Fucek Girl

Fucek Girl
RS



Marsya terlihat sibuk dengan urusan packing - packing nya, dia melihat ada beberapa koper yang sudah memenuhi kebutuhan nya selama tinggal di tempat kakeknya nanti.


Ibu telah menandakan setiap koper-koper miliknya.


Baju-Baju, perlengkapan sekolah (Tas, buku, dll), Celana & rok, perlengkapan mandi, Make up, dan Pakaian dalam.


Marsya mendesis kesal melihat koper terakhir,


"ih si ibu buat malu aja". gumamnya saat melihat koper yang ibu tandai dengan nama pakaian dalam.



Setelah merasa sudah cukup membereskan nya , Marsya merebahkan dirinya di tempat tidur, dia merasa lelah dan juga penat sendiri padahal hampir 80% ibu nya yang mengerjakan nya. Marsya tiba-tiba menelungkup kan dirinya, sebelah tangannya meraba-raba ke bawah kasurnya, dia meraih kardus dibawahnya, tempat dimana dia menyembunyikan cemilan - cemilannya, terlihat sangat jelas sih, dia menyembunyikan bukan berhasil menyembunyikan tapi hanya ibu saja yang membiarkan nya, toh dia hanya tidak ingin membuat Marsya santai di waktu ujiannya, tidak memberi banyak beban takut stres pula nanti nya .


Sambil memakan cemilannya Marsya meraih baju Ahmad di bawah bantalnya, dia memasukkan baju Ahmad didalam bantalnya, itu beneran ibu tidak menyadari nya, karena ibu tidak pernah menyentuh spray Marsya dia hanya memeriksa tempat-tempat yang mencurigakan saja baginya, bawah kasur bawah bantal di sudut-sudut kamar Marsya, dan tidak menaruh curiga di dalam bantal. 😄😄🙏


"Marsya Marsya" panggil ibu panik


Ketika mendengar suara kepanikan ibu, Marsya pun bangkit dan terus berlari mendekati arah suara ibu, .


"Ada apa ibu". Tanya Marsya ketika dia berhasil menemukan ibunya yang berada di kamar si kembar, adik kembarnya.


Marsya juga ikutan panik, melihat kondisi sikembar yang nampak berkeringat banyak, dengan wajah pucat, mereka tidak sadarkan diri, tapi tubuh mereka nampak gemetar.


"kenapa dengan si kembar". Tanya Marsya panik sambil mendekat melihat panik kondisi kedua adik- adiknya.


"telpon ayah cepat". Tutur ibu sambil menyerahkan telepon seluler nya


Dengan cepat Marsya menekan nomor telepon ayahnya. Dia juga ikutan panik melihat kondisi sikembar, kedua adiknya ini ternyata serius sakit nya, Marsya masih mengira mereka demam biasa.


Ibu terus memeluk keduanya, dia sangat gusar dan terlihat sangat panik.


Kring kring kring 📞


📞"Ayah Dimana". Tanya Marsya begitu teleponnya tersambung


📞"ayah diluar, sebentar ayah akan segera masuk". tutur ayah Marsya, sepertinya ibu sudah duluan menghubungi ayah, terlihat dengan jawaban ayah yang sama paniknya


Tak berapa lama terdengar suara langkah kakinya yang nampak berlari tergesa-gesa.


"Delia". Panggil ayah


lalu tanpa mengucapkan apapun lagi, ayah segera menggendong salah satunya dari pelukan ibu, dan ibu memeluk satunya lagi dengan di bantu oleh Marsya .


"cepat tutup pagar dan kunci pintu rumah". Ucap ibu dengan Nada paniknya, sedangkan ayah memposisikan kembar agar dapat dipeluk oleh Marsya dan ibu. Ketika Marsya sudah naik kedalam mobil, ayah terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.🚘


"mas hati-hati lah". Tegur ibu


"iya sayang". Ucap ayah menarik pegas nya kemudian dia mengontrol laju kendaraan nya, tetap dalam kecepatan tapi lebih terlihat terkontrol.


***


Dirumah sakit ,,🏥


Saat ini perawat sedang memeriksa si kembar dalam ruang IGD.


Marsya, ayah dan ibu nya berdiri diantara ranjang keduanya, menatap cemas penanganan yang sedang dilakukan oleh perawat dan juga dokter untuk keduanya. Setelah impuls sudah terpasang. Dokter mulai mendekati orang tua Marsya.


"sudah berapa hari demam seperti ini". Tanya buk dokter kepada ibu


"sudah hampir seminggu". Jawab ibu memperkirakan


"bunda , kondisi anak bunda sekarang demamnya sangat tinggi, Segeralah ke rumah sakit dan masuk IGD untuk mendapatkan penanganan tim medis bila terjadi hal seperti ini". Tutur dokter kepada ibu dan juga ayah


"apa yang terjadi dengan anak-anak saya buk dokter". Tanya ayah yang masih panik, walaupun keadaan kritis sikembar sudah dapat penanganan namun dia masih syok saat melihat kondisi sikembar yang kejang kejang.


"demam nya sudah terlalu tinggi pak". Ucap buk dokter.


Pertolongan Pertama pada Demam 38,8-40,5 Derajat Celcius, Mandikan anak dengan air hangat untuk membantu menurunkan suhu.". tutur dokter menjelaskan kepada ibu dan juga Ayah


"sudah Buk dokter, istri saya mengopres sikembar dengan air hangat siang dan malam, dan istri saya juga telah memberikan Obat penurun deman kepada keduanya". Ucap Ayah memberi informasi.


"baiklah". Jawab Buk dokter sambil tersenyum. Kemudian diga juga melirik marsya.


"si kakak juga salit, wajah nya pucat kali". Tanya dokter sambil meneliti wajah marsya yang memang ternyata terlihat sangat pucat. Ibu dan Ayah yang kaget resflek keduanya memeriksa suhu tubuh marsya mengecek keadaan anaknya.


"tidak demam". Ucap keduanya serental setelah mengecek kondisi marsya


"tidak Buk, saya culma kelelahan saja, karena berlari". Jawab marsya yang menyembunyikan kram diperut bawahnya.


dia terpaksa menyembunyikan keadaan nya biar tidak menambah beban kekhawatiran kepada orang tuanya .


"Duduk dulu". Ucap Buk dokter sambil menarik lembut tangan marsya. Dia sedikit memeriksa denyut nadi marsya. Buk dokter terlihat kaget dia memastikan kembali pemeriksaanya, kali ini dia memakai teleskop nya dia mengarahkan nya ke perut marsya. Setelah yakin dengan hasil pemeriksaanya, Buk dokter melepaskan teleskopnya. Dia memandang wajah marsya dan juga kedua orang tuanya. dia sedikit pendiam setelah memeriksa kondisi marsya. Kemudian dia menyentuh bahu marsya.


"jaga diri Baik Baik ya, jaga kesehatannya, jangan terlalu capek-capek dan stres". tutur Buk dokter dengan senyum misteriusnya. Marsya terlihat bingung dia hanya mengangguk saja.


"Apa Anak saya sakit". tanya Ayah, ibu dokter culma tersenyum dia hanya menggeleng pelan.


Ayah nampak mengerutkan dahinya, dia tidak puas dengan jawab dokter dan dengan kondisi marsya yang nampak pucat.


sikembar yang disebutkan nammaya, terlihat sudah tenang dalam tidur nya , tidak dengan kondisi tadi.


" sikembar demamnya terlalu tinggi , makanya terjadi kejang-kejang".


"kejang demam terjadi karena bangkitan kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.


Anak-anak harus dievaluasi jika ini adalah kejang pertama. Perawatan medis darurat diperlukan untuk kejang berulang atau yang berlangsung lebih dari 10 menit. kita akan merawat dulu keduanya, untuk melihat kondisi seterusnya. Sebaiknya untuk sikembar jangan dilepas dulu dari pengawasan, kalau terjadi kejang-kejang kembali, segera panggilkan tom medis". Tutur dokter sebelum dia meninggalkan ranjang keduanya.


Buk dokter kembali sekali lagi melirik marsya, dia tersenyum simpul ketika mata mereka beradu.


"krukkkkkk". Bunyi perut ketiga nya.


Mereka tersenyum sangking paniknya mereka lupa belum makan dari tadi siang , tadi Ayah belum sempat membelikan makan siang untuk mereka, ketika ibu keburu menelpon memberitahukan kondisi sikembar, Ayah langsung melaju pulang, semenjak si kembar sakit ibu tidak sempat memasak, dia benar-benar sibuk mengurus si kembar dan juga koper-koper mereka semua, kemudian Ayah menyarankan untuk membeli makanan luar saja untuk meringankan pekerjaan ibu, begitulah yang terjadi selama ini di Rumah marsya.


"baiklah, Ayah beliin makanan dulu". Ucap Ayah sambil tersenyum simpul


Belum sempat Ayah melangkahkan kakinya untuk pergi, seorang perawat memghampiri keluarga marsya.


"Pak, harap untuk segera mengisi administrasi nya dulu ya". Ucap perawat itu, lalu mempersilahkan Ayah mengikutinya.


Ayah mengangguk kemudian menoleh kebelakang,


"marsya tolong gantiin Ayah belikan makanan buat kita ya". Perintah Ayah, sambil memberi kan uang ke tangan marsya, kemudian berlalu pergi mengikuti arahan perawat.


"buk, marsya pergi dulu ya". Panik marsya hendak pergi


"ini hawa HP ibu, kalau ada apa-apa biar mudah ibu hubungi". Ucap ibu sambil menyarankan telepone genggamnya.


"huh". Terdengar lenguhan kedua sikembar, mereka terlihat sudah terbangun dari tidurnya


"kalian sudah bangun nak". Pekik ibu senang sambil memegang tangannya.


"Haus" ucap keduanya serempak, ibu dan Marsya tersenyum, kemudian mereka berdua membantu keduanya untuk minum.


"mau duduk". Tanya ibu pada keduanya.


Mereka mengangguk tanda setuju, baik ibu dan Marsya mereka dengan singgap membantu kedua nya untuk duduk.


"masih pusing". Tanya ibu kembali


"sedikit buk". Jawab keduanya singkat. Kemudian mereka nampak kaget ketika melihat keberadaan mereka, sepertinya mereka baru sadar sedang tidak berada dirumah.


"ini dimana buk". Tanya keduanya


"kita dirumah sakit nak". Ucap ibu lembut sambil duduk di tengah-tengah keduanya, dia memposisikan kursi berada diantara ranjang keduanya.


Melihat kondisi sikembar telah baik-baik saja dan ayah pun sudah kembali, Marsya terus pamit dari ibunya untuk membeli makanan mereka. Marsya terus berlari mengejar lift. yang akan segera tutup.


"Marsya". Pekik seseorang menahan liftnya.


"Mas Ahmad". Pekik Marsya manja tanpa peduli sekeliling dia telanjur bahagia berjumpa Ahmad, dia langsung menghambur memeluk tubuhnya.


"ekhem". terdengar deheman orang-orang dalam lift yang menegur keduanya.


"ekhem, sayang lepas dulu". Ucap Ahmad yang padahal tadi terbuai juga dengan pelukan Marsya, namun karena suara deheman itu membuatnya malu.


"mas kok pakai baju kantor sih kerumah sakit". Tanya Marsya kemudian


"mas tadi bantuin teman mas yang pingsan saat meeting, mas bawa kesini". jawab Ahmad sambil menatap penuh sayang pada Marsya, yang tetap tidak melepaskan tangannya di pinggang Marsya.


"ekhem". Suara deheman itu terdengar kembali.


"kenapa sih kan gak pelukan lagi". Sewot Marsya sama bapak-bapak disamping Ahmad.


"hehehehe senyum Ahmad tidak enak , sambil menggaruk-garuk kepadanya


"gak mau kenalin kita nih Ahmad". Ucap bapak yang berdehem itu kemudian


"ini atasan mas dan ini teman-teman kantor mas, sayang". Ucap Ahmad yang sudah terbiasa memanggil Marsya sayang, lidahnya udah sangat terbiasa saja, bukan tidak malu, karena otaknya sudah terbiasa memanggil sayang ketika berbicara dengan Marsya. Kecuali dia panggil ya.


"Hay sayang". Sapa semuanya, membuat Marsya malu dan menundukkan wajahnya memerah akibat digoda oleh kolega Ahmad,


Ting suara pintu lift. Kemudian dengan cepat Marsya mencoba menghindari semuanya, dia mempercepatkan langkahnya, dengan wajah yang memerah, sedangkan kawan2 Ahmad terlihat tersenyum puas kala berhasil menggoda pacar Ahmad.


Ahmad terlihat bingung antara ingin mengejar atau tidak, dia tidak enak dengan atasannya.


"sudah kejar aja dulu, nanti kami tunggu di kantor". ucap atasannya memberi ruang sambil tertawa, Ahmad tersenyum sumringah lalu berlari mengejar Marsya.


"baru kali ini lihat si kaku itu tidak kaku hahahaha". Ucap teman Ahmad mengejek


"kirain gak punya pacar tuh bocah, ternyata cantik banget pacarnya, imut imut gemesin lagi hahaha". Tutur teman nya yang lain,


"husfff punya Ahmad tu". Tegur satunya lagi


"siapa bilang punya aku, tapi kalau dia mau, aku mau sih hahahah". Semua pun serentak tertawa.


"Ahmad". Gumamnya bingung sambil menarik napas nya berat. Dia sebenarnya ingin tegur ketika didalam lift tapi dia kaget ketika tiba-tiba seorang gadis masuk dan memeluk tubuh Ahmad.