
"mas". panggil ibu lirih lalu kemudian dia terus berlari membawa serta Marsya menghampiri suaminya.
sangat kentara terasa percikan api permusuhan diantara keduanya.
Arsyad nampak memasang mimik muka yang siap menyerang, namun hal itu terhentikan oleh seorang bocah kecil yang berlari manja kearahnya.
"papa, papa". panggil balita itu sambil berlari ke Arsyad, Arsyad langsung menoleh anak gadis nya lalu langsung menggendong anaknya sayang. setelah itu dia memandang sekilas kearah keluarga Marsya sebelum akhirnya dia mengikuti mau anaknya yang menunjukkan rak rentetan boneka.
ibu nampak menarik nafas lega, ayah masih bersi tegang, ibu melirik ayah dia menggenggam tangan ayah, terlihat mereka tidak mengucapkan apapun namun mata mereka saling memandang sesampai akhirnya ayah mengedipkan matanya mengisyaratkan dia sudah baik-baik saja.
Marsya masih terlihat pucat ditempat, banyak pertanyaan yang bersarang dalam pikirannya saat ini, namun dia tidak berani mengungkapkan maksudnya pada orang tuanya, dia memandang mereka yang nampak saling menguatkan satu sama lain.
"kamu tidak apa-apa nak". tanya ayah lembut, muka nya nampak sangat bersalah menatapnya, Marsya tidak menjawab apa-apa dia hanya menggelengkan kepalanya saja.
"ayah buk, Marsya ke taolet bentar ya". pamit Marsya ke orang tuanya.
"iya, nanti ayah ibu tunggu aja Marsya ditempat makan, Marsya nyusul kesana aja". sambung nya lagi maka nya menampakkan senyumnya.
"iya, jangan lama-lama ya ". ucap ibu nya lalu melangkahkan kakinya ketika menoleh kearah troly belanjaannya.
***
Di taolet
Marsya menatap dirinya di cermin dia memperhatikan setiap inci wajahnya.
"Hidung mancung ayah, mata hijau ayah, alis tebal ayah, bibir tebal cetakan ayah eh gak deh ayah gak ada belahan dibibir bawahnya". ucap Marsya mengabsen setiap inci wajahnya yang memang seperti versi cantik ayahnya.
"hehehe". gelak seseorang memperhatikan tingkah Marsya.
Marsya melirik pada wajah orang yang sudah menertawainya.
"eh maaf, habis kamu gemesin". ucap seorang wanita dewasa yang berdiri sambil merapikan tatanan rambutnya.
Marsya hanya tersenyum menimpali permintaan maaf wanita itu.
"ayah kamu bule ya". tanya wanita itu kepo.
"bisa di bilang gitu Tante, bule lokal tepatnya". jawaban Marsya kembali membuat wanita itu tertawa.
"jadi Tante kenapa bisa absen wajahnya sampai segitunya".tanya nya kembali.
"hmm". Marsya mendehem dia bingung harus menjawab apa,
"kamu gak mau mirip dengan ayahmu". tanya wanita itu kembali dengan wajah tersenyum.
Marsya membalas senyum wanita itu pikiran nya terus larut kembali memikirkan ucapan ayahnya semalam,
"kenapa ibu membenci wajah ini, dan kenapa lelaki itu pun membenciku karena wajahku sama mirip dengan ayahku, seseorang beri aku jawaban". bingungnya sambil membatin dalam hati
"eh dek". sapa wanita itu sambil menyentuh pundak Marsya, Marsya tersentak kaget lalu kemudian dia nampak salah tingkah memainkan rambutnya.
kemudian dia kembali melirik wanita yang disebelahnya saat dia menyadari wanita itu masih tersenyum manis memandang nya.
"Tante kenapa". tanya Marsya kemudian
"wajah kamu cantik banget, Tante suka lihatin nya, kalau tadi kamu gak ngomong, Tante kirain kamu bule Spanyol". ucap wanita itu
Marsya dan wanita itu kembali tergelak saat mendengar pernyataan wanita itu yang menyebutnya bule spanyol.
"Tante duluan ya cantik". ucap wanita itu lalu keluar dari taolet Marsya melambai sambil tersenyum ramah menatap kepergian wanita itu.
"Anak Haram". pikir Marsya terlintas dibenaknya saat dia kembali mengingat perkataan lelaki tadi. hati nya tiba-tiba terasa perih dia menggenggam dadanya, terasa sesak disana, dia menatap dirinya kembali di cermin.
"benarkah, benarkah aku anak Haram". suara Marsya bergetar saat mengucapkan pernyataan itu dia meneteskan air matanya saat kenyataan pahit itu harus dia alami.
***
Di Kafe...
"Arsyad memang keterlaluan". ucap ayah Marsya geram
"mas sudahlah". ucap ibu sambil membantu si kembar mengupas udang.
"tidak bisa Delia, mas gak terima dia memperlakukan Marsya seperti itu". ucap ayah Arsyad geram.
"mas, tadi Marsya dengar loh". ucap ibu sedikit ragu
"dengar apa". tanya ayah sambil menatap ibu lekat.
"Arsyad menyebutkan Marsya hmmm". ucap ibu yang sambil menggigit bibir bawahnya. kemudian dia menghentikan ucapannya ketika melihat Marsya dibelakangnya.
ayah yang masih menatap wajah ibu lekat, seakan mengerti apa yang akan disampaikan istrinya. wajah ayah nampak pucat, dia terasa gerah tiba-tiba ayah langsung meneguk habis airnya, matanya terlihat sangat kebingungan.
Marsya melihat ayahnya aneh, dan melihat ibunya yang tersenyum pahit menyapanya.
tak ada pembicaraan yang serius terjadi disana, Marsya ibu dan ayah seakan bungkam terhadap apa yang telah terjadi, hanya terdengar celotehan si kembar yang bermain dan bercanda tanpa memahami yang terjadi disekitarnya. Marsya terlihat semakin panik dengan pikirannya, makanya terasa hambar walaupun dia paksakan menghabiskannya.
"Marsya". panggil ayah kemudian
"Om tadi itu teman ibumu dulu". ucap ayah nya nampak mencoba menjelaskan
"teman". tanya Marsya memastikan
"iya om tadi itu teman dekatnya paman Zaki dulu, jadi teman ibu juga". ucap ibu menjelaskan, seakan kompak membicarakan topik yang sama dengan ayah.
"teman, Marsya tidak se polos itu buk ayah, untuk tidak mengerti itu bukan hubungan sekedar pertemanan". batin Marsya
"terus kenapa dia marah sama kita buk". tanya Marsya lagi.
"itu karena dia gak suka ayah". ketus ayah Marsya geram.
"sudahlah Marsya jangan kepo lagi, intinya dia itu marah sama ayah". ucap ayahnya geram lalu melirik kesal wajah ibunya. seakan masa lalu berlari-lari dipikiran mereka.
"marah kenapa". tanya Marsya semakin kepo
"ya marah lah dia gak jadi nikahin ibu kamu tuh". ucap nya dengan bangga lalu dia tertawa ibu terlihat menunduk, Marsya menyengit bingung.
"soalnya ayah selip dia di tikungan".sambung ayah lagi dia menyeringai menggoda ibu.
"MAS". pekik ibu sambil mencubit tangan ayah, yang dibalas dengan tawa oleh ayah.
Marsya seperti menonton lelucon didepan matanya, ayah ibu nya kenapa berubah seromantis ini, sejak kapan ini terjadi, keluarga mereka berubah menjadi lebih hangat, Marsya yang masih beradaptasi terlihat lirih dengan keintiman orang tuanya. dulu mereka sama-sama saling acuh tak acuh, malah terlihat dingin dengan salah satunya, dan setiap hari ibu nya selalu seperti akan membunuhnya ketika dia berada dirumah.
"kenapa dengan kalian". tanya Marsya bingung, dia menatap intimidasi kepada kedua orang tuannya.
ibu dan ayah seketika menghentikan tawa mereka yang seakan asyik sendiri. mereka kompak memandang Marsya lalu mulai kompak pula menunggu penjelasan Marsya.
" ini seperti bukan ayah ibu yang Marsya kenal, kalian terlihat aneh, Marsya jadi merinding melihatnya". ucap Marsya jujur sambil mengidik ngeri.
"kamu tidak suka lihat ayah dan ibu bahagia". tanya ayah kemudian
"bukan, bukan itu maksud Marsya". balas Marsya cepat.
"maksud Marsya kenapa ayah ibu gak kek dulu lagi ya". tanya ayahnya kembali
Marsya mengangguk.
"soalnya ibu sudah memaafkan ayah". jawab ayah seadanya lalu menggoda ibu.
"apa sakit ibu serius". tanya Marsya khawatir sambil menatap sedih wajah ibunya
ayah menggenggam tangan ibu dia menguatkan istrinya,
"penyakit ibu masih bisa disembuhkan kok nak". ucap ayahnya sambil menatap mesra ibunya. ibu nampak tersenyum membalas tatapan ayah.
"kamu fokus belajar ya, biar ayah fokus temani ibu, jangan bandel-bandel lagi, lupakan semua yang sudah terjadi, ayah harap kamu dapat memaafkan semua sikap keegoisan kami dulu, ayah dan ibu butuh waktu untuk saling menerima dan memaafkan, kucing-kucingan kami sudah berakhir sekarang ayah harap kita semua baik-baik saja, iya kan buk". ucap ayah panjang lebar lalu dia melirik kearah ibu.
Marsya akhirnya dapat tersenyum syukur, walaupun masih banyak tanda tanya yang tidak dicoba luruskan oleh kedua orang tuanya, Marsya seakan memaksa membuang semua prasangka negatif itu, akhirnya mereka menikmati hari ini penuh dengan kebahagiaan.