
" ternyata beneran elo". ucap Sofi judes sambil menatap jijik kearah Marsya
Iya benar itu adalah kak Sofi dia juga berada di sana, karena rasa penasarannya melihat lelaki yang selama ini menjadi idamannya bersama dengan seorang wanita membuat dia mendekat dan memastikan siapa perempuan yang bersama Ahmad.
"itu beneran mas Ahmad kan, sama ceweknya ya". Gumam Sofi saat melihat Ahmad
Namun alangkah kagetnya Sofi bila melihat perempuan yang sedang bersama dengan mas Ahmad. Dengan perasaan jijik dan juga marah dia mendekati kedua sejoli itu,
"menjijikkan sekali". Bisik nya dalam hati sambil terus memandangi kedua pasangan itu.
Hati nya tidak terima, dimana-mana selalu Marsya dan Marsya yang menjadi hambatan cinta mereka, maksudnya dirinya dan juga teman-temannya.
"Marsya". Panggilnya keras dengan suara penuh permusuhan. Marsya yang cukup hafal dengan suara Sofi tidak langsung berbalik dia juga kesal dengan keberadaan Sofi, sedangkan Ahmad yang tau perasaan Sofi padanya hanya menjaga sikap dengan ekspresi dinginnya.
Sofi memberi senyuman terbaiknya kala melihat Ahmad, Ahmad hanya mengangguk kemudian tersenyum ramah pada Sofi.
"kamu". pekik Marsya kesal saat melihat tingkah genit Sofi ke Ahmad, dia tidak terima pada tingkah laku Sofi.
"kapan mas Ahmad pulang, lama kali ini pulang kesini". Tanya Sofi manis tanpa menghiraukan amarah Marsya
"tidak besok balik lagi". Jawab Ahmad dingin
"ngapain Lo tanya-tanya ". Sambung Marsya dengan suara tak bersahabat nya, dia mendelik tajam kearah Ahmad karena memberi info tidak penting kepada Sofi, Ahmad yang mengerti wanita nya marah, langsung saja mengalihkan diri dengan menyibukkan diri membantu mengambil belanjaan ditangan Marsya dan dimasukkannya ke dalam troly
Sofi yang melihat itu tersulut kan emosinya ketika Ahmad terlihat menghindari nya.
"apa-apaan Lo, ini bukan urusan Lo ya". pekik Sofi kesal ke marsya
" mas, ngapain sih jalan sama dia, kek gak ada perempuan lain aja". ucap Sofi dengan nada meremehkan
Ahmad tidak menjawab, dia tidak ingin memperkeruh keadaan dia mencoba menghindari dengan mencoba membawa pergi Marsya menjauh dari Sofi
"apa-apaan maksud Lo, memang nya kenapa dengan gue". Ucap Marsya menantang yang menahan gerak tangan Ahmad yang ingin membawanya menjauh.
"gak sadar loh, dasar *****". Ucap Sofi meremehkan
"siapa yang lu sebut *****". Ucap Marsya tersulut emosi
"sayang sudah". Ucap Ahmad pelan dan memegangi tangan Marsya lembut menghentikan tindakan Marsya yang mulai tidak terkontrol
"Lo lah siapa lagi, jadi ini yang Lo bilang om om simpanan Lo, bagus ya Lo cari laki". Ucap Sofi kembali meremehkan
"dengar ya mas Ahmad, aku gak tau seserius apa perasaan mas ke dia, atau semurahan apa hubungannya kalian berdua, sekedar informasi yang perlu mas ketahui, dia itu cuma anggap mas simpanan dan tak lebih om om yang bisa dia perotin, mas harus sadar dia cuma manfaatin mas aja, dia ini bukan cewek baik-baik yang bisa mas Ahmad seriusin, kemarin aja dia rebutin pacar teman aku, memang gak baik banget tabiat ini cewek, murahan banget sih loh". Ucap Sofi panjang lebar dia terus menusuk dan menyentil hati Marsya sampai keulung-ulung nya.
Marsya terlihat terdiam saja, merasa tidak ada perlawanan dari Marsya, Sofi semakin kencang memprovokasi Ahmad
"asal mas tau saja, dia itu sok playgirl, kemarin dengan gamblang dia bilang ke Sofi untuk mencari om om seperti nya, kurang ajar gak tuh mas, dia samain sikap murahan nya dengan kami, gak selevel". Ucap Sofi dengan nada mengejeknya.
Marsya masih diam saja, dia hendak menangis, adakalanya dia membenarkan ucapan Sofi, hatinya selemah itu sekarang, menatap kesedihan Marsya, Ahmad mencoba merangkulnya
"dengar Sofi, terimakasih sudah mau mengingatkan mas, tapi tentang Marsya mas lebih tau dari kamu, jadi jangan menilai seenaknya tentangnya itu untuk kebaikanmu". Ucap Ahmad dingin sambil membawa Marsya ke pelukannya
"mas gila ya ngomong seperti itu, masih juga belain dia, padahal mas cuma dianggapnya simpanan, mas tau gak dia punya pacar namanya Dino". Ucap Sofi kembali dengan nada kesalnya
"Marsya jujur lo". Tuntut Sofi menunjuk pada Marsya.
" itu bukan urusan loh". Ucap Marsya akhirnya
"maaf Sofi sebaiknya kami pergi dulu". Ucap Ahmad sambil meninggalkan Sofi
Sofi terlihat begitu kaget melihat Ahmad yang sedikitpun tidak bergeming dengan semua informasi yang dia berikan
"gila, pelet apa yang dipakai Marsya, sehingga lelaki seperti mas Ahmad aja jatuh ditangan nya, sampah". Gumam Sofi kesal sambil memaki-maki Marsya .
***
Masih Di Mall
Marsya terlihat diam dia sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya sedikitpun, iya saat ini mereka sudah berada di dalam restoran , Dimana Marsya ingin memakan sushi, sedari tadi dia selalu mengatakan keinginan nya untuk memakan sushi tapi sekarang jangankan memakan nya meliriknya saja dia tidak berselera.
"kok makanan nya tidak dimakan". Tegur Ahmad kemudian menyadarkan Marsya dari lamunannya.
"mas". panggil Marsya kemudian
"hmmm". Jawab Ahmad sambil menyeruput mie nya π
"mas juga tidak menganggap aku murahan kan". Tanya Marsya dengan menatap tajam wajah Ahmad, sampai membuat Ahmad tersendat karena kagetnya.
"sayang kok kamu tanyanya gitu sih, gak bakalan lah sayang". Jawab Ahmad sambil meraih minuman nya πΉlalu kemudian meminumnya
" sayang, kamu lebih tau keadaan diri kamu dari orang lain, jangan mudah terpengaruh oleh orang lain". Ucap Ahmad memberi nasehat kepada Marsya
"karena itu lah mas, Marsya bertanya, mas juga kan tau keadaan Marsya". Ucap Masya sambil menatap sendu Ahmad
"keadaan yang mana, sayang jangan menilai rendah diri sendiri begini, dengarkan mas, Marsya tidak murahan sedikitpun, mas sangat mencintai Marsya, mas disini dan tidak akan meninggalkan Marsya, makanya itu kamu sendiri jangan nakal-nakal". ucap Ahmad kemudian membelai lembut rambut Marsya
"iya iya". Jawab Marsya masam, karena Ahmad menyindir dirinya yang suka selingkuh.
"kalau kamu macam-macam lagi, berarti kamu sendiri ya yang memilih mengusir mas dari kehidupan kamu". Ucap Ahmad kemudian
"berarti selama ini mas bertahan karena rasa bersalah mas aja". Tanya Marsya tajam
"ihs sayang omongan kamu, pikirkan deh sebelum bicara, enak aja tuduh mas gitu, mas bertahan karena benar benar karena mencintaimu, tapi manusia mana yang mau kalau pasangan nya terus terusan nyakitin dia". Ucap Ahmad dengan nada kesalnya
"oke Marsya lihat, jangan sentuh sentuh Marsya lagi nanti, awas aja kalau minta mimik". ujar Marsya sambil menyeruput minumannya
"yah sayang itu asupan energi mas, gitu kali". Rengek Ahmad sambil bergelayut manja di dada Marsya
"is gak malu awas, gara -gara ukuran nya jadi Segede ini sekarang". Ucap Marsya sewot
"eh iya ya, mas tadi gak perasan, kalau diperhatikan benar yang". Ucap Ahmad sambil memperhatikan nya
"kamu lama banget lulus sekolah nya, pingin cepat-cepat halalin rasanya". Gumam Ahmad sambil tersenyum riang
"mas kok bisa kenal kak Sofi". Selidik Marsya ingin tau,
"dia kan tetangga mas, lagipula mas candra kawan mas itu Abang nya Sofi loh". Jawab Ahmad memberi informasi dengan masih juga memperhatikan PD marsya
"ooooo". Jawab Marsya manggut-manggut
"kamu kok bisa kenal Sofi, bukannya dia sudah SMA ya". Tanya Ahmad balik
" dia kawan si Rita mas". jawab Marsya sambil memakan sushi nya
"Siapa". Tanya Ahmad yang benar tidak tau siapa Rita
"Rita itu mantan kak Dino, si Rita itu sahabat nya kak Sofi, begitulah mas awal kak Sofi benci Marsya ". Jawab Marsya dengan polosnya
" Dino yang kemarin". Tanya Ahmad dengan nada dingin
" hehehe iya". Jawab Marsya cengengesan dia mulai peka terhadap perubahan mimik wajah Ahmad
" udah udah udah gak usah cemburu ih mas". Sambung Marsya masih melihat wajah cemburu Ahmad
"kamu jangan macam-macam loh yank, ku kulitin sampai habis nanti". Kesal Ahmad sambil menarik nafas kesal
Marsya hanya terkekeh melihat wajah cemburu Ahmad sambil dengan lahap nya memakan sushi nya.
" sekarang makin benci lah tuh orang sama aku mas". Ucap Marsya sambil menyeruput minumannya πΉ
"kok bisa". Jawab Ahmad pura-pura bodoh
"gausah pura-pura deh mas, Marsya rasa mas tau kenapa ". Ucap Marsya dengan nada kesalnya
"sensitif banget kok sekarang yank". Tanya Ahmad sambil memeluk gemes leher Marsya
"ihs lepasin gak". ucap Marsya kesal
"sejak kapan kamu menjadi pencemburu befini". Tanya Ahmad dengan nada bahagia nya
" sejak dulu kali" . Jawab Marsya kemudian menyusupkan kepala nya kedalam ketiak Ahmad
"ish sayang jangan disini dong". Tolak Ahmad yang merasa malu
"Diam". pekik Marsya kesal
Yang langsung dituruti oleh Ahmad, Ahmad hanya dapat mengikuti kemauan Marsya dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena rasa malunya dilihatin orang banyak.
Ahmad hanya tersenyum masam ketika bertemu pandang dengan orang-orang disekelilingnya
" gak apa-apa mas, kami maklum, itu masih mending, waktu istri saya hamil dulu lebih parah mas". ucap bapak-bapak disebelah meja mereka seolah -olah memaklumi kondisi Ahmad
Ahmad semakin tersenyum kecut π
"hamil". Gumam Ahmad pelan yang masih terdengar oleh Marsya, Marsya tersenyum kemenangan di bawah sana sambil menyesap tenang aroma terapi nya.