang sudah menjadi wanitanya, Ahmad sudah merenggut mahkota gadis polos itu, Ahmad sengaja melakukannya agar wanitanya tidak berpaling darinya. Ahmad tau dia terlalu egois dan terobsesi dengan gadis itu, tapi dia akan bertanggungjawab atas semua yang telah dilakukannya, Ahmad berjanji akan terus mempertahankan hubungan mereka sampai akhir, walaupun kadang Marsya membuat dia kerap kali ingin menyerah karena sikap gadis itu yang selalu melakukan sesuatu dengan seenaknya sendiri.


"aku tau kamu tidak akan keman-mana, tapi aku lebih takut ketika orang tau kondisi kamu, maka mereka akan memanfaatkan kamu, cukup aku Marsya cukup dengan aku sayang". gumamnya dalam hati


Ahmad sangat berharap Marsya dapat menghargai dirinya, tapi dia sangat paham kerapuhan hati Marsya yang sangat haus kasih sayang, dirumahnya dia tidak mendapatkan itu. Ahmad menggidik ngeri saat dia membayangkan wajah ibu Marsya, yang memergoki mereka yang sedang hendak berciuman. saat itu Marsya terus mendapatkan pukulan oleh ibu nya, tak hanya Marsya dirinya kena bogem mentah bertubi-tubi oleh ayahnya.


saat itu Ahmad hanya bisa diam, dia tau salahnya disana,sebenarnya dia sudah bersedia bertanggungjawab namun ketika hendak melakukan itu orang tua Marsya semakin murka,


" tanggung jawab apa, anak aku masih kelas 3 SMP, lebih baik kau tinggalkan dia, jangan kau buat anak ku tersesat". murka ayahnya yang Kembali memberi bogem kewajahnya.


"kamu pulang sana". usir orang tua nya kemudian lalu membanting keras handphone Marsya dan mematahkan kartu nya


"jangan sampai aku lihat kalian bersama lagi". murka nya kembali


setelah itu hubungan mereka menjadi bestreak, Ahmad diam-diam menitipkan Handphone baru untuk Marsya melalui Fita, untuk bertemu pun sekarang sangat sulit untuk mereka, tapi baik Marsya baik Ahmad mereka tetap bertahan dan tidak ingin berpisah.


"aku sabar menunggu kamu sampai selesai sekolahmu sayang, tapi kali ini aku harus sedikit bertindak, Dino adalah ancaman besar untuknya, dia tidak ingin membiarkan hati kekasihnya dicuri oleh lelaki lain selain dirinya".


***


flashback off


"mas Ahmad kita kemana". tanya Marsya disebelahnya, ketika mobilnya Ahmad tidak melaju kearah tempat les nya.


"kita kerumahnya mas sebentar ya, kita ambil berkas yang tadi diminta oleh kawan mas". jelas Ahmad lembut sambil melirik Marsya


15 Menit kemudian....


(Fakhrul calling )


wajah Marsya memucat, dia melirik Ahmad panik, sambil mencoba menekan tombol untuk mematikan panggilannya.


sialnya hari itu, yang tertekan malah tombol menjawab panggilannya


"hallo sayang, kakak didepan tempat les kamu nih, kakak tunggu dibawah ya".


"alah Mak Jang". maki Marsya dalam hati


muka Ahmad jangan ditanya dia sudah sangat masam, melotot tajam kearah Marsya yang disebelahnya.


"mas maafin Masya". ucap Marsya mulai ketakutan.


"Diam". ucap Ahmad jengkel dia menghempaskan tangan Marsya yang mencoba meraih pergelangan tangannya.


"massssss maaaf". Marsya terus mengiba wajah nya saat ini sedikit pucat.


"Marsya sampai kapan sih kamu gini terus, apa mas belum cukup buat kamu, apa cinta mas kurang buat kamu". ucap Ahmad sambil menggertakkan giginya


"tidak mas, cuma cuma Marsya sering kesepian, Marsya Marsya cuma iseng-iseng doang sama mereka, mas maafin Marsya". ucap Marsya yang sudah terbuka itu dengan Ahmad.


"Marsya mas tau, kita baru berpacaran 6 bulan, banyak hal yang tidak dapat mas penuhin kemauan kamu, tapi coba lah belajar menghargai mas". ucap Ahmad setelah itu dia keluar dari mobilnya menutup pintu itu kasar dan terus berlalu kedalam rumahnya.


Marsya yang masih merasa bersalah terus mengikuti langkah Ahmad masuk kedalam rumah.


"mas mas mas jangan marah dong, mereka kan tidak memiliki aku sepenuhnya, mereka cuma hanya bertemu seperti itu dan terus telponan doang sama Marsya gak lebih". ucap Marsya dengan wajah dungunya.


"memiliki kamu sepenuhnya". tanya Ahmad mengerutkan dahinya


"maksud kamu gimana tidak memiliki kamu sepenuhnya". tanya Ahmad yang memperdekatkan jarak mereka


Marsya yang dihadapi keadaan itu, terus memundurkan langkahnya sehingga tubuhnya terhimpit dinding. dia menatap pias wajah Ahmad yang tak berjarak dengannya


"ya maksudnya mereka tidak pernah sedekat seperti ini sama Marsya". ucapnya kikuk menahan rasa malu dan grogi


"kita juga tidak pernah sedekat seperti sekarang ini sebelumnya". tanya Ahmad pada Marsya, tangan nya bergerak menyelipkan anak rambut yang menutupi mata Marsha.


"kemarin mas udah cium Marsya, orang tidak pernah". ucapnya pelan-pelan sambil terus menundukkan matanya.


Cup


Marsya membelalakkan matanya ketika Ahmad mengecup bibirnya,


"mas". dia menolak tubuh Ahmad


"kenapa, katanya mau memiliki kamu seutuhnya". ucap Ahmad dengan seringai nakal nya.


"kapan, tidak ya, Marsya tidak ngomong gitu, Marsya cum cum" ucap nya terputus karena Ahmad kembali mengecup nya


Cup cup


"massss". ucap Marsya sambil terus mendorong dada bidang Ahmad


Ahmad tersenyum gemas melirik gadisnya, dia mengangkat dagu Marsya dengan perlahan mendekatkan kembali wajahnya, bibirnya tersenyum kecil saat melihat gadisnya menutup kedua matanya.


cup


segera mereka menautkan kedua bibir mereka, kali ini Ahmad tidak hanya mengecup bibir Marsya, dia melu**t nya dan mengh**pnya mereka terus larut dalam permainan yang mereka ciptakan, Ahmad semakin menuntun Marsya memperdalam kan ciuman mereka, dia melepas pangutan mereka saat melihat wajah kekasihnya sudah memerah,


"bernapas sayang". bisik nya pelan


kemudian kembali mengecup bibir Marsya, mengangkat tubuh mungil itu seperti Kuala, dia membawa Marsya ke kamar tidurnya, ditatap nya nafsu tubuh yang terbaring di atas kasurnya, dengan segera dia menindih tubuh mungil itu yang sekarang terlihat pasrah dan menerima sensasi permainan yang dia berikan.


cup cup cup


Ahmad sudah bermain diarea leher dan dada Marsya yang terlihat, dia sudah memainkan p****a diluar pakaian gadis itu, wajah Marsya semakin memerah menahan sensasi yang baru dia nikmatin


ah


"mulai sekarang aku tidak mungkin melepaskan mu, karena kamu tanggung jawabku". bisik Ahmad pelan ditelinga Marsya


*****


huffff author menjadi takut sendiri ðŸĪŠðŸĪŦ